logo_mts192
0%
Loading ...

Membangun Madrasah Dimulai dari Membangun Guru

Share the Post:

Oleh: Husen, S.Pd.I.*)

Ada satu keyakinan yang telah menjadi ruh perjalanan MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul sejak resmi berdiri pada 29 Mei 2019, yakni bahwa madrasah yang hebat dibangun oleh manusia-manusia yang terus bertumbuh. Keyakinan itu tidak lahir hari ini, tetapi telah ditanamkan sejak awal berdirinya madrasah oleh kepala madrasah pertama, Sahroni, S.Pd.I., M.Pd., bersama seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang mengawali perjalanan MTs Miftahul Ulum 2.

Pada masa kepemimpinan beliau, madrasah yang masih sangat muda telah menunjukkan semangat besar untuk menjadi lembaga pendidikan yang maju, unggul, dan berdaya saing. Di tengah berbagai keterbatasan sebagai madrasah baru, optimisme tidak pernah surut. Justru keterbatasan itu menjadi energi untuk terus berinovasi, membangun budaya mutu, serta menanamkan keyakinan bahwa usia bukanlah ukuran kualitas sebuah lembaga pendidikan.

Komitmen tersebut mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2021, MTs Miftahul Ulum 2 mulai menunjukkan eksistensinya di tingkat nasional melalui ajang Madrasah Young Researchers Super Camp (MYRES). Semangat riset yang mulai tumbuh di kalangan peserta didik menjadi penanda bahwa madrasah ini memiliki tekad kuat untuk menghadirkan budaya akademik sejak dini. Pada tahun yang sama, Sahroni, S.Pd.I., M.Pd. juga berhasil meraih prestasi sebagai 30 Besar Kepala Madrasah Berprestasi Tingkat Nasional, sebuah penghargaan yang menjadi motivasi besar bagi seluruh keluarga besar madrasah untuk terus meningkatkan kualitas.

Perjalanan itu semakin lengkap ketika pada tahun 2022, MTs Miftahul Ulum 2 mengikuti akreditasi perdana dan langsung berhasil meraih Predikat A (Unggul). Bagi kami, akreditasi tersebut bukan sekadar angka atau sertifikat, melainkan pengakuan bahwa budaya mutu yang dibangun sejak awal telah berada di jalur yang benar.

Baca Juga

Guru MTs Miftahul Ulum 2 Resmi Sandang Gelar Doktor dengan Predikat “Dengan Pujian”

Ketika saya kemudian dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinan di MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul, saya memandang bahwa fondasi yang telah dibangun tersebut merupakan amanah yang harus dijaga sekaligus dikembangkan. Saya tidak memulai dari titik nol. Saya melanjutkan sebuah mimpi yang telah dirintis oleh pendahulu dengan menambahkan energi, inovasi, dan komitmen baru agar madrasah ini terus bergerak maju.

Saya meyakini bahwa madrasah tidak akan pernah melampaui kualitas guru-gurunya. Karena itu, sejak awal masa kepemimpinan saya, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu prioritas utama. Kami berusaha membangun iklim akademik yang sehat, memberi ruang kepada guru untuk belajar, melanjutkan studi, mengikuti pelatihan, meneliti, menulis, dan terus meningkatkan kompetensinya.

Saya selalu menyampaikan kepada para guru bahwa mengajar bukanlah akhir dari belajar. Seorang guru justru harus menjadi pembelajar yang paling tekun. Sebab peserta didik yang kita hadapi setiap tahun adalah generasi yang hidup di zaman yang terus berubah. Jika guru berhenti belajar, maka madrasah akan tertinggal oleh perubahan.

Alhamdulillah, budaya tersebut perlahan mulai berbuah.

Beberapa guru berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan lulus dengan predikat cum laude. Ada yang memperoleh Beasiswa LPDP, ada pula yang berhasil mendapatkan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP–Kementerian Agama untuk melanjutkan studi doktoral.

Salah satunya adalah Rofik Hariyadi, S.Pd., guru Bahasa Indonesia, yang berhasil memperoleh Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk menempuh studi Magister di Universitas Negeri Malang. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus membuktikan bahwa guru madrasah memiliki daya saing yang tinggi apabila diberikan kesempatan untuk berkembang.

Puncak kebahagiaan itu kami rasakan ketika salah satu guru kami, Dr. Zainuddin, M.Pd berhasil menyelesaikan Program Doktor Pendidikan Agama Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya dan dinyatakan lulus dengan predikat “Dengan Pujian” (Cum Laude).

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah keberhasilan pribadi. Namun bagi saya, keberhasilan Dr. Zainuddin adalah kemenangan sebuah budaya.

Budaya bahwa guru harus terus belajar. Budaya bahwa usia bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Budaya bahwa jabatan bukan alasan untuk merasa cukup. Dan budaya bahwa mengajar bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan intelektual yang tidak pernah selesai.

Keberhasilan Dr. Zainuddin sesungguhnya bukan hanya milik beliau. Ia adalah simbol bahwa madrasah sedang berjalan di jalur yang benar. Bahwa investasi pada manusia akan selalu memberikan hasil yang paling berharga.

Semangat yang sama juga tercermin pada capaian peserta didik. Hingga awal Januari 2026, siswa-siswi MTs Miftahul Ulum 2 telah berhasil mengukir 209 prestasi di berbagai ajang, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap piala dan piagam, ada guru yang membimbing dengan sabar, ada budaya belajar yang terus dipelihara, dan ada keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi luar biasa.

Saya percaya bahwa prestasi peserta didik adalah cermin dari kualitas guru, dan kualitas guru adalah hasil dari kemauan mereka untuk terus belajar.

Namun demikian, saya juga meyakini bahwa gelar akademik bukanlah tujuan akhir.

Doktor, magister, maupun berbagai sertifikat kompetensi hanyalah sarana. Nilai sesungguhnya terletak pada bagaimana ilmu tersebut diterjemahkan menjadi pembelajaran yang lebih bermakna, penelitian yang memberi solusi, pengabdian kepada masyarakat, dan pelayanan pendidikan yang semakin berkualitas.

Madrasah membutuhkan guru yang tinggi ilmunya sekaligus rendah hatinya. Guru yang produktif berkarya tanpa kehilangan keikhlasan. Guru yang mampu menjadikan ilmunya sebagai cahaya bagi peserta didik, bukan sekadar kebanggaan pribadi.

Ke depan, saya berharap budaya akademik di MTs Miftahul Ulum 2 semakin mengakar. Saya ingin semakin banyak guru yang melanjutkan studi ke jenjang magister maupun doktor. Semakin banyak yang memperoleh beasiswa nasional. Semakin banyak yang menulis buku, menghasilkan penelitian, mempublikasikan karya ilmiah, menjadi narasumber, serta menghadirkan inovasi pembelajaran yang memberi dampak nyata bagi dunia pendidikan.

Saya juga berharap keberhasilan akademik guru akan berjalan beriringan dengan prestasi peserta didik. Sebab keduanya adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Guru yang terus bertumbuh akan melahirkan peserta didik yang terus berkembang.

Ketika menoleh kembali ke tanggal 29 Mei 2019, saya semakin yakin bahwa cita-cita yang ditanamkan sejak awal pendirian madrasah masih tetap relevan hingga hari ini. Membangun madrasah memang harus dimulai dengan membangun manusianya. Dan membangun manusia membutuhkan kesabaran, konsistensi, keteladanan, serta keberanian untuk terus bermimpi.

Saya bersyukur karena mimpi itu mulai menemukan bentuknya.

Namun perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak guru yang harus kita dorong untuk melanjutkan studi. Masih banyak inovasi yang harus dihadirkan. Masih banyak peserta didik yang harus kita antarkan menuju masa depan terbaiknya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap langkah pengabdian kami.

Karena pada akhirnya, warisan terbesar sebuah madrasah bukanlah bangunannya, melainkan manusia-manusia hebat yang lahir darinya.

Ketika seorang guru meraih gelar doktor, sesungguhnya yang bertambah bukan hanya satu doktor di madrasah. Yang bertambah adalah harapan. Yang bertambah adalah budaya belajar. Yang bertambah adalah keyakinan bahwa MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul akan terus melahirkan pendidik-pendidik unggul yang menginspirasi generasi. Itulah investasi terbaik bagi masa depan madrasah.

*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter