Rehat Sejenak

Oleh : Sahroni, S.Pd.I., M.Pd *)

Sudah maklum setiap pergantian tahun baru, banyak manusia di belahan dunia merayakannya dengan beragam kegiatan mulai hanya sekedar menunggu detik-detik pergantian tahun pada jam 00.00, pesta kembang api yang meriah, bakar-bakar ikan dengan keluarga di tepi pantai dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang menyambut dengan menggelar doa bersama dan istighotsah.

Namun kadang banyak yang tidak sadar bahwa dengan bertambahnya tahun, berarti jatah umur manusia di dunia ini semakin berkurang. Manusia semakin dekat dengan kematian sebagai jembatan untuk memasuki gerbang kehidupan yang lebih panjang dan abadi.

Dalam memasuki tahun 2022 yang masih hari ke empat ini, kiranya kita perlu rehat sejenak dari seluruh aktivitas rencana yang telah kita susun dan kita harapkan tercapai dalam setahun ke depan. Rehat dan mengambil jeda dalam rangka mengevaluasi diri (muhasabatun nafsi) atas segala capaian yang telah kita raih, Apakah proses yang telah kita lalui sudah sesuai dengan prosedur dan tata cara yang benar. Kalaupun ada yang belum tercapai, apakah yang menjadi kendala dan bagaimana solusinya.

Baca Juga :

REORIENTASI GURU DALAM PANDANGAN AL-GHAZALI (REFLEKSI HARI GURU NASIONAL 2021)

Sebagai seorang mukmin, kita seyogyanya mengikuti petunjuk dan bimbingan dari Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an. memerintahkan kita agar senantiasa melakukan evaluasi dalam berbuat apapun khususnya dalam ibadah dan amal shalih. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita agar dalam melakukan pekerjaan dan tugas apapun harus diawali dengan rasa takwa kepada Allah dan diakhiri dengan perintah bertakwa kepada Allah. Pekerjaan apa pun dan amanah yang kita emban harus dimulai dan diakhiri dengan takwa kepada Allah. Karena hanya dengan takwa kepada Allah, seseorang tidak akan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan dan kesenangan pribadi. Dalam menjalankan tugasnya dia akan merasa selalu diawasi oleh Allah. Karena dia sadar bahwa seluruh perbuatannya diketahui oleh Allah swt (Khabir).

Orang yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah akan senantiasa mengevaluasi diri sendirinya, sehingga tidak sempat untuk mencampuri urusan orang lain apalagi turut mengevaluasi kekurangan dan kesalahan orang lain. Dia fokus pada pekerjaan dan tugasnya serta berikhtiar dengan aksi nyata untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin. Dia sadar bahwa amanah yang diembannya tidak akan terwujud hanya dengan berangan-angan belaka.

Pribadi-pribadi seperti di atas itulah yang disebut sebagai orang yang cerdas oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya.

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

”Orang yang cerdas adalah yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian (masa depan). Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah Ta’ala“. (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah).

Karenanya, evaluasi diri (muhasabah) adalah sebuah keharusan sebelum mengevaluasi orang lain sebagamana pesan Khalifah Umar bin Khaththab. “Koreksilah dirimu sebelum dikoreksi oleh orang lain.”

Sempatkanlah diri kita untuk bermuhasabah diri. Luangkan waktu sejenak dari segala hiru pikuk kehidupan dunia untuk mencari kesalahan dan kekurangan diri secara jujur. Jika engkau seorang pemimpin, evaluasi program kerja yang telah dilaksanakan atau yang belum terlaksana di lembaga anda. Petakan apa hambatan dan tantangan dan bagaimana solusinya. Kalau anda ingin meniru lembaga lain yang sudah di atas anda, jangan segan-segan untuk berdiskusi dan berkolaborasi. Buanglah jauh-jauh rasa gengsi. Tirulah cara kerja mereka dalam menjalankan organisasi. Karena tidak ada salahnya kita meniru peta jalan dan cara kerja orang lain dalam mencapai kesuksesan., sbagaimana disebutkan dalam sebuah syair Arab.

تشبهوا بالرجال ان لم تكون مثلهم ان التشبه بالرجال فلاح

Serupailah mereka jika kamu tidak sama seperti mereka. Sesungguhnya menyerupai orang-orang yang mulai adalah sebuah kebahagiaan.

Ala kulli hal…evaluasi diri, perbaiki diri, kejar ketertinggalan dan jangan pernah gengsi.

Mari di tahun 2022, kita mulai lembaran baru dan penuhi dengan semangat baru semangat bersinergi dan berkolaborasi. Buatlah program kerja yang jelas yang pasti dan membumi. Bangun teamwork yang solid. Bangun komunikasi yang baik dan efektif. Berikan tugas sesuai dengan potensi masing-masing. Insyaallah akan terbangun organisasi yang kokoh dan kuat serta berkualitas. Semoga….

*) Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.