Hari raya adalah hari yang penuh kebahagiaan. Setelah sebulan berpuasa, menahan diri, dan memperbaiki hati, akhirnya kita sampai pada hari kemenangan. Takbir berkumandang, wajah-wajah berseri, dan langkah kaki menuju tempat shalat dipenuhi rasa syukur.
Di tengah suasana itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan satu sunnah yang tampak sederhana, namun menyimpan makna yang dalam.
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
“Apabila hari raya, Nabi ﷺ menempuh jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang).”(HR. Ibnu Majah)
Sepintas, ini terlihat seperti kebiasaan biasa—pergi melalui satu jalan, pulang melalui jalan yang lain. Namun dalam setiap sunnah Rasulullah ﷺ, selalu ada hikmah yang bisa kita renungkan.
Baca Juga
Para ulama menjelaskan bahwa dengan melalui jalan yang berbeda, Rasulullah ﷺ ingin memperluas jejak kebaikan. Lebih banyak langkah kaki yang tercatat sebagai ibadah. Lebih banyak tempat yang menjadi saksi bahwa kita pernah berjalan menuju ketaatan.
Bayangkan, setiap langkah menuju shalat Id adalah amal. Setiap jalan yang kita lalui akan menjadi saksi di hadapan Allah. Maka dengan memilih jalan yang berbeda saat pulang, seakan-akan kita menambah saksi atas kebaikan yang kita lakukan.
Selain itu, sunnah ini juga memperluas jangkauan kebahagiaan. Kita bisa bertemu lebih banyak orang, saling memberi salam, saling mendoakan. Hari raya bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang berbagi kebahagiaan dengan sebanyak mungkin orang.
Ada juga makna yang lebih dalam—seolah-olah hari raya adalah titik perubahan. Kita tidak kembali dengan “jalan yang sama” seperti sebelumnya. Ramadan telah mengubah kita. Kita pulang dengan hati yang baru, dengan semangat yang berbeda, dengan niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Pergi dengan satu keadaan, pulang dengan keadaan yang lebih baik.
Bukankah itu makna sejati dari Ramadan?
Sunnah ini mengajarkan bahwa bahkan dalam hal yang sederhana, ada ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak harus selalu dengan ibadah yang besar. Kadang, langkah kecil yang kita lakukan dengan niat mengikuti Rasulullah ﷺ justru memiliki nilai yang besar di sisi-Nya.
Maka ketika hari raya tiba, dan kita melangkah menuju tempat shalat, ingatlah sunnah ini. Jika memungkinkan, tempuhlah jalan yang berbeda saat pulang.
Bukan sekadar berbeda arah, tetapi juga sebagai simbol bahwa kita ingin menjadi pribadi yang berbeda—lebih baik, lebih bersih, dan lebih dekat kepada Allah.
Karena Ramadan seharusnya tidak hanya mengubah hari-hari kita, tetapi juga arah hidup kita.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


