Class Meeting Third Day: Drawing Imagination

Sesuai jadwal yang tertera, class meeting di hari ketiga ini melombakan “menggambar imajinasi”. Panitia memilih lomba ini untuk mengisi konten Non-Fungible Token (NFT) madrasah yang terdapat di marketplace opensea. NFT ini digunakan manajemen madrasah untuk mengenalkan teknologi blockchain kepada siswa, yang mana definisi NFT merupakan sertifikat keaslian yang unik pada blockchain yang biasanya dikeluarkan oleh pencipta aset digital.

Melalui bidang kehumasan madrasah, para siswa didorong untuk aktif mempelajari dunia metaverse. Walaupun saat ini metaverse sangat asing di telinga masyarakat Indonesia tetapi di masa depan teknologi ini akan sangat membantu terciptanya sistem yang ideal di semua bidang kehidupan.

“Hasil gambar siswa ini nantinya akan menjadi bahan pengembangan karya digital siswa yang dikemas dalam bentuk NFT. Langkah yang kita lakukan ini hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh GTK Madrasah Pusat yang telah mengenalkan metaverse, yaitu MadrasahLand. Meskipun saat ini seolah tidak berfungsi apapun, tetapi NFT dapat digunakan untuk bukti kepemilikan karya digital agar tidak ada orang lain yang melakukan klaim karya kita” terang waka humas yang merupakan salah satu crypto enthusiast.

Lebih dari itu, bagi panitia class meeting, menggambar adalah media ekspresi pikiran dan imajinasinya siswa. Menggambar membuat siswa lebih kreatif dan mendapatkan kepercayaan diri dalam hidupnya. Keterampilan motorik, kemampuan berpikir out of the box, mensubtitusi pikiran negatif menjadi karya seni, dan melatih organisasi pola pikir sehingga mampu mencari solusi dari setiap problem juga merupakan hasil dari menggambar.

Baca Juga

CLASS MEETING SECOND DAY: WRITING AND READING A POETRY

Keterangan mengenai keterampilan-keterampilan itu disampaikan oleh M. Faisol Ali, S.H di saat kegiatan berlangsung. Pengampu Mapel Sejarah Kebudayaan Islam ini dikenal sebagai salah satu desainer grafis yang dimiliki madrasah. Kepala madrasah meminta secara khusus kepada beliau agar lomba menggambar ini untuk menjaring bakat siswa yang kemudian dapat diimplementasikan untuk menunjang bidang multimedia madrasah.

Selama perlombaan terpantau panitia membebaskan media gambar dan aliran seni gambar serta tema yang dipilih. Ada yang menggunakan media kertas dengan melukis sketsa, ada yang melukis di kanvas, ada pula yang menggambar ilustrasi beraliran Pelukis Van Gogh.

Zainal, M.Pd yang menjadi juri di perlombaan itu mengaku bangga dengan kreativitas anak didiknya. Pengakuan itu menurutnya didasarkan pada penerapan golden rasio atau lumrah dikenal sebagai Fibonacci di bidang matematika. Guru senior matematika madrasah ini menyebut bahwa penerapan Fibonacci dalam sebuah lukisan (red: gambar) sangat sulit dan hanya seniman profesional yang mampu menerapkannya sebagai hasil lukisan/gambar terlihat proporsional dari sudut bangun ruang.

Muhammad Ismail, S.Pd yang juga seorang guru matematika menyetujui pendapat seniornya itu. Baginya, peserta yang mampu menerapkan golden rasio dari Fibonacci ini cukup untuk menjadi bahan pertimbangan penilaian, kemudian ditambah dengan faktor penilaian lainnya agar ada kesesuaian secara general.

Penilaian tertinggi didapatkan oleh Ramadhani dari Kelas VII-F yang memperoleh skor 95. Di peringkat kedua ada Syarifatun Khoiriah dari Kelas IX yang memperoleh skor 90. Sedangkan di kelas VIII, rata-rata mendapatkan skor 80. Menariknya, siswa Kelas VII di perlombaan ini mampu menerapkan dasar-dasar seni menggambar patut menjadi perhatian manajemen madrasah, bagaimana kiranya bakat tersebut dapat diasah akan menjadi tugas bidang multimedia madrasah untuk mengembangkan lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *