Oleh : Muhammad Ismail, S.Pd *)
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa merupakan ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan moral yang sangat mendalam. Dalam Islam, puasa tidak hanya melatih fisik, tetapi juga membentuk kepribadian dan akhlak seorang mukmin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ (رواه ابن حبان)
“Sesungguhnya Puasa itu bukan sekadar menahan dari makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan ucapan/perbuatan keji.” (HR. Ibnu Hibban)
Betapa sering kita memahami puasa sebatas menahan lapar dan dahaga. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita menjaga agar tidak ada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Kita disiplin terhadap jam, berhati-hati terhadap hal-hal yang membatalkan. Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa hakikat puasa jauh lebih dalam dari sekadar urusan perut
Puasa adalah ibadah seluruh anggota badan.
Apa gunanya perut berpuasa jika lisan tetap melukai? Apa artinya dahaga jika hati masih penuh iri dan dengki? Apa makna menahan makan jika jari-jemari masih ringan menyebarkan keburukan? Hadis ini seperti cermin yang jujur—mengajak kita bertanya: sudahkah kita benar-benar berpuasa?
Baca Juga
Rasulullah ﷺ menyebut dua hal: laghw dan rafats. Laghw adalah perkataan sia-sia, obrolan tanpa manfaat, ucapan yang tak membawa kebaikan. Sedangkan rafats adalah ucapan yang kotor, yang melanggar kesopanan dan kesucian diri. Dua hal ini sering kali dianggap ringan, padahal darinyalah banyak dosa bermula.
Ramadan datang untuk membersihkan, bukan hanya mengosongkan.
Puasa sejati adalah ketika lisan ikut berpuasa dari ghibah, fitnah, dan celaan. Mata ikut berpuasa dari pandangan yang haram. Telinga ikut berpuasa dari mendengar yang tak patut. Hati ikut berpuasa dari prasangka buruk dan kebencian. Seluruh diri memasuki keadaan tunduk dan terjaga.
Karena sejatinya, yang paling sulit ditahan bukanlah lapar, tetapi ego. Yang paling berat bukanlah dahaga, tetapi amarah. Banyak orang mampu menahan makan seharian, tetapi sulit menahan satu kalimat kasar. Banyak yang kuat menahan haus, tetapi lemah menahan komentar pedas.
Di sinilah nilai pendidikan Ramadan. Puasa mengajarkan kita untuk memperlambat reaksi. Saat emosi muncul, kita ingat: “Aku sedang berpuasa.” Saat ingin membalas ucapan dengan kemarahan, kita memilih diam. Saat tergoda untuk ikut dalam percakapan yang sia-sia, kita menahan diri. Setiap penahanan itu bukan sekadar etika, melainkan ibadah.
Puasa bukan hanya ritual fisik, tetapi latihan kematangan jiwa.
Jika setelah Ramadan lisan kita lebih terjaga, hati kita lebih lembut, dan sikap kita lebih santun, maka itulah tanda puasa kita berbuah. Namun jika yang berubah hanya jadwal makan, sementara akhlak tetap sama, maka kita perlu merenung kembali.
Ramadan adalah kesempatan untuk memurnikan diri. Bukan hanya membersihkan tubuh dari makanan, tetapi membersihkan hati dari kekotoran. Bukan hanya menahan yang masuk ke dalam perut, tetapi juga menahan yang keluar dari mulut.
Semoga puasa kita tahun ini menjadi puasa yang utuh—puasa yang dirasakan oleh seluruh anggota badan. Puasa yang tidak hanya membuat kita lapar, tetapi membuat kita lebih sadar. Tidak hanya membuat kita haus, tetapi membuat kita lebih bijak.
Karena pada akhirnya, puasa yang diterima bukanlah yang paling lama menahan lapar, tetapi yang paling mampu menjaga diri dari dosa.
*) Waka Kurikulum MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


