Oleh: Muhammad Said Fadhori, S.Pd.I *)
Semua orang tua pasti berharap anaknya dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas, berilmu, dan berakhlak mulia. Namun, sering kali harapan itu hanya berhenti pada doa tanpa diiringi usaha dan ikhtiar yang tepat baik dzahir maupun batin. Banyak orang tua yang hanya berpikir bahwa anak akan menjadi cerdas dan berilmu hanya dengan menyekolahkan anaknya di sekolah favorit, sekolah yang mahal, unggulan dengan segala fasilitas yang lengkap dan mewah. Padahal di sana juga ada ikhtiar batin yang tak tampak yang perlu ditempuh agar anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang berilmu dan beradab.
Di sinilah nasihat Syekh Az-Zarnuji menjadi sangat relevan untuk direnungkan.
Syekh Az-Zarnuji dalam kitabnya, Ta’lim Muta’allim memberi kiat pada kita agar supaya memiliki anak yang alim. Beliau menyatakan
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ ابْنُهُ عَالِمًا فَيَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِيَ الْغُرَبَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَيُكْرِمَهُمْ وَيُعَظِّمَهُمْ وَيُعْطِيَهُمْ شَيْئًا فَإِنْ لَمْ يَكُنِ ابْنُهُ عَالِمًا يَكُونُ حَافِدُهُ عَالِمًا
“Barang siapa yang ingin anaknya menjadi orang alim, maka hendaklah ia memperhatikan (peduli kepada) para perantau dari kalangan ahli fikih (ahli ilmu), memuliakan mereka, mengagungkan mereka, dan memberi mereka sesuatu (meskipun sedikit). Jika anaknya tidak menjadi orang alim, maka cucunya yang akan menjadi orang alim.”
Baca Juga
Beliau menyampaikan bahwa salah satu jalan agar anak menjadi alim adalah dengan menghormati para ahli ilmu, khususnya para fuqaha. Sikap menghormati ini tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga tindakan nyata seperti memuliakan, membantu, dan bahkan bersedekah kepada mereka, meskipun sedikit. Nasihat ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam.
Secara logis, anak adalah peniru yang ulung. Apa yang dilakukan orang tua, itulah yang akan direkam dalam ingatan dan perlahan membentuk kepribadiannya. Ketika seorang anak melihat orang tuanya menghormati ulama, menghargai ilmu, dan dekat dengan orang-orang berilmu, maka secara tidak langsung ia belajar bahwa ilmu adalah sesuatu yang mulia. Dari sinilah tumbuh rasa cinta terhadap ilmu dalam dirinya.
Lebih dari itu, ada nilai spiritual yang tidak bisa diabaikan. Menghormati ahli ilmu dan bersedekah kepada mereka adalah bagian dari amal kebaikan. Dalam pandangan agama, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan membawa keberkahan, termasuk dalam keturunan. Maka wajar jika menyebutkan bahwa jika pun anak tidak menjadi alim, maka cucunya yang akan mendapatkannya. Ini menunjukkan bahwa hasil dari kebaikan tidak selalu langsung terlihat, tetapi pasti akan berbuah pada waktunya.
Nasihat ini juga mengajarkan kita untuk berpikir jangka panjang. Pendidikan bukan hanya tentang hasil instan, tetapi tentang menanam nilai yang mungkin baru terlihat dampaknya di masa depan. Orang tua tidak selalu bisa “mencetak” anak sesuai keinginannya, tetapi mereka bisa menanam lingkungan dan kebiasaan yang mendukung tumbuhnya ilmu.
Dengan demikian, pesan utama dari nasihat ini adalah pentingnya memuliakan ilmu dengan cara memuliakan orang-orang yang memilikinya. Jika kita ingin memiliki generasi yang berilmu, maka mulailah dari diri sendiri: menghargai ilmu, mendekat kepada ulama, dan menanamkan teladan itu dalam keluarga.
Akhirnya, menjadi jelas bahwa mendidik anak agar alim tidak hanya soal mengajarkannya pelajaran, tetapi juga tentang membangun budaya penghormatan terhadap ilmu. Dari situlah, perlahan namun pasti, lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab.
*) Waka Kesiswaan MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


