logo_mts192
0%
Loading ...

Makna Puasa dalam Pandangan Sufi: Refleksi Puasa Tarwiyah dan Arafah

Share the Post:

Karya: Husen, S.Pd.I *)

Puasa merupakan ibadah yang tidak hanya mengajarkan manusia untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mendidik jiwa agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan hati dari berbagai penyakit batin. Dalam tradisi para ulama sufi, puasa dipahami bukan sekadar ritual fisik, melainkan jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Sultanul Auliya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dalam kitabnya Al-Fathu Al-Rabbany wa Al-Faydlu Al-Rahmany, Beliau membagi makna puasa ke dalam dimensi syariat dan dimensi tarekat. Beliau menuturkan:

صوم الشريعة: أن يمسك عن المأكولات و المشروبات و عن وقاع النساء في النهار، و أما صوم الطريقة: فهو أن يمسك عن جميع أعضائه المحرمات و المناهي و الذمائم مثل العجب و الكبر و البخل و غير ذلك، ظاهرا و باطنا. فصوم الشريعة مؤقت، وصوم الطريقة في جميع عمره.

“Shaum syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman dan berjima’ dengan istri di siang hari. Adapun shaum tarekat adalah menahan semua anggota tubuh, secara lahir dan batin, dari segala perbuatan yang diharamkan, yang terlarang dan tercela, seperti ujub, sombong, kikir dan lain-lain. Sehingga, shaum syariat itu dilaksanakan sesuai waktunya, sedangkan shaum tarekat dilaksanakan sepanjang hidup.”

Puasa Tarwiyah dan Arafah bukan sekadar ibadah sunnah yang hadir menjelang Hari Raya Idul Adha. Kedua puasa ini menyimpan pesan spiritual yang sangat mendalam tentang perjalanan manusia dalam membersihkan diri dan mendekatkan hati kepada Allah. Dalam pandangan syariat, puasa Tarwiyah dan Arafah dilakukan dengan menahan lapar, dahaga, serta segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, sebagaimana nasihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, hakikat puasa tidak berhenti pada penahanan fisik semata, melainkan berlanjut pada penyucian jiwa dan pengendalian hati.

Baca Juga

Melanjutkan Cahaya Ramadan

Kata Tarwiyah berasal dari makna “memikirkan” atau “merenungkan”. Hari Tarwiyah menjadi simbol perenungan diri sebelum seseorang melangkah menuju kedekatan yang lebih dalam kepada Allah. Dalam konteks kehidupan, puasa Tarwiyah mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah hati ini bersih dari iri, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan? Sudahkah ibadah yang dilakukan benar-benar lahir dari ketulusan?

Sementara itu, puasa Arafah mengingatkan pada padang Arafah, tempat jutaan jamaah haji berkumpul dalam kesederhanaan dan kepasrahan total kepada Allah. Di sana tidak ada kebanggaan status, jabatan, ataupun kekayaan. Semua manusia berdiri sama sebagai hamba yang penuh dosa dan harapan ampunan. Maka, puasa Arafah bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga latihan untuk meruntuhkan ego dan kesombongan diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia mampu menahan lapar, tetapi gagal menahan amarah. Mampu menahan makan, tetapi sulit menjaga lisan dari menyakiti orang lain. Puasa Tarwiyah dan Arafah mengajarkan bahwa kesalehan sejati lahir ketika puasa menyentuh hati dan perilaku. Mata ikut berpuasa dari memandang keburukan, telinga berpuasa dari mendengar fitnah, lisan berpuasa dari dusta dan ghibah, serta hati berpuasa dari ujub dan riya’.

Keutamaan puasa Arafah yang disebut dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bukan sekadar janji pahala, melainkan panggilan agar manusia benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih bersih. Sebab, ampunan Allah akan lebih bermakna ketika disambut dengan kesungguhan memperbaiki diri.

Pada akhirnya, puasa Tarwiyah dan Arafah adalah latihan menuju puasa yang hakiki: puasa sepanjang hayat. Bukan hanya beberapa hari menahan lapar, tetapi perjalanan panjang menjaga hati agar tetap rendah hati, menjaga lisan agar tetap lembut, serta menjaga amal agar tetap ikhlas. Karena sesungguhnya, manusia yang paling dekat dengan Allah bukanlah yang paling lama menahan lapar, melainkan yang paling mampu menundukkan hawa nafsunya.

*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter