Karya: Novy Amalia Hasanah *)
Syela adalah seorang gadis cantik yang sangat menyukai hal-hal yang bisa disebut “tidak berguna”. Sama halnya dengan gadis-gadis lain seusianya, dia menyukai idol K-pop yang menjadi kegemaran banyak remaja di dekade ini.
Taraf ekonomi keluarganya bisa disebut kalangan menengah ke bawah. Dia hanya hidup berdua dengan ibunya yang bekerja sebagai kasir di toko temannya.
“Syel, Ibu mau berangkat kerja. Kamu jangan lupa sarapan, ya.”
“HM,” jawab Syela singkat.
Setiap hari, ibu Syela berangkat bekerja pukul 05.00 pagi. Di sela-sela waktu istirahat pada pukul 16.00, ibunya selalu menyempatkan pulang untuk memasak makan malam bagi Syela. Setelah itu, ia kembali lagi ke toko untuk bekerja hingga pukul 22.00 malam.
Baca Juga
Di sekolah
“Syel, lo tadi sarapan pakai apa?” tanya salah seorang teman Syela yang baru saja turun dari mobil Rolls-Royce-nya.
“Gue sarapan pakai smoothie aja sih, soalnya gue di rumah lagi sendiri,” jawab Syela tanpa ragu.
Di sekolahnya, Syela terkenal sebagai gadis kaya yang memiliki rumah seluas puluhan hektar. Dikabarkan bahwa kedua orang tuanya bekerja di luar negeri dan tidak pernah pulang sejak Syela kecil.
Kebohongan-kebohongan itu ia lakukan demi memiliki banyak teman. Ia sering dikerumuni oleh gadis-gadis kaya yang berlomba-lomba ingin berteman dengannya.
“Syel, besok kan akhir pekan. Lo nggak mau ke mana-mana?” tanya Ghea, sahabatnya yang merupakan putri tunggal pemilik pabrik mobil terbesar di sana.
“Kalau akhir pekan kayaknya gue sibuk sih, Ghe. Gimana kalau lain kali aja?” jawab Syela.
“Kok lo selalu gitu sih? Setiap gue ajak keluar akhir pekan pasti nolak,” kata Ghea.
“Bukannya gue nggak mau, tapi gue beneran sibuk, sumpah,” ujar Syela.
“Serah lo aja deh. Jangan bilang kalau lo nggak punya uang.”
Ghea pun pergi meninggalkan Syela tanpa sepatah kata pun.
“Eh… Ghe…” panggil Syela pelan.
Di rumah
“Syel, makan dulu gih. Ibu sudah masak di dapur. Sekarang Ibu mau berangkat ke toko lagi. Nanti malam ada uang lembur tambahan katanya,” ucap Mazaya sambil merapikan barang-barangnya.
“Kan Ibu dapat uang lembur, beliin aku photocard, gih. Kalau enggak, aku nggak mau sekolah besok,” kata Syela.
“Tapi uang tambahannya cuma sedikit, Syel. Itu juga buat biaya sekolah kamu,” jawab ibunya.
“Ah, bilang aja Ibu nggak mau beliin. Pokoknya kalau nggak mau ngasih photocard, semua uangnya kasih ke aku. Aku mau main bareng Ghea weekend di mall.”
“Kamu kenapa sih nggak jujur aja sama Ghea kalau kita ini bukan orang kaya?”
“Ya nggak lah, Bu! Kalau Syela bilang gitu, nanti nggak ada yang mau temanan sama Syela. Lagian, Ibu kenapa harus lahirin Syela kalau nggak sanggup ngebiayain?”
Kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa ia pikirkan. Syela selalu merasa kasihan pada dirinya karena terlahir tanpa ayah dan tidak seperti remaja lain yang bisa menghambur-hamburkan uang orang tua mereka.
Syela adalah gadis yang keras kepala dan selalu merasa kurang dengan hidupnya. Ia tidak pernah menyadari bahwa ia bisa bersekolah di SMA SMARA berkat perjuangan ibunya yang bekerja dari pagi hingga malam.
Dulu, Mazaya adalah siswi yang cantik dan pintar di SMA SMARA. Kini, anaknya yang bersekolah di sana. Karena tidak mampu membiayai pendidikan seorang diri, Mazaya menggunakan beasiswa yang dulu pernah ia peroleh untuk membiayai sekolah Syela.
Keesokan harinya
Syela terbangun dan menemukan surat di samping tempat tidurnya.
“Syel, Ibu lagi cari kerja sampingan. Uangnya ada di lemari. Yang di sebelah kanan sudah Ibu sisihkan buat kamu. Jangan ambil semua, ya, itu juga buat makan kita.”
Syela langsung tersenyum dan bergegas membuka lemari.
Di sana ada uang Rp700.000.
“Uang segini mau buat apa kalau jalan sama Ghea? Ah, ambil yang satunya aja.”
Ia melihat uang Rp10.000.000.
“Sudah ah, ambil saja semuanya. Pasti Ibu masih punya simpanan lain.”
Syela mengambil seluruh uang itu tanpa menyisakan satu rupiah pun.
Di sekolah
“Ghe… jangan ngambek dong. Iya, gue ikut lo akhir pekan. Kita mau ke mana?”
Ghea langsung ceria.
“Sebenernya gue mau ngomong sesuatu,” kata Ghea.
“Apa?”
“Kartu kredit gue diblokir Papa karena gue nggak masuk 10 besar. Jadi gue mau weekend bareng lo biar lo yang bayarin,” ujar Ghea sambil tertawa.
Mereka pun sepakat pergi ke Pacific Place Mall.
Di sana mereka berbelanja, makan, dan bersenang-senang. Syela membeli banyak photocard dan barang-barang K-pop mahal.
“Syel, ayo beli tas Palomino,” ajak Ghea.
“Palomino?” tanya Syela bingung.
“Iya, itu brand tas lokal.”
“Oh iya… gue agak lupa,” jawab Syela terbata-bata.
“Lo kok dari tadi kayak nggak pernah lihat dunia sih?” tanya Ghea.
“Gue… sebenernya…” kata Syela terhenti.
“Jangan-jangan lo nggak pernah ke mall Jakarta, ya? Pasti sering ke luar negeri!” tebak Ghea penuh semangat.
Malam harinya
“Astaga… enak banget seharian habisin uang. Baru beberapa jam saja sudah habis Rp10.000.000,” gumam Syela sambil rebahan.
Ia tertidur lelap tanpa membereskan barang belanjaannya.
Keesokan harinya:
“Maa… Maa… Syela lapar…” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba terdengar keributan dari belakang rumah. Syela keluar dan melihat kerumunan warga.
“IBUK!” teriaknya ketika melihat ibunya sudah terbaring tak bernyawa.
Flashback
Mazaya berangkat pukul 04.00 dini hari untuk mencari pekerjaan sampingan. Di tengah jalan, ia bertemu sekelompok berandal yang merampas uangnya. Karena menolak, ia menjadi korban.
Para berandal itu dikenal kejam dan sering meninggalkan korban di belakang rumah Syela sebagai peringatan.
Kembali ke masa kini
Syela hanya bisa menangis menyadari bahwa kebahagiaan yang ia nikmati kemarin adalah hasil pengorbanan ibunya.
Akhir cerita
“Ghe, gue mau ngomong sesuatu,” kata Syela.
“Gue sudah tahu. Lo jahat banget sudah ngelakuin itu sama ibu lo sendiri. Mulai sekarang kita nggak usah temanan lagi,” jawab Ghea.
*) Karya Siswi MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


