Mi’raj Rasulullah saw : Mimpi atau Terjaga?

Oleh : Abdul Halim *)

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam Senin, tanggal 27 bulan Rajab, tahun ke-10 setelah kenabian. Isra’ adalah perjalanan Nabi Saw. dari Masjidil Haram, Makkah ke Baitul Maqdis, Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah naiknya Nabi Saw. dari Baitul Maqdis menuju Sidratil Muntaha. Sebagaimana yang telah tercantum dalam kitab Tanwirul Qulub, karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebuah tasliyah/hiburan bagi Nabi yang sedang berduka atas meninggalnya dua orang yang sangat berjasa dalam membantu safari dakwah beliau. Yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib. Dari sini pula, para ulama mengambil sebuah hikmah bahwa pesan tersirat dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah kembali kepada Allah swt. saat jiwa dirundung masalah dan duka.

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah-satu peristiwa yang wajib diyakini oleh orang islam. Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi menyebutkan bahwa tidak memercayai adanya isra’ bisa menyebabkan seseorang kafir/keluar dari agama Islam. Sedangkan apabila tidak memercayai peristiwa mi’raj bisa menyebabkan seseorang berstatus fasiq. Fasiq adalah sebutan untuk orang yang telah melakukan dosa besar walaupun hanya sekali atau orang yang melakukan dosa kecil secara terus-menerus dan tidak bertobat.

Baca Juga

ILMU PENGETAHUAN DI BALIK PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

Meskipun demikian, tidak semua kejadian dalam isra’ mi’raj itu disepakati ulama. Ada sebagian peristiwa yang terjadi dalam isra’ mi’raj yang menuai perbedaan ulama.

Salah-satunya adalah masalah perjalanan nabi ke Sidratil Muntaha dan melihat Allah swt. Ulama’ berselisih apakah kedua peristiwa tersebut terjadi secara mimpi atau nyata.

Ulama yang berpendapat bahwa peristiwa mi’raj dan melihat Allah swt. terjadi dalam mimpi adalah Sayyidah Aisyah dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Pendapat keduanya bisa saja benar adanya. Hal ini dikarenakan wahyu Allah swt. diturunkan kepada para nabi ada yang secara terjaga (bukan mimpi) dan ada pula yang melalui mimpi. Sebagaimana yang terjadi kepada nabi Ibrahim yang mendapatkan wahyu melalui mimpi saat diperintah menyembelih putranya yang bernama Ismail (ash-Shaffat 37:102).

Adapun Ulama yang berpendapat bahwa nabi mengalami peristiwa Mi’raj dan melihat Allah swt. secara terjaga adalah sahabat Abdullah bin Abbas ra. Hal ini menjadi jelas saat Ibn Abbas ditanya perihal dua masalah ini, beliau menjawab: “Benar (keduanya terjadi secara terjaga), sebagaimana Allah swt mengistimewakan Musa as. dengan kalam (berbicara langsung dengan Allah swt), mengistimewakan Ibrahim dengan gelar khalil, juga telah mengistimewakan Muhammad saw dengan bisa melihat Allah secara terjaga”.

Memandang adanya perbedaan tersebut, lalu kita harus memihak yang mana? Maka penulis merasa perlu untuk menyebutkan perkataan Ibnu Ishaq, Penulis Sirah Nabawiyah, bahwa Allah-lah yang maha tahu atas mana di antara kedua pendapat itu yang benar-benar terjadi, kita pasrahkan perkara ini kepada Allah swt. Sebab antara dua perbedaan pendapat tersebut sama-sama dapat dibenarkan dan mungkin saja terjadi tanpa menyalahi aturan syariat.

*) Pembina Eskul Literasi MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

One Reply to “Mi’raj Rasulullah saw : Mimpi atau Terjaga?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.