Karya: Fitria Hoirotun Nisa’ *)
Setelah satu tahun berpisah, akhirnya kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Bulan yang selalu dirindukan, dinanti dengan penuh harap oleh setiap umat Islam. Bulan yang sarat berkah, saat kita seharusnya memperbanyak doa, memohon ampunan, serta mengharap limpahan rahmat dari Allah SWT. Bulan di mana kita diberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tekun dalam ibadah, dan lebih sungguh-sungguh dalam mengejar kasih sayang-Nya.
Namun, Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, terutama di era media sosial saat ini, tak sedikit dari kita yang justru lebih sibuk memotret menu sahur dan berbuka untuk dipamerkan di status WhatsApp atau platform lainnya. Bahkan, ada pula yang menjadikan momen ibadah sebagai sekadar konten. Fenomena ini banyak terjadi di kalangan remaja zaman sekarang.
Baca Juga
Berbeda dengan masa ketika gawai belum begitu akrab dalam genggaman. Saat itu, Ramadhan terasa lebih hidup dan hangat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an lebih sering terdengar daripada dentuman musik yang sedang tren. Suasana masjid lebih ramai, hati terasa lebih tenang. Lalu kini, ke manakah jiwa-jiwa yang dahulu begitu tunduk kepada Sang Maha Esa? Apakah kemajuan teknologi, media sosial, dan berbagai godaan dunia perlahan telah melemahkan iman dalam diri kita?
Puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, apalagi hanya menghitung hari menuju hari raya. Puasa adalah tentang keteguhan iman yang sedang diuji. Tentang kesabaran yang dilatih, dan ketekunan dalam ibadah yang terus diasah. Bukan tentang swafoto dengan mukena atau peci berlatar lagu bernuansa Arab semata.
Tantangan besar lainnya adalah fenomena “balas dendam” saat berbuka. Setelah belasan jam menahan lapar, kita kerap melampiaskannya dengan makan berlebihan. Sungguh ironis. Bulan yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan dan empati kepada kaum dhuafa justru berubah menjadi bulan yang penuh pemborosan karena nafsu yang tak terkendali.
Ramadhan tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk mereset diri. Puasa yang berhasil bukan hanya diukur dari seberapa kuat kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari seberapa mampu kita menahan diri dari sifat boros, pamer, sombong, dan malas dalam berbuat kebaikan—terlebih malas menjalankan kewajiban.
Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa makna. Jangan sampai yang tersisa hanyalah rasa haus dan lapar, sementara pahala gagal kita raih. Mari jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik, untuk kembali menguatkan iman dan memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih taat dan penuh kesadaran.
*) Siswi Kelas IX MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


