logo_mts192
0%
Loading ...

Ketika Cinta kepada Rasulullah saw Menjadi Ukuran Hati

Share the Post:

Oleh : Abdul Wafi Hasan , SH *)

Ada banyak hal yang kita cintai dalam hidup. Kita mencintai orang tua karena dari merekalah kita belajar mengenal dunia. Kita mencintai anak-anak karena di dalam senyum mereka ada kebahagiaan. Kita mencintai pasangan, saudara, keluarga, dan orang-orang terdekat yang selalu hadir dalam perjalanan hidup.

Kita juga mencintai harta, pekerjaan, usaha, rumah, dan segala sesuatu yang membuat hidup terasa nyaman.

Semua itu manusiawi. Tetapi ada satu pertanyaan yang sangat dalam dari Al-Qur’an: ketika semua yang kita cintai itu dibandingkan dengan Allah dan Rasul-Nya, di manakah posisi cinta kita?

Allah Swt. berfirman:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَاۤؤُكُمۡ وَأَبۡنَاۤؤُكُمۡ وَإِخۡوَ ٰ⁠نُكُمۡ وَأَزۡوَ ٰ⁠جُكُمۡ وَعَشِیرَتُكُمۡ وَأَمۡوَ ٰ⁠لٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةࣱ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَاۤ أَحَبَّ إِلَیۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادࣲ فِی سَبِیلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ یَأۡتِیَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِینَ ۝٢٤

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini bukan sedang mengajarkan kita untuk tidak mencintai keluarga. Bukan pula menyuruh kita meninggalkan harta, pekerjaan, rumah, atau kehidupan dunia.

Baca Juga

Nabi Isa Pun Mengabarkan Kelahiran Rasulullah saw

Justru semua itu boleh dicintai. Tetapi Al-Qur’an sedang mengajarkan urutan cinta. Ada cinta yang boleh memenuhi hati, tetapi ada cinta yang harus berada di atas segala cinta. Dan di situlah letak cinta kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.

Cinta Itu Bukan Sekadar Kata

Kita sering mengatakan, “Saya cinta Rasulullah ﷺ.” Kita bershalawat. Kita membaca Maulid. Kita menghadiri majelis. Kita menyebut nama beliau dengan penuh penghormatan.

Semua itu indah. Tetapi ayat ini mengajak kita masuk lebih jauh. Benarkah Rasulullah ﷺ menjadi yang paling kita cintai?

Pertanyaan ini tidak harus dijawab dengan kata-kata. Jawabannya justru terlihat dari kehidupan kita.

Ketika ajaran Rasulullah ﷺ bertemu dengan keinginan pribadi, mana yang kita pilih Ketika sunnah beliau bertemu dengan kebiasaan kita, mana yang kita pertahankan? Ketika akhlak Rasulullah ﷺ mengharuskan kita bersabar, memaafkan, jujur, dan menahan amarah, apakah kita mau melakukannya?

Di situlah cinta diuji. Sebab cinta yang sebenarnya tidak hanya membuat kita senang menyebut nama seseorang, tetapi juga membuat kita senang mengikuti jalan yang dicintainya.

Orang yang mencintai Rasulullah ﷺ tentu ingin mengenalnya. Ia ingin mengetahui bagaimana beliau berbicara. Bagaimana beliau memperlakukan keluarganya. Bagaimana beliau menghadapi orang yang menyakitinya. Bagaimana beliau memperlakukan orang miskin. Bagaimana beliau bersikap kepada anak-anak. Bagaimana beliau memaafkan. Bagaimana beliau beribadah. Bagaimana beliau menangis karena takut kepada Allah.

Semakin seseorang mengenal Rasulullah ﷺ, biasanya semakin tumbuh rasa cinta di dalam hatinya.

Dan semakin besar cintanya, semakin besar pula keinginannya untuk meneladani beliau.

Allah Swt. berfirman.


قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّه

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali Imran: 31)

Ayat ini seakan memberikan jawaban sederhana tentang cinta: cinta harus dibuktikan dengan mengikuti.

Rabiul Awwal telah tiba—hati umat Islam kembali diingatkan kepada sosok manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ.

Bulan kelahiran beliau seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui cinta.

Bukan hanya memperbanyak acara, tetapi memperbanyak pengenalan. Bukan hanya memperbanyak shalawat, tetapi memperbanyak keteladanan. Bukan hanya mengingat kelahiran beliau, tetapi menghidupkan ajaran beliau.

Mari kita sambut Rabiul Awwal dengan gembira. Mari perbanyak shalawat. Mari membaca sirah Nabi ﷺ. Mari mengenalkan beliau kepada anak-anak kita.

Mari mengajarkan kepada mereka bahwa Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar nama yang mereka dengar dalam pelajaran agama. Beliau adalah manusia yang harus mereka cintai, mereka kenali, dan mereka teladani.

Sebab dunia hari ini mungkin semakin maju, tetapi manusia tetap membutuhkan akhlak.

Teknologi semakin canggih, tetapi hati tetap membutuhkan keteladanan. Informasi semakin banyak, tetapi manusia tetap membutuhkan arah. Dan Rasulullah ﷺ telah memberikan semuanya melalui kehidupan beliau.

Ayat ke-24 dari Surah At-Taubah ini sebaiknya tidak hanya kita baca dengan lisan.

Sesekali, mari kita bawa ayat ini ke dalam hati. Apa yang paling kita cintai? Apakah keluarga Apakah harta? Apakah pekerjaan? Apakah jabatan? Apakah rumah dan kenyamanan? Ataukah Allah dan Rasul-Nya?

Bukan berarti kita harus kehilangan semua yang kita cintai. Bukan.

Tetapi jangan sampai sesuatu yang kita cintai membuat kita rela meninggalkan Allah dan Rasul-Nya.

Jangan sampai karena pekerjaan kita meninggalkan kewajiban. Jangan sampai karena harta kita mengorbankan kejujuran. Jangan sampai karena keluarga kita mengabaikan kebenaran. Dan jangan sampai karena mengejar dunia, kita kehilangan hubungan dengan Rasulullah ﷺ.

Karena pada akhirnya, semua yang kita cintai di dunia ini akan meninggalkan kita atau kita yang akan meninggalkannya.

Harta akan ditinggalkan. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Bahkan orang-orang yang paling kita cintai pun suatu hari akan berpisah dengan kita.

Tetapi cinta kepada Allah dan Rasulullah ﷺ adalah cinta yang membawa kita menuju kehidupan yang kekal.

Maka mari belajar mencintai Rasulullah ﷺ dengan lebih sungguh-sungguh.

Kenali beliau. Bershalawatlah kepada beliau. Bacalah kisah hidup beliau. Teladanilah akhlaknya. Hidupkan sunnahnya. Dan ajarkan cinta itu kepada generasi setelah kita.

Sebab mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan yang tinggal di dalam hati.

Ia adalah jalan hidup. Dan ketika cinta itu benar-benar tumbuh, kita tidak hanya akan senang menyebut nama Muhammad ﷺ.

Kita akan rindu mengikuti jejaknya. Kita akan rindu meneladani akhlaknya. Dan semoga, karena cinta itu, kelak kita mendapatkan kebahagiaan terbesar: dikumpulkan bersama Rasulullah ﷺ.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ya Allah, tumbuhkanlah dalam hati kami cinta kepada-Mu dan cinta kepada Rasul-Mu. Jadikanlah cinta itu bukan sekadar ucapan, tetapi menjadi kekuatan bagi kami untuk mengikuti sunnah dan meneladani akhlak Rasulullah saw

*) Pembina Eskul Seni Religi MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter