Membaca Spirit Ramadhan di Balik Doa Bulan Rajab

Oleh : Sahroni, S.Pd.I., M.Pd *)

Memasuki bulan Rajab 1443 H yang jatuh pada Kamis, 3 Februari 2022 yang lalu, banyak berseliweran di beranda media sosial facebook, instagram, twitter dan Whatsapp Group flyer ucapan selamat memasuki Bulan Rajab. Tidak hanya itu, beranda media sosial juga dilengkapi dengan daftar amalan-amalan yang sunnah dikerjakan dalam bulan Rajab mulai dari sunnah puasa, dzikir, do’a khusus yang dibaca saat memasuki bulan Rajab dan lain-lain.

Hal tersebut dapat dimaklumi disebabkan Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan-bulan yang dihormati dan memiliki nilai suci di sisi Allah SWT sebagaimana bulan-bulan Haram yang lain.

Salah satu doa yang masyhur yang biasa dibaca oleh Rasulullah saw takkala memasuki bulan Rajab adalah sebagaimana termaktub dalam Hadits riwayat Imam Ahmad dari Sahabat Anas bin Malik sebagai berikut :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ : " اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ (رواه احمد)

Dati Anas bin Malik Berkata : Tatkala Bulan Rajab sudah tiba, maka Nabi Muhammad saw berdo’a : Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban. Dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Kendati demikian, para ulama juga terjadi pro kontra tentang status kualitas hadits yang dibaca oleh Rasulullah saw. Sebagian ulama menilai kualitas sanad hadits tersebut lemah (dla’if). Namun secara substansi dan konten hadits tersebut tetap boleh diamalkan karena bukan dalam ranah akidah dan ibadah mahdlah (pokok).

Tulisan ini tidak akan mempersoalkan kualitas hadits tersebut. Tulisan ini akan memcoba mengambil makna dan menangkap spirit yang terkandung di dalam doa tersebut

Yang terbenak dalam pikiran penulis, mengapa Rasulullah saw membaca doa tersebut ketika memasuki Bulan Rajab? Mengapa pula doa yang dipanjatkan oleh Beliau adalah memohon keberkahan? Tiidak hanya di bulan Rajab tetapi juga di bulan Sya’ban.

Berkah dan Lailatul Qadr

Imam Al-Ghazali mengartikan kata berkah dengan makna bertambahnya kebaikan (ziyadah fil khair). Sebagian ulama menterjemahkan makna kata berkah adalah sesuatu yang berlimpah, baik dari aspek fisik atau non fisik baik immaterial maupun spiritual. Termasuk di dalamnya kasih sayang, ketenangan, kebahagiaan, waktu, usia dan lain sebagainya.

Rasulullah saw berdoa kepada Allah agar diberikan keberkahan di Bulan Rajab dan bulan Sya’ban sejatinya Rasulullah saw dalam rangka mempersiapkan diri untuk memasuki bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan dari Allah yaitu bulan suci Ramadhan. Ketika Allah melimpahkan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban, maka dua bulan tersebut akan diisi dengan beragam kegiatan positif, kebaikan-kebaikan dan ibadah lainnya.

Baca juga

KURIKULUM PENDIDIKAN DI BULAN RAMADHAN

Orang yang telah mempersiapkan dirinya sejak bulan Rajab dan Sya’ban lah yang akan betul-betul mendapatkan makna dan hakikat puasa Ramadhan. Bahkan diharapkan mendapatkan kemuliaan malam yang penuh berkah yaitu malam Lailatul Qadr – malam yang lebih baik dari 1000 bulan atau kurang lebih 84 tahun sebagaimana Firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3

إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةࣲ مُّبَـٰرَكَةٍۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِینَ

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) di malam yang diberkahi. Sesungguhnya kami adalah pemberi peringatan. (QS. Ad-Dukhan : 3)

Ayat diperjelas oleh Allah dalam surat Al-Qadr

إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) di malam Qadr (QS. Al-Qadr : 1)

Kedua ayat tersebut kemudian dipertajam oleh Allah bahwa malam yang penuh berkah yang disebut dengan malam Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (QS. Al-Baqarah : 185).

Antara Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

Sya’ban : Dalam kitab Al-Shihah Taaj Al-Lughah, Syaikh Abu Nashr al-Farabi menulis: “Rajab artinya mulia, Rajjabtu Syai’an artinya aku memuliakan sesuatu dan mengagungkannya. Oleh karena itu, disebut bulan Rajab; karena orang-orang jahiliyah memuliakan bulan tersebut dengan tidak ada peperangan”.

Rajab : Sebagian ulama ada yang berpandangan Sya’ban berakar dari kata kata syi’b (شعب) yang berarti kelompok. Penamaan itu karena ketika masuk bulan Sya’ban, masyarakat Arab kembali ke kelompok (suku) mereka masing-masing. Salah satu misi mereka berkelompok lagi adalah untuk berperang melawan kelompok lainnya. Hal ini sebab setelah sebelumnya di bulan Rajab mereka hanya duduk di rumah masing-masing. Penulis kitab Fathul Bari Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kitabnya menjelaskan bahwa disebut dengan bulan Sya’ban lantaran kesibukan orang-orang Arab dalam mencari air atau sumur setelah berlalunya Rajab yang mulia.

Ramadhan : Dalam Kamus Bahasa Arab Mu’jam Al-Wasith , Ramadlan artinya panas membakar (ramidha – yarmadhu). Jika dikaitkan dengan ibadah puasa Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah, maka secara simbolik berarti Allah SWT akan membakar dosa-dosa hamba-Nya yang beriman dan taat pada perintah-Nya di bulan Ramadhan ini.

Jika kita kembali pada pokok bahasan tentang Doa Rasulullah saw di bulan Rajab, maka dapat dikatakan Bulan Rajab adalah bulan menanam, Bulan Sya’ban adalah bulan untuk menyiram dan merawat benih yang sudah ditanam. Sementara bulan Ramadhan adalah waktu untuk memanen buah dari benih yang sudah ditanam dan dirawat dengan baik. Orang yang tidak pernah menanam tidak akan pernah memanen. Begitu pula orang yang sudah menanam tapi tidak disirami dan dirawat dengan baik, maka kemungkinan gagal panen. atau dia akan memanen tapi tidak akan maksimal hasilnya.

Dengan demikian seorang hamba yang sudah menata hati dan mempersiapkan diri sepanjang bulan Rajab dan Sya’ban dengan sungguh-sungguh dengan mendekatkan diri kepada Allah, maka hamba tersebut sudah betul-betul siap memasuki bulan yang Agung, bulan yang betul-betul dipenuhi dengan hamparan keberkahan, rahmat, maghfirah dan pembebasan dari neraka serta dipertemukan dengan malam Lailatul Qadr. Inilah makna keberkahan yang sesungguhnya; dimana umur seorang tidak akan dapat beribadah selama 80 tahun lebih.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban ini dengan beragam kegiatan ibadah yang akan membawa keberkahan bagi kita dan keluarga kita sehingga kita betul-betul siap memasuki bulan Suci Ramadhan dengan niat yang suci, perilaku yang bersih dan ikhlas dan semangat beribadah Lillah.

*) Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

One Reply to “Membaca Spirit Ramadhan di Balik Doa Bulan Rajab”

Leave a Reply

Your email address will not be published.