Sekolah Bukan untuk Selembar Ijazah

Oleh : Abdul Halim *)

Tahun ini, MTs. Miftahul Ulum 2 akan meluluskan siswa-siswinya untuk kali pertama sejak berdiri. Jika demikian berarti sudah umur MTs. Miftahul Ulum 2 sudah berumur tiga tahun. Masih dini, tapi bukan alasan untuk tidak percaya diri.

Tidak menjadi puas atas segala capaian sudah mendarah daging bagi seluruh civitas academicanya. Selalu asahlah diri setiap hari, begitulah komitmennya.

Salah-satu yang menjadi sebuah alat untuk selalu berproses itu, adalah sebuah program Dirosah Virtual di bulan Ramadhan ini. Dalam artian, setiap harinya akan ada pelajaran-pelajaran yang akan disuguhkan oleh guru-guru melalui akun resmi madrasah.

Di antaranya adalah Dirosah Virtual yang disampaikan oleh Kepala Madrasah. Setiap harinya, beliau akan membacakan kitab Ayyuhal Walad karya al-Ghazali.

Baca juga :

MI’RAJ RASULULLAH SAW : MIMPI ATAU TERJAGA?

Pada hari ketiga kajian beliau, penulis merasa bahwa penting sekali menuliskannya menjadi sebuah artikel supaya faedah yang luar biasa tersebut bisa lebih luas cakupan konsumennya.

Kajian dibuka dengan sebuah maqalah al-Ghazali yang berbunyi: النصيحة سهلة والمشكل قبولها. Artinya: Memberi nasehat itu mudah, yang rumit adalah menerimanya. Hal ini karena setiap orang sulit untuk mengendalikan ego dirinya sehingga nasehat kebenaran itu menjadi pahit baginya. Sehingga untuk membuat nasehat itu bisa diterima oleh pendengarnya adalah hal sulit.

Mengenai hal tersebut, Ustadz Sahroni mengutip ayat terakhir surat al-ashr, وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر. Bahwa menerima kebenaran nasehat itu sulit dan harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Sehingga beliau berpendapat bahwa memberi nasehat adalah hal yang sulit jika mau diterima pendengarnya. Harus disertai ilmu dan strategi yang jitu supaya mengena di hati pendengar. Tidak malah serta merta tegur sana-tegur sini tanpa berstrategi. Karena berdampak tidak diterimanya sebuah nasehat.

Beliau juga menyampaikan masalah yang terjadi di sekolah formal. Bahwa kebiasaan pelajar sekolah formal adalah lebih mementingkan ijazah daripada amal. Hal ini tidak boleh terjadi pada pelajar MTs Miftahul Ulum 2. Sebab bagaimanapun, tujuan ilmu adalah untuk diamalkan. Bukan untuk sekadar mencari pangkat dan gelar semata. Sehingga beliau berkata: Pelajar yang mendapatkan ijazah MTs, MA atau bergelar S1 bahkan Doktor tidaklah dikatakan sukses sebelum mengamalkan ilmunya. Karena fungsi daripada ilmu adalah amal. Sebagaimana fungsi senter untuk penerang jalan yang gelap. Percuma pegang senter kalau tetap tercebur ke jurang. Sehingga tidaklah pantas jika nanti siswa MTs 2 sudah merasa sukses karena lulus dengan nilai baik jika belum mengamalkan ilmunya. Istilahnya al-Ghazali, orang yang tidak mengamalkan ilmunya adalah maghrur/tertipu.

Setelah itu, kepala madrasah pun memberikan sebuah arahan kepada segenap guru, agar saat memberikan pelajaran, tidak hanya menjelaskan ilmu melalui perkataan melainkan juga tingkah laku. Sehingga benar-benar dapat digugu dan ditiru. Dawuh beliau: Ini adalah tanggung jawab intelektual bagi seorang guru.

Mengamalkan semua yang telah beliaukan tersebut memang tidak akan mudah. Tapi jika diamalkan dapat membuat sebuah sinergi guru dan murid yang akan menciptakan sebuah madrasah yang hebat lagi bermartabat.

*).Pembina Eskul Literasi MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.