Oleh : Fathur Rozy, SH. *)
Hari ini kita telah memasuki bulan Rabiul Akhir 1448 H. Bulan yang juga disebut dengan bulan Rabiuts Tsani merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah. Bagi sebagian orang, bulan ini mungkin tidak sepopuler Ramadhan, Muharram, atau Rabiul Awal. Namun, ketika kita membuka kembali lembaran sirah Nabawiyah, Rabiul Akhir ternyata menyimpan sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada masa Rasulullah saw
Peristiwa-peristiwa itu tidak hanya menjadi catatan sejarah. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana Rasulullah saw membangun masyarakat, menjaga keamanan, menghadapi berbagai ancaman, serta memperlakukan manusia dengan penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.
Salah satu peristiwa yang disebut dalam beberapa kitab Tarikh Islam adalah disempurnakannya jumlah rakaat shalat fardu bagi orang yang sedang berada di tempat tinggal. Pada masa awal Islam, shalat diwajibkan dua rakaat. Kemudian, shalat bagi orang yang bermukim ditetapkan menjadi empat rakaat, sementara ketentuan dua rakaat tetap berlaku bagi musafir. Riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi salah satu dasar yang disebutkan dalam pembahasan ini.
فُرِضَتِ الصَّلاةُ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ هاجَرَ النبيُّ ﷺ فَفُرِضَتْ أرْبَعًا، وتُرِكَتْ صَلاةُ السَّفَرِ على الأُولى (رواه البخاري)
“Shalat diwajibkan dua rakaat, kemudian Nabi ﷺ berhijrah maka diwajibkan (shalat wajib) empat rakaat, sedangkan shalat safar (bepergian) tetap dibiarkan seperti semula (dua rakaat).” (HR. Bukhari)
Peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa sejarah Islam bukan hanya berbicara tentang peperangan dan perjalanan. Ia juga berbicara tentang bagaimana kehidupan ibadah umat Islam secara bertahap dibangun dan disempurnakan.
Baca Juga
Rabi’ul Akhir dan Perjalanan Dakwah Rasulullah ﷺ
Pada tahun ketiga Hijriah, tercatat peristiwa Ghazwah Buhran. Rasulullah ﷺ mendapat kabar tentang berkumpulnya sejumlah orang dari Bani Sulaim di wilayah Buhran. Beliau kemudian berangkat bersama sekitar 300 sahabat, sementara Abdullah bin Ummi Maktum ditugaskan mengurus Madinah.
Ketika mengetahui kedatangan Rasulullah ﷺ, kelompok tersebut berpencar. Rasulullah ﷺ kemudian tinggal beberapa hari di wilayah tersebut sebelum kembali ke Madinah.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Muslim pada masa itu tidak berlangsung dalam keadaan yang selalu aman. Rasulullah ﷺ harus membangun kewaspadaan sekaligus memastikan keselamatan masyarakat Madinah.
Namun, kewaspadaan tidak berarti mencari permusuhan. Ketika ancaman tidak berlanjut, Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah.
Di sinilah kita dapat melihat sebuah prinsip penting dalam kepemimpinan: tegas dalam menjaga keamanan, tetapi tidak menjadikan konflik sebagai tujuan.
Ketika Keamanan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Pada tahun keenam Hijriah, beberapa ekspedisi juga terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir. Di antaranya adalah pengiriman pasukan yang dipimpin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu menuju wilayah al-Jumum.
Ada pula ekspedisi yang dipimpin Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu menuju Bani Tsa’labah. Pengiriman pasukan ini berkaitan dengan terbunuhnya sejumlah sahabat dalam sebuah ekspedisi sebelumnya.
Dalam catatan sirah seperti ini, kita perlu memahami konteks kehidupan masyarakat Arab pada masa itu. Madinah bukanlah sebuah wilayah yang hidup tanpa ancaman. Hubungan antarkelompok sering kali dipengaruhi oleh aliansi, konflik, dan persoalan keamanan.
Karena itu, sejumlah ekspedisi Rasulullah ﷺ harus dibaca dalam konteks menjaga masyarakat dan menghadapi ancaman yang nyata, bukan sekadar sebagai kisah peperangan.
Pelajaran dari Peristiwa Api
Ada satu kisah menarik yang juga dicatat dalam peristiwa Rabi’ul Akhir, yaitu ekspedisi yang dipimpin Alqamah bin Mujazziz.
Dalam perjalanan pulang, muncul peristiwa ketika sebagian pasukan diperintahkan untuk menyalakan api dan bahkan diperintahkan untuk masuk ke dalamnya. Para sahabat merasa keberatan. Ketika persoalan itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau memberikan prinsip yang sangat penting:
لا طاعةَ في مَعصيةِ اللَّهِ
“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ahmad)
Pesan Rasulullah saw yang singkat ini sangat relevan untuk kehidupan manusia hingga hari ini. Islam mengajarkan ketaatan kepada pemimpin, tetapi ketaatan itu bukan ketaatan tanpa batas. Ketika sebuah perintah bertentangan dengan ketaatan kepada Allah, manusia tidak boleh mengikutinya.
Dengan demikian, Islam membangun keseimbangan antara disiplin dan tanggung jawab moral. Seorang bawahan tidak boleh menjadi manusia yang kehilangan akal dan nuraninya hanya karena menerima perintah.
Ketika Kebaikan Membuka Pintu Hidayah
Salah satu bagian paling menyentuh dari catatan Rabi’ul Akhir adalah kisah Safanah, putri Hatim ath-Tha’i.
Dalam sebuah ekspedisi ke wilayah Bani Thayyi’, kaum Muslimin membawa sejumlah tawanan. Di antara mereka terdapat Safanah, putri Hatim ath-Tha’i, sosok yang dikenal luas dalam tradisi Arab karena kedermawanannya.
Safanah kemudian berbicara kepada Rasulullah ﷺ dan memohon agar dirinya dibebaskan. Ia menyebut berbagai sifat baik yang dimiliki ayahnya: melindungi orang yang membutuhkan perlindungan, membebaskan tawanan, memberi makan orang yang lapar, dan menghormati manusia.
Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan kebaikan tersebut. Beliau kemudian membebaskan Safanah, memberinya pakaian, bekal, dan kendaraan untuk melakukan perjalanan.
Kisah ini memperlihatkan sisi lain dari pribadi Rasulullah ﷺ. Beliau bukan hanya seorang pemimpin yang tegas. Beliau juga seorang manusia yang mampu melihat kebaikan bahkan pada orang yang berbeda keyakinan.
Kebaikan tidak menjadi kecil hanya karena datang dari orang yang berbeda.
Justru dari situlah kita belajar bahwa akhlak yang baik memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia dapat membuka hati yang sebelumnya tertutup.
Safanah dan Jalan Pulangnya Sang Kakak
Setelah dibebaskan, Safanah pergi menemui kakaknya, Adi bin Hatim, yang ketika itu berada di Syam.
Kepada kakaknya, Safanah menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukannya. Ia menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai sosok yang mencintai orang miskin, membebaskan tawanan, menyayangi anak kecil, menghormati orang tua, dan memiliki kemurahan hati yang luar biasa.
Pesan Safanah akhirnya mendorong Adi bin Hatim untuk datang ke Madinah dan menemui Rasulullah ﷺ. Pertemuan itu kemudian menjadi jalan bagi Adi bin Hatim untuk menerima Islam.
Di sinilah sebuah pelajaran besar tentang dakwah dapat kita renungkan. Terkadang seseorang tidak tersentuh oleh banyak argumentasi. Tetapi ia dapat berubah karena melihat satu akhlak yang tulus.
Safanah tidak membawa pulang pidato panjang dari Rasulullah ﷺ. Ia membawa pulang pengalaman tentang kemuliaan akhlak. Dan pengalaman itu ternyata mampu mengetuk hati saudaranya.
Dakwah Tidak Hanya dengan Kata-Kata
Kisah Safanah dan Adi bin Hatim mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar.
Dakwah dapat dimulai dari cara kita memperlakukan orang lain. Dari cara kita berbicara kepada orang yang lebih lemah. Dari cara kita memperlakukan orang yang berbeda pandangan. Dari kesediaan kita membantu orang yang sedang kesulitan. Dari kemampuan kita memaafkan. Dan dari ketulusan kita menjaga martabat manusia.
Rasulullah ﷺ mengajarkan Islam bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui keteladanan.
Karena itu, akhlak yang baik sering kali menjadi bahasa dakwah yang paling mudah dipahami.
Rabiul Akhir dan Pelajaran untuk Hari Ini
Catatan sejarah tentang Rabi’ul Akhir pada akhirnya bukan sekadar daftar ekspedisi, nama sahabat, tempat, dan tahun.
Di balik setiap peristiwa terdapat nilai yang dapat kita bawa ke kehidupan hari ini.
Kita belajar tentang kedisiplinan dari kehidupan para sahabat. Kita belajar tentang kewaspadaan dari cara Rasulullah ﷺ menjaga masyarakat Madinah. Kita belajar tentang batas ketaatan dari sabda Rasulullah ﷺ tentang larangan menaati perintah dalam kemaksiatan.
Kita belajar tentang kemuliaan akhlak dari cara Rasulullah ﷺ memperlakukan Safanah. Dan kita belajar bahwa kebaikan dapat menjadi pintu hidayah, sebagaimana pengalaman Safanah akhirnya menjadi jalan yang mengantarkan Adi bin Hatim kepada Islam.
Sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah menjadi bermakna ketika ia mampu mengubah cara kita menjalani masa kini.
Rabi’ul Akhir mengajarkan bahwa perjalanan umat Islam dibangun bukan hanya dengan keberanian, tetapi juga dengan kebijaksanaan; bukan hanya dengan ketegasan, tetapi juga dengan kasih sayang; bukan hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan akhlak.
Dan mungkin, di situlah salah satu pesan terpenting dari sirah Rasulullah ﷺ: Bahwa kemenangan yang paling indah bukanlah ketika kita mampu mengalahkan orang lain, tetapi ketika akhlak kita mampu membuka hati manusia kepada kebaikan.
Sumber
- Al-Ayyam An-Nadhrah was-Sirah Al-‘Itraḥ
- Muhammad Rasulullah
- Al-Hawi Al-Kabir — Al-Mawardi.
- Ar-Rahiq Al-Makhtum.
- At-Tabaqat Al-Kubra — Ibnu Sa’d.
- As-Sirah An-Nabawiyah — Ibnu Hisyam
- Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam
*) Staf TU MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


