Yang Penting Terbang Bukan Yang Penting Jalan

Oleh. M. Bakiruddin, S.H. *)

Kemarin sempat bertemu dengan salah seorang guru dan kebetulan sangat akrab sekaligus kami sering berbagi cerita dan prinsip hidup. Di saat itu, kami sedang membahas persoalan dawuh ulama’ karismatik; K.H. Maimun Zubair yang berberbunyi “jadi guru itu jangan niat memintarkan orang, nanti kamu akan marah-marah saat melihat muridmu tidak pintar, dan ikhlasnya akan hilang…….dst. menurutnya (karib saya) mengajar itu yang penting jalan, jika kita terlalu ambisius, maka keikhlasan akan sirna dan hilang, sekaligus akan berujung pada kekecewaan jika ada kegagalan. Lantas saya menanyakan lebih lanjut kepadanya “berjalan nya itu dalam kondisi merangkak, santai, atau dalam keadaan lari?, soalnya berbeda antara mengajar yang prinsipnya jalan merangkak, lari dan santai saja. Jika merangkak maka lambat, kalau lari maka cepat”. Dari sini dia terdiam sehingga memberikan saya banyak waktu untuk menjelaskan bagaimana seharusnya menjadi guru yang sebenarnya.

Baca Juga

KRITIK UNTUK PENGKRITIK PESANTREN

Pada dasarnya semua orang memiliki cita-cita dan target tersendiri untuk anak didiknya. Jika memang dalam mengajarnya hanya berkomitmen pada prinsip yang penting berjalan, otomatis guru tersebut sudah tidak mengindahkan murid-muridnya, apakah muridnya memahami penjelasan atau hanya haho-haho mendengarkan namun hanya terbesit di telinga tidak ber-efek pada nalar. Guru memiliki prinsip masing-masing, begitu juga murid. Seorang guru harus berprinsip berusaha menyajikan materi semudah mungkin sehingga anak didik mampu mengaksesnya. Sedangkan prinsip anak didik ialah berusaha memahami seluruh apa yang dijelaskan oleh gurunya. Indah bukan, Jika antara pengajar dan pelajar prinsipnya searah dan sejalan?. Murid ingin tau, sedangkan guru ingin memberi tau. Tapi prinsip seperti ini sudah musnah dan tenaga pengajar mengajarnya hanya dijadikan formalitas (yang penting jalan) seraya berdalih dawuh Kyai Maimun Zubair diatas.

Sebenarnya guru yang karakternya seperti ini bukan sejatinya mengikuti dawuh Kyai, namun dawuh Kyai dijadikan pembenaran terhadap kemalasannya untuk berusaha semaksimal mungkin menyajikan materi mudah, akurat, dan berkualitas.

Guru yang semacam ini telah akut terjangkit virus action bias dengan artian bertindak namun tidak ada target yang pasti, bergeraknya hanya dijadikan formalitas. Tipe yang seperti ini bukan hanya tindakannya yang bermasalah tapi nalarnya juga bermasalah karena selalu berasumsi bahwa bergerak dan bergerak lebih baik, padahal dia tidak mengerti bahwa geraknya tidak berkualitas. Yang sehat akal maka prinsipnya ialah bergerak jika lebih bermanfaat dari diam, dan diam jika lebih bermanfaat dari bergerak.

Guru yang prinsip mengajarnya PENTING JALAN sama dengan dokter yang menangani pasiennya dengan prinsip yang penting memberi obat. Boro-boro bisa menyembuhkan, adanya membunuh karena tindakannya dalam memilih obat tidak disesuaikan dengan kondisi yang sedang di alami oleh pasien. Guru sama dengan dokter, ketika dokter bertugas mengobati cacat fisik pasien, maka guru bertugas mengobati cacat rohani murid dari kebodohan.

Opini saya; daya peserta didik saat ini dalam aspek ilmiyyah sangat lemah, sehingga terlalu membosankan kepada mereka jika seorang guru terus-menerus memaksakan mereka memahami penjelasan yang sulit. Di era ini seharusnya menjadi guru jangan memiliki prinsip yang penting JALAN, ya… boleh saja prinsip ini digunakan asalkan jalannya dengan cara lari. Namun akan lebih efektif jika prinsipnya adalah yang mengajar dengan prinsip yang penting TERBANG, jadinya cepat sampai pada tujuan. Dawuh Kyai Maimun Zubair tidak bisa dirujukkan pada prinsip penting jalan, namun tafsirannya ialah ketika mengajar maka harus ikhlas, jangan memiliki prinsip menjadikan anak didik sebagai orang yang menerima ilmu karena ini otoritas tuhan, tapi niatkan menyampaikan ilmu saja dan ini tugas kita. Tapi menyampaikan ilmu jangan lah asal-asalan dan berprinsip yang terpenting menyampaikan tanpa melihat proses seperti apa penyampaian nya. Ibarat persoalan kesehatan tubuh, Allah yang memberi kesehatan, tugas dokter adalah mengobati.  Apakah mengobatinya dengan asal-asalan? . Sama dengan persoalan hidayah (petunjuk), kita bisa menunjukkan tapi kita tidak bisa menjadikan orang tersebut menjadi penerima petunjuk.

*) Pembina Eskul Baca Kitab Kuning MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.