Politikus? Dikenang sebagai Pahlawan atau Pecundang

Oleh : Muhammad Hadi Hidayah Purnomo, S.Pd *)

Para pembaca kalau bertanya ke masyarakat misalnya tentang politik, jawabannya mungkin negatif. Menurut kalian politik itu apa?

Dimata mereka yang awam politik itu disini buruk, politik disini hanya untuk merebut kekuasaan, menebarkan kebencian, sehingga banyak orang mempunyai phobia pada politik. Sehingga muncul istilah, kalau tidak punya bakat kriminal, jangan jadi politik di Indonesia ini, stigma negatif pada politik sekali lagi Itu stigma. Lalu, kenapa stigma stereotype itu muncul? Karena disejatinya di panggung politik kita itu mereduksi kedalaman makna politik sesungguhnya, padahal politik itu luhur.

Seorang Filosof namanya Hannah Arendt mengatakan bahwa, politik adalah seni mengabadikan diri, mau dikenang sebagai apa kita di dunia ini. Politik itu sebenarnya seni mengabadikan nama kita, mau dikenang sebagai apa di dunia ini. Politik menyediakan ruang yang begitu luar biasa untuk kita. Seni mengabadikan nama kita, mau dikenang secara positif menjadi pahlawan atau pecundang. Politik memberikan ruang untuk itu, Itulah politik. Makanya benar kata sastrawan Jerman mengatakan, buta yang paling buruk, sesungguhnya bukan buta asara, tapi buta politik.

Baca Juga :

SEPASANG MATA BOLA DI YOGYAKARTA

Seburuk-buruknya buta, bukan buta aksara tapi buta politik, kenapa? Karena mereka tidak sadar bahwa, seluruh sesungguhnya, seluruh hajat hidup manusia itu, dikelola melalui proses politik. Apakah ada hajat hidup kita yang tidak dikelola melalui proses politik? Ada tidak? Tidak ada. Tidak ada satupun, semua hajat hidup manusia yang ada didunia ini, di Indonesia ini, semuanya dikelola melalui proses-proses politik. Mau harga tambah, mau murah atau mahal, proses politik yang mengerjakan. Mau harga UKT (uang kuliah tunggal) itu mau murah atau mahal, proses politik yang mengelola. Mau BPJS itu gratis atau tidak, proses politik yang mengelola. Jadi tidak ada tidak satupun hajat hidup manusia yang tidak dikelola melalui proses politik.

Jadi kalau kemudian ada orang phobia politik, orang anti pada politik, maka jangan salahkan jika kemudian yang duduk di ruang-ruang politik itu adalah orang yang kemudian bisa jadi tidak punya kapasitas dan kapabilitas. Padahal mereka akan bekerja untuk kepentingan kita. Menciptakan peraturan, menciptakan kebijakan, menciptakan undang-undang, merevisi konstitusi, itu untuk kepentingan kita. Karena mereka bekerja untuk kepentingan kita, maka sebenarnya hidupnya mulia, sebenarnya kerja yang mulia. Maka dalam politik itu adalah pekerjaan yang mulia, karena dia bekerja untuk bukan untuk dirinya sendiri, begitu harusnya. Oleh karena itu, orang politik harusnya orang yang sudah selesai dengan urusan dirinya sendiri.

Orang yang punya kapasitas dan kompetensi dalam berpolitik itu terakadang bisa dikalahkan dengan sebuah kepentingan. Maka tugas kita, sebagai orang yang paham kita mengedukasi publik, bahwa kita akan bekerja, kita akan memilih orang yang bekerja untuk kepentingan publik. Karena politik begitu luhur, maka tidak sembarangan orang terlibat dalam proses politik itu. Kalau sembarangan orang terlibat dalam proses politik, maka bisa jadi kemudian luaran kebijakannya tidak bermutu.

Jika kita mau berpikir dan pikiranya untuk mengubah keadaan, yang paling kuat sebenarnya lewat proses politik, jangan jadi dosen, jangan jadi penulis, penulis dan dosen itu tidak mengubah keadaan apapun.

Menulis untuk macam-macam makhluk bertumbuh itu tidak pernah bisa mengubah. Tapi kalau seseorang itu Bupati, Gubernur, Presiden sekali tanda tangan langsung berubah. Jadi proses politik itu menentukan betul untuk sesuatu yang apakah dia akan menjadi orang pahlawan atau menjadi orang pecundang. Kalau pahlawan dia akan dikenang sepanjang hayat, pahlawan itu kan mati sekali hidupnya berkali-kali Itulah pahlawan. Tapi kalau pecundang , hidup sekali matinya berkali-kali, hidup ini kan hanya dua pilihan tersebut. Politik itu ruang-ruang seperti itu, jadi kalau memang berniat untuk berkontribusi sebanyak-banyak untuk kehidupan publik, berpolitiklah, tapi kalau tidak siap dan kalau tidak punya bakat kriminal jangan jadi politikus – hanya guyonan.

*) Guru PPKN MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *