Karya: Adelia F. *)
Pada suatu hari, aku membaca sebuah buku berjudul “Seorang Ibu.” Dalam cerita itu ada seorang anak bernama Dyana Putri Anggraini.
Hari itu adalah hari Minggu yang cerah. Dyana sedang asyik bermain bersama teman-temannya di depan rumah. Tawa dan canda memenuhi suasana. Ia begitu larut dalam kesenangan, seolah tidak ingin diganggu oleh apa pun.
Di dalam rumah, ibunya memanggil dengan suara lembut,
“Nak, ibu boleh minta tolong diantar ke pasar?”
Dyana sempat mendengar, tetapi ia pura-pura tidak peduli. Ibunya pun keluar dan kembali berkata dengan penuh harap,
“Nak, tolong ya, ibu ingin ke pasar sebentar saja.”
Baca Juga
Namun, tanpa rasa bersalah, Dyana menjawab dengan nada tinggi,
“Berangkat sendiri saja! Ibu tidak lihat apa, aku lagi main. Nyusahin saja! Sudah sana, pergi sendiri, jangan ganggu aku!”
Suasana tiba-tiba berubah hening. Teman-temannya terdiam. Ibunya hanya menatap Dyana dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada amarah, hanya luka yang dalam. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan pergi.
Langkahnya pelan. Di setiap langkah, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Jalanan yang dilalui terasa begitu sepi, seolah ikut merasakan kesedihannya. Namun, ia tetap melangkah… demi memenuhi kebutuhannya sendiri.
Takdir berkata lain.
Di tengah perjalanan, sebuah truk melaju dengan kencang. Suara rem mendadak terdengar keras, diikuti benturan yang mengagetkan. Orang-orang sekitar berteriak panik. Dalam hitungan detik, semuanya berubah.
Ibu Dyana tergeletak di jalan.
Beberapa orang berusaha menolong dan segera membawanya ke rumah sakit. Namun, luka yang dialaminya terlalu parah. Nyawanya tidak tertolong.
Sementara itu, Dyana masih tertawa bersama teman-temannya, tanpa tahu bahwa dunia yang ia miliki sebentar lagi akan runtuh.
Hingga akhirnya, telepon itu berdering.
Dengan santai, Dyana mengangkatnya. Namun, suaranya langsung berubah saat mendengar kabar dari rumah sakit.
“Maaf… ibumu telah tiada.”
Seakan petir menyambar di siang hari, Dyana terdiam. Tubuhnya lemas. HP yang ia pegang jatuh ke lantai. Air matanya mulai mengalir deras. Ia tidak percaya… tidak siap… dan tidak tahu harus bagaimana.
Dengan panik, ia berlari menuju rumah sakit. Nafasnya terengah-engah, hatinya dipenuhi rasa takut. Tapi semua sudah terlambat.
Ibunya sudah tidak ada.
Hari itu juga, ibunya dimakamkan. Dyana bahkan tidak sempat melihat wajah terakhir orang yang paling menyayanginya.
Dengan langkah gontai, Dyana pergi ke makam ibunya. Ia berlutut di samping tanah yang masih basah. Tangisnya pecah. Ia memanggil ibunya berulang kali, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
“Ibu… maafkan aku… aku salah… aku jahat…”
Namun, tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Di situlah Dyana benar-benar sadar… bahwa kata-kata kasarnya adalah kata terakhir yang didengar ibunya. Penyesalan itu menusuk hatinya, lebih sakit dari apa pun.
Ia ingin mengulang waktu. Ia ingin memeluk ibunya. Ia ingin meminta maaf. Tapi semua itu tidak mungkin lagi.
Dari cerita ini, kita harus sadar betapa berharganya seorang ibu. Ia adalah bidadari tanpa sayap yang selalu menyayangi kita tanpa pamrih, bahkan saat kita menyakitinya.
Jangan tunggu sampai kehilangan untuk menyadari arti kehadirannya.
Jangan tunggu sampai penyesalan datang dan tidak bisa diperbaiki.
Selagi ibu kita masih ada, sayangi, hormati, dan bahagiakanlah dia.
Karena kesempatan tidak akan datang dua kali… dan penyesalan selalu datang di akhir.
*) Siswi Kelas 7 MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


