logo_mts192
0%
Loading ...

Hari Raya: Antara Ibadah dan Keceriaan

Share the Post:
Hari Raya: Antara Ibadah dan Keceriaan

Oleh: Abdul Wafi Hasan, SH *)

Hari raya dalam Islam bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebahagiaan. Ia adalah hari di mana hati yang telah ditempa selama Ramadan diberi ruang untuk bersyukur dan bergembira.

Sebuah kisah indah diriwayatkan oleh radhiyallahu ‘anha:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتِ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ، قَالَتْ : وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا “. (رواه البخاري)

Suatu hari, masuk ke rumahku. Saat itu ada dua gadis dari kaum Anshar yang sedang bernyanyi tentang peristiwa Bu’ats. Mereka bukan penyanyi profesional. Lalu Abu Bakr berkata, “Apakah seruling setan ada di rumah Rasulullah ﷺ?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai Abu Bakr, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.
” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini menghadirkan gambaran yang sangat hangat tentang suasana hari raya di masa Rasulullah ﷺ. Di dalam rumah beliau, ada kegembiraan. Ada nyanyian sederhana. Ada suasana ringan yang menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang kaku dan menutup ruang kebahagiaan.

Baca Juga

Pesan Rasulullah saw tentang Silahturrahim

Ketika merasa hal itu tidak pantas, Rasulullah ﷺ justru meluruskannya dengan penuh kelembutan. Beliau tidak melarang kegembiraan itu, tetapi menjelaskan bahwa hari raya memang waktunya bergembira.

“Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.”

Kalimat ini sederhana, tetapi penuh makna. Ia menunjukkan bahwa Islam mengakui kebutuhan manusia untuk bergembira. Setelah sebulan penuh menahan diri, beribadah, dan berjuang melawan hawa nafsu, datanglah hari di mana kita boleh mengekspresikan rasa syukur dengan kebahagiaan.

Namun kegembiraan dalam Islam tetap memiliki arah. Ia bukan kebebasan tanpa batas, tetapi kebahagiaan yang tetap berada dalam koridor kebaikan.

Dua gadis itu bernyanyi bukan dengan kemaksiatan, tetapi dengan syair tentang keberanian dan sejarah. Mereka bukan penyanyi profesional yang melalaikan, tetapi sekadar menghidupkan suasana. Ini menunjukkan bahwa kegembiraan yang sederhana dan bersih adalah bagian dari keindahan Islam.

Hari raya seharusnya menjadi momen yang menenangkan hati. Kita saling mengunjungi, saling memaafkan, saling berbagi kebahagiaan. Anak-anak tertawa, keluarga berkumpul, dan suasana penuh kehangatan terasa di mana-mana.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: rasa syukur.

Kegembiraan kita bukan sekadar karena hari raya, tetapi karena Allah telah memberi kita kekuatan untuk melewati Ramadan. Karena kita telah diberi kesempatan untuk beribadah. Karena kita masih diberi umur untuk kembali kepada-Nya.

Hadis ini mengajarkan keseimbangan yang indah: antara ibadah dan kebahagiaan, antara kesungguhan dan keceriaan.

Islam tidak melarang kita tersenyum. Islam tidak melarang kita bergembira. Bahkan di hari raya, Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kegembiraan itu adalah bagian dari syariat.

Maka ketika hari raya tiba, bergembiralah. Nikmati kebersamaan. Rasakan kehangatan keluarga. Namun tetap jaga hati agar tidak lupa kepada Allah.

Karena kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter