Oleh : , Abdul Rozaq, S.Sos *)
ahur bukan sekadar makan sebelum fajar, tetapi bagian dari sunnah yang penuh makna. Dalam sabda Rasulullah ﷺ ini, kita diajak memahami bahwa ada keberkahan besar yang tersembunyi di waktu sahur—keberkahan dalam niat, kekuatan, dan kedekatan kepada Allah. Hadis ini mengingatkan kita bahwa setiap amalan yang dilakukan dengan tuntunan Nabi akan membawa kebaikan yang melimpah, meskipun terlihat sederhana.
Ada waktu yang sunyi di antara gelap dan cahaya.
Saat sebagian manusia masih terlelap dalam mimpi, ada jiwa-jiwa yang terbangun, menyalakan lampu kecil di dapur, meneguk air dengan perlahan, dan menata niat dalam hati. Itulah waktu sahur—waktu yang sering terasa biasa, namun sesungguhnya luar biasa.
سَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk bersahur, bukan sekadar agar kuat menahan lapar dan dahaga. Beliau menegaskan bahwa dalam sahur terdapat barakah—keberkahan. Dan keberkahan tidak selalu berarti banyaknya makanan, melimpahnya hidangan, atau kenyangnya perut. Keberkahan adalah kebaikan yang tumbuh, walau dari sesuatu yang sederhana.
Baca Juga
Sahur mengajarkan kita tentang niat.
Di saat orang lain makan untuk mengisi tenaga, seorang mukmin makan untuk menguatkan ibadah. Setiap suapan menjadi bernilai pahala. Setiap tegukan air menjadi saksi ketaatan. Bahkan ketika hanya seteguk air yang mampu kita minum, di situlah keberkahan menyelinap—diam-diam, tapi nyata.
Sahur juga mengajarkan kedisiplinan dan pengorbanan. Bangun lebih awal bukan perkara mudah. Rasa kantuk, dinginnya udara, dan sunyinya malam seringkali menguji kesungguhan. Namun justru di sanalah letak keindahannya. Kita belajar bahwa kebaikan seringkali hadir bersama perjuangan kecil yang konsisten.
Lebih dari itu, sahur adalah momen kedekatan dengan Allah. Di sepertiga malam terakhir, doa-doa lebih mudah melangit. Hati lebih lembut. Air mata lebih jujur. Saat tangan menengadah sebelum azan Subuh berkumandang, kita bukan hanya sedang mempersiapkan diri untuk berpuasa, tetapi juga sedang membersihkan jiwa.
Betapa banyak keluarga yang merasakan kehangatan di meja sahur sederhana. Percakapan pelan, senyum yang masih mengantuk, dan kebersamaan yang mungkin tak didapat di waktu lain. Sahur menyatukan hati-hati yang mungkin siangnya sibuk oleh urusan dunia.
Keberkahan sahur bukan hanya pada makanan, tetapi pada maknanya.Ia adalah simbol kesiapan. Simbol kesungguhan. Simbol cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Maka ketika azan Subuh berkumandang dan kita menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sesungguhnya kita telah memulai hari dengan keberkahan yang ditanam sejak sahur. Keberkahan yang menguatkan tubuh, menenangkan hati, dan menerangi langkah.
Bersahurlah—meski hanya dengan seteguk air. Karena di balik kesederhanaan itu, ada janji Rasulullah ﷺ: di sana ada keberkahan.
Dan seringkali, keberkahan itu tidak terlihat oleh mata, tetapi sangat terasa oleh jiwa.
*) Guru BK MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


