Eksplorasi Peristiwa Isra’ Mi’raj Melalui Pengetahuan

Oleh : Danang Satrio Priyono, S.Psi *)

Perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah Muhammad SAW di abad ke-7 Masehi silam tiada artinya jika kita kaum muslimin hanya sekedar melakukan seremonial peringatan peristiwa tersebut tanpa berusaha untuk memikirkan, mengasosiasikan, dan merefleksikan makna dibalik kalam Allah SWT yang tersirat sepanjang Isra’ Mi’raj ini berlangsung. Sebagaimana firman Allah, yang artinya: Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?“ Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin – (QS. Al Baqarah: 118).

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul: Ilmu Pengetahuan Di Balik Peristiwa Isra’ Mi’raj, penulis berupaya menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj yang tertulis di Al-Qur’an dan Hadits memenuhi dua komponen dari tiga komponen struktural dari tafsir, yaitu: sebagai upaya eksplorasi paradigma; dan sebagai pemahaman filosofis.

Baca Juga

ILMU PENGETAHUAN DI BALIK PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

Dikatakan sebagai eksplorasi paradigma, Al-Qur’an & Hadist adalah sumber ilmu sehingga dibutuhkan metodologi untuk memahami petunjuk-petunjuk yang telah Allah SWT tunjukkan dalam setiap kejadian yang tertulis di Al-Qur’an. Ilmu pengetahuan bergerak setahap demi setahap, sifat alamiah tersebut berkembang sejalan dengan peradaban manusia – pun dengan penggunaan bahasa kiasan, diksi yang bermakna, dan perumpamaan-perumpamaan. Misalnya dalam hal proses penciptaan manusia, Allah SWT berfirman yang artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptaka manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik – (QS. Al-Mukminun: 12-14). Dengan ayat ini kemudian para ulama bereksplorasi dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang dalam perkembangannya masuk ke ranah bidang biologi.

Sedangkan maksud sebagai pemahaman filosofis, peristiwa Isra’ Mi’raj adalah penanda diberlakukannya ibadah wajib sholat lima waktu bagi setiap muslim. Pemahaman filosofis tentang konsep beragama dan keilahian/keesaan ada pada ibadah sholat lima waktu ini. Firman Allah, yang artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan – (QS. Al Ankabut: 45).

Cukup banyak ayat Al-Qur’an dan Hadist menunjukkan pentingnya shalat lima waktu. Namun, yang menjadi gegar keimanan adalah sebagian muslim dapat menerima konsep keagamaan Islam dan keilahian/keesaan Allah SWT melalui perintah shalat, akan tetapi -masih- menyangsikan kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj yang padahal dari peristiwa itulah Rasulullah Muhammad SAW mendapatkan perintah langsung untuk mendirikan shalat dari Allah SWT (tanpa perantara, artinya Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah SWT). Dari sini eksplorasi paradigma melalui metodologi ilmu pengetahuan berperan untuk membuktikan, mengkonfirmasi, dan menjelaskan fenomena-fenomena yang melingkupi peristiwa Isra’ Mi’raj.

Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan bergerak setahap demi setahap, maka ilmu pengetahuan yang tepat untuk digunakan mengeksplorasi fenomena Isra’ Mi’raj adalah ilmu fisika. Teori-teori yang sudah berkembang dalam kaitannya untuk pembuktian, yaitu:

Teori Annihilation & Gelombang Elektromagnetik

Annihilasi yaitu proses rekontruksi sebuah materi menjadi sebuah gelombang. Ini dapat terjadi karena dalam setiap materi (zat) terdapat anti-materi yang apabila keduanya direaksikan/dipertemukan, keduanya akan menghilang dan berubah menjadi seberkas cahaya (sinar gamma). Pembuktian di laboratorium nuklir menunjukkan jika ada partikel proton dipertemukan dengan anti-proton, atau elektron dengan anti-elektron (positron), maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan menghasilkan dua foton sinar gamma. Kondisi sebaliknya juga dapat terjadi atau umum disebut reversibel, yakni jika ada dua berkas foton dengan energi yang bersesuaian saling bertumbukkan, cahaya (sinar gamma) tersebut akan lenyap dan kembali menjadi dua pasangan partikel seperti semula. Hal ini menunjukkan secara teori bahwa materi (baik yg sederhana seperti inti atom dalam percobaan tersebut maupun yang kompleks seperti materi penyusun tubuh manusia) dapat diubah menjadi bentuk cahaya/sinar dengan cara tertentu dan begitu pula sebaliknya. Hal ini juga dapat menjelaskan perubahan wujud Jibril AS menjadi bentuk materi menyerupai manusia di banyak kisah perjuangan Rasulullah.

Sebelum diperjalankan malam itu, Rasulullah yang selayaknya manusia umumnya memiliki tubuh/jasad materi yang kompleks terdiri dari banyak penyusunnya. Untuk dapat melalui perjalanan antar dimensi (menembus langit bertingkat-tingkat), tubuh beliau harus disesuaikan. Proses penyesuaian ini ditulis dalam sebuah kisah yang dijelaskan oleh Syeikh Najmuddin Al Ghaitghi dalam Kitab Dardir Bainama Qishshat-ul-Mi’raj bahwa Jibril AS melakukan “operasi pembedahan untuk pembersihan organ-organ tubuh Nabi Muhammad SAW”. Jika ditarik kaitkannya dengan Teori Annihilation, tubuh/jasad Rasulullah dirubah -entah menggunakan metode operasi bagaimana- menjadi cahaya (sinar gamma) seperti selayaknya zat penyusun tubuh malaikat yang berasal dari cahaya – Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api dan Adam diciptakan sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian (dari tanah) (HR. Muslim, Ahmad, dan Baihaqi).

Annihilasi ini menjelaskan kenapa tubuh Rasulullah tidak terluka setelah mengalami tekanan akibat melakukan lompatan dengan kecepatan tinggi. Karena tubuh beliau telah “dirubah” menjadi bentuk lain yang sifatnya sangat ringan yaitu eter dalam istilah Fisika atau itsir dalam Bahasa Arab. Dalam konsepnya, eter yang merupakan energi elektromagnetik untuk dapat bergerak/beresonansi membutuhkan gelombang energi yang sama (sinkronisasi antara satu dengan lainnya) dan pengkondisian ruang agar tidak ada penghambat ketika proses perpindahan (dalam QS. Al-Isra: 1, terdapat redaksi kalimat “… telah Kami berkahi sekelilingnya …” mungkin merujuk pada pengkondisian ruang). Sekaligus pemilihan waktu di malam hari dibandingkan siang hari merujuk pada gelombang energi yang dapat menghambat perjalanan Rasulullah (membiaskan perpindahan energi).

Tunggangan Rasulullah saat melakukan Isra’ Mi’raj disebutkan Buraq – berasal dari kata Barqum yang berarti kilat. Jika eter membutuhkan gelombang energi untuk bergerak, maka kilatan cahaya yang memiliki kecepatan cahaya 299.792.458 meter per detik atau dibulatkan menjadi 300.000 kilometer per detik adalah eter yang ideal untuk membawa tubuh Rasulullah (yang kini juga sudah berubah menjadi eter). Misal diasumsikan Buraq -hewan yang berasal dari alam malakut- membawa Rasulullah ini memiliki kecepatan serendah-rendahnya setara dengan perbandingan kecepatan elektris 300.000 kilometer per detik, maka jarak kurang-lebih 1.500 KM antara Masjidil Haram di Mekkah dengan Masjidil Aqsha di Yerussalem paling tidak hanya memakan waktu 1/200 detik saja.

Allah SWT memindahkan Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem dengan tujuan untuk menunjukkan kekuasaan-Nya meliputi segala hal. Dua tempat ini letaknya masih di Bumi, di realitas dimensi yang umum kita pahami. Namun bagaimana jika kedua tempat yang diberkahi ini berfungsi sebagai transmitter (pengirim gelombang elektromagnetik – dari dimensi Bumi ke dimensi Sidratul Muntaha – alam malakut) dan reciever (penerima gelombang elektromagnetik – dari dimensi Sidratul Muntaha – alam malakut). Seperti imajinasi manusia yang ditampilkan di film berjudul Tenet, setiap tempat tidak bisa menjadi transmitter maupun reciever untuk melakukan penjelajahan antar waktu, jika dipaksakan tubuh materi akan hancur oleh karena tekanan yang dihasilkan selama proses perpindahan tersebut. Jika demikian maka Masjidil Haram & Masjidil Aqsha dipilih Allah SWT sebagai terminal pemberangkatan & terminal kepulangan Rasulullah menunjukkan rahasia lain yang terkait erat dengan hukum-hukum Fisika, mungkin kutub magnet Bumi atau mungkin hal lainnya entahlah.

Teori Relativitas Khusus

Dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun – (QS. Al-Ma’arij: 3-4).

Ayat ini menerangkan tentang konsep dilatasi waktu sebagaimana yang dikemukakan oleh Albert Einstein dalam teori relativitasnya. Teori Relativitas membahas mengenai struktur ruang dan waktu serta mengenai keterkaitannya dengan gravitasi. Einstein mengemukakan bahwa perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Semakin dekat nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, semakin besar pula efek yang dialaminya perlambatan waktu. Hingga ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya, benda itu pun sampai pada satu keadaan nol. Namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya, keadaan pun berubah. Efek yang dialami bukan lagi perlambatan waktu, namun sebaliknya waktu menjadi mundur.

Hubungannya dengan perjalanan Isra’ seperti yang kita ketahui, Nabi Muhammad SAW beserta Jibril dengan mengendarai Buraq melakukan perjalanan Isra dengan kecepatan 300.000 km/detik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang berjarak 1500 km. Itu artinya mereka melakukan perjalanan ditempuh hanya dengan 0,005 detik. Hal itu memungkinkan terjadi mengingat badan materi beliau yang sudah diubah menjadi bentuk cahaya (eter) dan dalam perjalanannya mengalami dilatasi waktu. Sehingga dapat melakukannya dalam sekedip mata saja. Tubuh Nabi berubah menjadi cahaya (sinar gamma – eter) hanya pada saat perjalanan seperti penjelasan di awal terkait annihilasi.

Teori Teleportasi

Setelah selesai dengan perjalanan yang pertama, yaitu perjalanan Isra’. Rasulullah melanjutkan kembali perjalanan Mi’raj menembus dimensi-dimensi realitas ruang dan waktu, yaitu naik menuju langit lapis demi lapis bertemu nabi-nabi pendahulu yang dalam realitas Rasulullah para nabi tersebut telah wafat. Perjalanan Mi’raj ini tidak lagi dapat kita gunakan konsep Relativitas Khusus seperti pada perjalanan pertama. Setelah mereka tiba di Masjidil Aqsha, penulis menduga badan Nabi Muhammad tidak lagi berbadan cahaya tetapi sudah kembali dalam bentuk materinya. Hal ini sama dengan konsep teleportasi (perpindahan materi dari suatu ruang & waktu ke ruang & waktu lainnya) serta pada perjalanan Mi’raj ini kita perlu menggunakan pendekatan perjalanan dimensional.

Fenomena perpindahan lokasi jarak jauh atau biasa disebut teleportasi mungkin belum ditemukan alat/media yang memungkinkan hal itu terjadi dan secara ilmiah pada saat ini dalam serangkaian uji coba menggunakan material atom, para peneliti berhasil menteleportasikannya namun dengan jelas telah diterangkan di dalam Al-Qur’an Surah An Naml ayat 40 bahwa telah terjadi fenomena teleportasi di zaman Nabi Sulaiman AS. Firman Allah yang artinya: Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab (Taurat dan Zabur) berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (atas nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya Lagi Maha Mulia – (QS. An Naml : 40).

Patut diduga bahwa perjalanan Mi’raj Rasulullah sampai pada langit ke tujuh itu relevan dengan perpindahan antar dimensi ruang dan waktu. Karena Rasulullah ketika di langit (dimensi berbeda) sudah mewujud bertubuh materi seperti semula maka teleportasi antar dimensi ini dibutuhkan bantuan dari makhluk yang berasal dari dimensi itu pula, oleh karenanya Allah SWT memerintahkan Jibril AS yang merupakan makhluk ekstradimensional untuk menemani Rasulullah sepanjang perjalanan. Lagi-lagi imajinasi manusia dan pemahaman dasar terkait relativitas Einstein dan teleportasi antar dimensi ruang dan waktu ini ditampilkan di film berjudul Interstellar.

Isra’ Mi’raj masih menyimpan banyak misteri pengetahuan yang bertahap akan terus dikaji, akan tetapi menurut hemat penulis penjelasan dengan menggunakan pendekatan di atas ini sudah cukup memberi penjelasan yang memadai bagi yang awam tentang hukum maupun konsep di ilmu fisika. Hal yang paling penting memang bukan tuntasnya penjelasan, melainkan pesan ilmiah yang tersirat di dalamnya sehingga kita manusia dapat merefleksikan dan memaknainya sehingga timbul keimanan. Manusia hanya bisa menduga-duga dengan ilmu yang dipelajarinya dan berusaha mengambil pelajaran, selebihnya hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Menguasai.

Wallahu a’lam bisshowab.

*) Waka. Humas MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.