Oleh : Muhammad Faisol Ali, SH *)
Rabiul Awwal kembali menyapa. Sebuah bulan yang tidak sekadar berganti dalam kalender, tetapi membawa kita kembali kepada sebuah peristiwa yang mengubah wajah sejarah manusia: kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika nama beliau kembali sering disebut, shalawat kembali dilantunkan, dan kisah kehidupan beliau kembali dibaca di berbagai belahan dunia oleh ummat Islam. Sebab, bagi seorang mukmin, Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar tokoh yang hidup empat belas abad yang lalu. Beliau adalah teladan, pembimbing, pembawa rahmat, sekaligus sosok yang namanya kita harapkan kelak menjadi jalan menuju keselamatan.
Di tengah kegembiraan menyambut Rabiul Awwal, ada sebuah hadis yang seakan mengetuk pintu hati kita. Hadis yang sederhana, tetapi menyimpan harapan yang begitu besar
أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ ﷺ: مَتى السّاعَةُ يا رَسولَ اللَّهِ؟ قالَ: ما أعْدَدْتَ لَها قالَ: ما أعْدَدْتُ لَها مِن كَثِيرِ صَلاةٍ ولا صَوْمٍ ولا صَدَقَةٍ، ولَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ ورَسولَهُ، قالَ: أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ. (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kapan terjadinya Kiamat. Rasulullah ﷺ justru bertanya kepadanya:
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Laki-laki itu menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak bekal berupa salat, puasa, dan sedekah. Namun ia mengatakan:
“Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa lembut jawaban itu. Seakan Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan menuju akhirat bukan hanya tentang seberapa banyak amal yang dapat kita hitung, tetapi juga tentang kepada siapa hati kita berpihak dan siapa yang benar-benar kita cintai.
Tentu, salat tetap harus dijaga. Puasa tetap harus dijalankan. Sedekah, membaca Al-Qur’an, berbuat baik dan berbagai amal saleh tetap menjadi bagian penting dari kehidupan seorang mukmin. Namun, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ruh yang menghidupkan semua amal itu.
Sebab, ketika seseorang mencintai Nabi ﷺ, ia tidak akan puas hanya dengan menyebut namanya. Ia akan ingin mengenalnya. Ia akan membaca kisah hidupnya. Ia akan mempelajari akhlaknya. Ia akan berusaha mengikuti sunnahnya. Ia akan merasa malu ketika akhlaknya jauh dari akhlak sang kekasih Allah.
Cinta yang benar selalu ingin mendekat dan menyerupai yang dicintai.
Karena itu, Rabiul Awwal semestinya tidak berhenti pada kegembiraan sesaat. Ia seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:
Seberapa dekatkah aku dengan Rasulullah ﷺ?Apakah lisanku sering bershalawat, tetapi akhlakku masih menyakiti orang lain?
Apakah aku mengaku mencintai beliau, tetapi belum sungguh-sungguh mengenal kehidupannya?
Jika suatu hari nanti aku berdiri di hadapan beliau, apakah aku pantas mengatakan bahwa aku adalah umat yang mencintainya?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa berat. Namun justru dari sanalah refleksi bermula.
Kita mungkin bukan orang yang memiliki amal sebanyak para ulama. Kita mungkin masih sering lalai. Salat kita belum selalu khusyuk. Sedekah kita belum banyak. Puasa kita belum sempurna. Bahkan mungkin ada banyak dosa yang diam-diam kita sesali ketika malam tiba.
Tetapi jangan biarkan kekurangan itu membuat kita kehilangan harapan.
Sebab Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kabar gembira yang begitu luas: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
Maka mari kita rawat cinta itu.Jika belum mampu menjadi orang saleh seperti para kekasih Allah, setidaknya jangan berhenti mencintai mereka.
Jika belum mampu meneladani seluruh akhlak Rasulullah ﷺ, jangan berhenti belajar tentang akhlaknya.
Baca Juga
Jika amal kita masih sedikit, jangan berhenti memperbaikinya.
Dan jika hati kita masih jauh, jangan berhenti mengetuk pintu cinta dengan selawat.
Sebab boleh jadi, di antara begitu banyak kekurangan kita, Allah melihat satu cinta yang tulus kepada Rasul-Nya. Cinta yang membuat kita terus ingin berubah. Cinta yang membuat kita malu untuk menyakiti sesama. Cinta yang membuat kita ingin memperbaiki salat, memperindah akhlak, menjaga lisan, dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Itulah barangkali makna terdalam menyambut Rabiul Awwal dan memperingati Hari Kelahiran Rasulullah saw
Bukan sekadar memperingati tanggal kelahiran seorang manusia agung, tetapi menghidupkan kembali cinta kepada manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Rabiul Awwal mengajak kita untuk pulang kepada teladan.
Pulang kepada kelembutan Nabi ﷺ ketika menghadapi orang lain. Pulang kepada kesabarannya ketika disakiti. Pulang kepada kasih sayangnya kepada umat. Pulang kepada kesederhanaannya ketika memiliki kesempatan untuk hidup dalam kemewahan. Pulang kepada akhlaknya yang menjadi cermin dari ajaran Al-Qur’an.
Semoga Rabiul Awwal kali ini tidak hanya membuat masjid-masjid kita ramai dengan selawat, tetapi juga membuat hati kita lebih hidup.
Semoga selawat yang kita lantunkan tidak berhenti di bibir, tetapi turun ke hati dan menjelma menjadi akhlak.
Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi ucapan, tetapi menjadi jalan perubahan dalam kehidupan.
Dan ketika suatu hari perjalanan dunia ini berakhir, semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kabar paling indah itu:
“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
Ya Allah, tanamkan di dalam hati kami cinta kepada-Mu dan cinta kepada Rasul-Mu. Jadikan cinta itu sebagai kekuatan untuk memperbaiki diri, memperindah akhlak, memperbanyak amal, dan menebarkan rahmat kepada sesama.
Dan kelak, ketika kami tidak lagi memiliki apa-apa selain amal dan rahmat-Mu, jangan pisahkan kami dari Nabi Muhammad ﷺ.
Selamat menyambut Rabiul Awwal.. Selamat memperingati hari Kelahiran Rasulullah saw
Bulan ketika cinta kembali diingatkan.
Bulan ketika selawat kembali dilantunkan.
Bulan ketika hati kembali diajak mengenal sang kekasih.
Semoga cinta itu tumbuh di hati, hidup dalam akhlak, dan menjadi jalan bagi kita untuk berkumpul bersama Rasulullah ﷺ di surga-Nya.
*) Bendahara MTs MiIftahul Ulum 2 Bakid


