Oleh : Fathur Fozy, SH *)
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal kebajikan. Salah satu amalan yang tampak sederhana namun memiliki keutamaan luar biasa adalah memberi makan kepada orang yang berpuasa saat berbuka. Islam mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu diukur dari besar kecilnya pemberian, tetapi dari keikhlasan dan manfaatnya bagi sesama.
Dalam konteks inilah, Rasulullah ﷺ memberikan motivasi yang sangat agung melalui sabdanya tentang keutamaan memberi hidangan berbuka puasa. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berikut ini menjelaskan betapa besar pahala bagi orang yang memfasilitasi saudaranya dalam menyempurnakan ibadah puasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُنْقِصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi)
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia juga tentang memberi makan. Bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang membuka tangan.
Baca Juga
Hadis ini menghadirkan keindahan yang luar biasa dalam ajaran Islam. Bayangkan, seseorang berpuasa seharian penuh—menahan lapar, haus, dan godaan. Lalu ada orang lain yang mungkin tidak bersamanya sejak pagi, tidak merasakan hausnya, tidak ikut letihnya. Namun saat magrib tiba, ia menyuguhkan seteguk air atau sebutir kurma. Dan Allah menganugerahkan kepadanya pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu.
Tanpa mengurangi sedikit pun.
Betapa luasnya rahmat Allah. Betapa murahnya jalan menuju pahala. Memberi makan orang yang berbuka bukan sekadar soal makanan. Ia adalah wujud empati. Ia adalah bahasa cinta. Ia adalah cara sederhana untuk berkata, “Aku ingin engkau kuat dalam ibadahmu.”
Ramadan mengajarkan bahwa pahala tidak hanya lahir dari apa yang kita tahan, tetapi juga dari apa yang kita berikan.
Kadang kita merasa tak mampu berpuasa dengan sempurna. Ibadah kita terasa kurang. Tilawah belum banyak. Qiyam belum rutin. Namun hadis ini membuka pintu harapan: mungkin kita bisa meraih pahala besar dengan membantu orang lain menyempurnakan puasanya.
Sepiring nasi. Segelas air. Sebungkus kurma. Atau sekadar berbagi takjil di pinggir jalan. Di mata manusia, itu sederhana. Di sisi Allah, itu bisa bernilai surga.
Yang lebih menggetarkan lagi adalah jaminan bahwa pahala orang yang berpuasa tidak berkurang sedikit pun. Ini bukan pembagian yang mengurangi. Ini adalah pelipatgandaan yang meluaskan. Dalam logika dunia, jika sesuatu dibagi, maka ia berkurang. Tetapi dalam logika langit, berbagi justru melipatgandakan.
Ramadan adalah musim berbagi pahala.
Ketika kita memberi makan orang yang berbuka, kita tidak hanya mengenyangkan perutnya. Kita ikut serta dalam doanya yang mustajab saat berbuka. Kita ikut dalam rasa syukurnya. Kita ikut dalam letihnya yang diganti dengan ganjaran.
Dan mungkin, di antara orang-orang yang kita beri makan itu, ada yang doanya lebih dekat kepada langit daripada doa kita sendiri.
Maka jangan remehkan kesempatan ini. Jika tidak mampu mengadakan jamuan besar, jangan berkecil hati. Allah tidak menilai dari besar kecilnya hidangan, tetapi dari keikhlasan hati. Bisa jadi, sebotol air yang diberikan dengan tulus lebih berat di timbangan amal daripada hidangan mewah yang diberikan dengan riya.
Semoga Ramadan menjadikan kita bukan hanya hamba yang rajin berpuasa, tetapi juga hamba yang ringan berbagi. Semoga dari tangan-tangan kita mengalir pahala yang terus bertambah. Dan semoga kelak, ketika kita melihat catatan amal kita, kita terkejut mendapati pahala puasa yang tak pernah kita lakukan—namun Allah anugerahkan karena kita pernah menguatkan saudara kita di saat berbuka.
*) Staf TU MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


