Sarana Taqwa Dalam Dimensi Kemanusiaan

Oleh : Mahrus Sholeh, S.H. *)

Tak dapat dipungkiri kebanyakan dari kita menilai ibadah qurban, mungkin cenderung melihat sesuatu dari yang tampak, padahal Allah SWT melihat memutuskan dari niat dan keikhlasan. Mungkin tatkala kita melihat seseorang berqurban hanya dengan seekor kambing, kita menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar dan hormat kepada orang yang berqurban dengan seekor sapi gemuk. Padahal belum tentu penilaian kita benar – sebenar-benar penilai hanyalah Allah SWT. Jadi tak ada yang menghalangi seseorang untuk berqurban sedikit jika disertai hati yang suci, taqwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterimanya qurban yang banyak dari seseorang tanpa ketaqwaan dan keikhlasan. Namun di sini bukan berarti tidak diperbolehkan berqurban dengan jumlah banyak, berqurban banyak pun boleh (bahkan menjadi suatu keharusan) asal disertai dengan taqwa dan ikhlas. Taqwa dan ikhlas menjadi inti amal, mengapa? Sebab, banyak sebagian dari kita (bahkan diri penulis) tatkala beramal hanya untuk mencari muka, dan pujian semata.

Ibadah qurban bisa menjadi sarana untuk membentuk kepribadian yang penuh toleransi, media menebar kasih sayang, harmonis dan jauh dari keakuan. Hubungan yang baik akan terjalin antara yang berpunya dan kaum papa. Setidaknya selama beberapa hari tersebut kaum papa akan merasakan kesenangan dengan menu di meja makan. Misalnya saja hal itu bisa berlangsung terus – setidaknya untuk kebutuhan pokok – tentu tingkat kemiskinan di negara ini akan menurun. Lingkungan tercipta ketenangan dan ketentraman, tiada lagi kecemasan merisaukan perut yang menahan lapar. Tiada lagi perbedaan status/keadaan hidup yang curam dengan jarak menganga. Pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah qurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya atau bahkan
hilangnya sikap keakuan dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas.

Selanjutnya, berqurban merupakan ibadah wajib menurut sebagian ulama dan sunnah muakkad menurut ulama yang lain, dengan berqurban pula kita mendidik diri kita dan keluarga untuk meresapi makna pengorbanan sebagaimana Nabiyullah Ibrahim As beserta keluarganya memberikan contoh pengorbanan secara hakiki, dan penyembelihan hewan qurban adalah salah satu ritual dari makna pengorbanan itu untuk menggapai ketaqwaan kepada Allah SWT. Sehingga banyaknya hewan qurban yang disembelih menunjukkan respon masyarakat terhadap seruan ibadah qurban makin meningkat. Daging qurban, bukan semata pesta sate dan gulai? Tetapi, Ibadah qurban yang kita tunaikan sudah saatnya berfungsi bukan saja menggugurkan kewajiban tapi lebih dari itu mampu memberikan manfaat dan menjadi solusi sebagai jawaban atas kondisi nyata yang terjadi di negara ini.

Dibalik kesadaran kaum muslimin untuk berqurban serta melimpahnya hewan yang diqurbankan pada hari raya Idul Adha dan Hari Tasyrik, tersimpan potensi yang sangat besar bahwa daging qurban digunakan sebagai sarana untuk membina masyarakat (kaum kaya dan kaum papa). Sebagian daging yang lain dicadangkan untuk mengantisipasi daerah-daerah yang rawan bencana alam. Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat terdahulu memang sangat berbeda dengan syari’at qurban dalam Islam. Dalam Islam, risalah qurban merupakan ibadah yang syarat dengan makna. Pesan tersirat lainnya bahwa pelaksanaan qurban selayaknya tidak membawa derita bagi orang lain. Patut direnungkan bahwa, pelaksanaan ibadah qurban dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi ibadah kepada Allah SWT, tapi juga dimensi kemanusiaan.

Dimensi kemanusiaan ini nampak pada distribusi daging hewan qurban kepada yang berhak (Q.S.al-Hajj, 22: 36). Karenanya, para ulama ada yang membagi daging qurban menjadi tiga, yaitu: dimakan, diberikan kepada fakir miskin, dan disimpan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.” Walaupun demikian, dimensi-dimensi tersebut tidak akan bermakna apa-apa bila tanpa dilandasi dengan refleksi taqwa kepada Allah SWT. Dengan kata lain, aplikasi solidaritas sosial yang diwujudkan melalui qurban harus dilandasi niat yang ikhlas. Pembagian daging qurban kepada mereka yang berhak merupakan upaya pendekatan psikologis atas kesenjangan sosial antara kaum papa dan kaum kaya. Ibadah qurban adalah wahana hubungan kemanusiaan yang dilandasi oleh semangat sense of belonging dan sense of responsibility yang bisa menyuburkan kasih sayang antar sesama dalam rangk untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallah).

Wujud kepedulian sesama lewat ibadah qurban ini merupakan satu rangkaian pengabdian kepada Allah yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata lain, hablum minannas merupakan salah satu faktor terjalinnya hablum minallah secara baik. Sesuai dengan asal katanya “Qaruba” yang berarti dekat. Dengan demikian ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat yang telah diberikan. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Q.S.al-Hajj, 22: 36.

Melalui ibadah qurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui ibadah qurban ini kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita yang kekurangan.

*) Guru MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.