Class Meeting Second Day: Writing and Reading a Poetry

Hari kedua class meeting mengagendakan lomba cipta baca puisi. Sesuai judulnya, ada dua hal yang harus disajikan oleh peserta lomba, diantaranya menciptakan karya puisi dan membacakannya. Sama halnya dengan perlombaan di hari pertama, cipta baca puisi digunakan untuk mengetahui bakat khusus siswa di bidang kemampuan verbal.

Secara khusus, cipta puisi merupakan metode untuk mengasah kemampuan dalam menyampaikan pesan dan kesan yang terekam secara intelektual dan afeksi yang dikemas dengan susunan diksi, sedangkan membacakan karya sastra itu untuk melatih psikomotorik siswa yang diungkapkan melalui ekspresi wajah maupun gestur tubuh yang berkesuaian dengan pesan yang hendak disampaikan.

Baca Juga

CLASS MEETING FIRST DAY: A MOSLEM OF SINGING

Dewan juri mulanya diisi oleh Danang Satrio P, S.Psi yang mewakili dari Gerakan Literasi Madrasah, Aris Purnomo, S.Pd dan M. Said Fadhori, S.Pd.I mewakili pengampu mapel Bahasa Indonesia terpaksa diganti karena harus mendampingi kepala madrasah menerima kunjungan Tim Juri Lomba Madrasah Prestasi. Ketiganya yang merupakan jajaran wakil kepala madrasah kemudian digantikan oleh Abdul Halim, S.H mewakili literasi madrasah, Abdul Hamid, S.Pd mewakili guru di sosial, Rofik Hariyadi, S.Pd mewakili Guru Bahasa Indonesia.

Menurut Abdul Hamid, S.Pd, pergantian jajaran dewan juri tersebut tidak mengurungkan minat peserta untuk menampilkan bakat terbaik mereka dalam lomba cabang seni sastra ini. Terbukti dari edaran panitia yang mulanya hanya mewajibkan maksimal dua peserta per kelas, saat berlangsungnya perlombaan tercatat masing-masing Kelas IX Putri mendelegasikan empat hingga lima peserta. Demi menampung bakat siswa, panitia lantas tidak membatasi jumlah peserta dari tiap-tiap kelas.

Secara umum, kegiatan lomy berjalan dengan lancar dan kondusif. Dari pernyataan Abdul Halim, S.H, ada dari kalangan peserta dan penonton yang larut terbawa suasana, “mereka menangis saat membaca puisi bertema keluarga, tidak hanya peserta yang membacakan puisi itu, tetapi banyak dari penonton yang turut larut mengharu biru”

Lebih lanjut guru yang diamanahkan untuk mensukseskan program “Pojok Baca Madrasah” ini mengungkapkan ada peserta yang disoraki karena isi puisinya yang mind-blowing, seolah menikmati susunan sajaknya ia melanjutkan pembacaan dengan percaya diri.

Di penghujung lomba, Rofik Hariyadi, S.Pd diperkenankan oleh panitia untuk memperkenalkan diri sebagai guru baru untuk mapel Bahasa Indonesia. Lulusan Universitas Trunojoyo Madura ini juga mengkritisi penampilan dan karya puisi ciptaan siswa. Menurutnya, sebagai siswa yang masih duduk di bangku tsanawiyah, mau menciptakan dan berani membacakan karya sastranya di hadapan khalayak umum cukup membanggakan.

Pria yang sebelum bergabung dengan civitas madrasah berkecimpung di dunia penerbitan buku ini menyebut bahwa siswa di Kelas IX Putri sudah banyak yang berkembang tema penulisannya maupun penyampaiannya, “jika saya bandingkan dengan karya siswa Kelas IX sebelumnya yang terdapat di Buku Kata Hubung dengan karya siswa Kelas IX sekarang yang dilombakan ada perbedaan pada tema yang diangkat. Dan ada satu siswi bernama Adelia Safania Putri dari Kelas IX-9 yang intonasi vokal dan gestur tubuh dalam membawakan puisi memiliki karakter. Karakternya kuat untuk menggiring emosional penonton dan pesan dari isi puisi dapat tersampaikan dengan elegan namun tidak memaksa”.

Guru yang tupoksi khususnya untuk penguatan dan pengembangan literasi madrasah ini kemudian dipaksa oleh audiens (peserta dan penonton) untuk membacakan puisi karya-karya pujangga Indonesia semacam W.S Rendra, Sapardi Djoko Damono, dan Widji Thukul. Pembacaan puisi dari Ustadz Rofik ini sebagai penanda berakhirnya class meeting hari kedua.

2 Replies to “Class Meeting Second Day: Writing and Reading a Poetry”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *