Oleh: Aris Purnomo, S.Pd *)
Puasa merupakan salah satu ibadah istimewa dalam Islam yang memiliki kedudukan agung di sisi Allah swt. Ibadah ini tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi sarana perlindungan bagi seorang hamba dari berbagai keburukan, baik di dunia maupun di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّوْمُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ
“Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba melindungi diri dari api neraka.”(HR. At-Thabrani)
Betapa singkat sabda itu, namun begitu dalam maknanya. Puasa disebut junnah—perisai. Dalam bahasa Arab, junnah adalah sesuatu yang digunakan untuk melindungi diri dari serangan, seperti tameng dalam peperangan. Ia bukan sekadar simbol, tetapi alat perlindungan yang nyata.
Lalu dari apa kita dilindungi? Dari api neraka.
Kita hidup di dunia yang penuh godaan. Mata melihat yang tak semestinya dilihat. Telinga mendengar yang tak patut didengar. Lisan mudah tergelincir, hati cepat tergerak oleh iri dan amarah. Dosa sering kali hadir bukan karena kebencian kita kepada Allah, tetapi karena lemahnya pertahanan diri. Kita tahu, tetapi kita lengah. Kita paham, tetapi kita kalah oleh hawa nafsu.
Di sinilah puasa menjadi perisai. Saat seseorang berpuasa, ia sedang membangun benteng dalam dirinya. Ia menahan lapar bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena ada perintah Allah. Ia menahan dahaga bukan karena tidak mampu minum, tetapi karena ingin taat. Ia mampu saja melakukan banyak hal secara sembunyi-sembunyi, tetapi ia memilih jujur pada Tuhannya.
Baca Juga
Puasa melatih kejujuran yang paling sunyi.
Ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang mengawasi, ia tetap menjaga puasanya. Di saat itulah perisai itu mulai terbentuk—bukan dari baja, tetapi dari takwa.
Perisai itu bekerja perlahan. Ia menguatkan kontrol diri. Ia menahan lidah dari berkata kasar. Ia meredam amarah yang hampir meledak. Ia mengingatkan hati ketika godaan datang: “Aku sedang berpuasa.” Kalimat sederhana itu sering kali cukup untuk menyelamatkan kita dari dosa yang mungkin membawa penyesalan panjang.
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Ia adalah latihan menghadapi diri sendiri. Kita berhadapan dengan keinginan, kebiasaan, bahkan kelemahan kita. Setiap kali kita berhasil menahan diri, perisai itu semakin kokoh. Setiap kali kita memilih sabar daripada marah, memilih diam daripada menyakiti, memilih jujur daripada curang, kita sedang mempertebal lapisan pelindung jiwa.
Ramadan hadir sebagai musim pembentukan perisai itu.
Sebulan penuh kita dilatih untuk waspada terhadap dosa. Kita diajak memperbanyak istighfar, memperindah akhlak, memperbanyak sedekah, dan mempererat hubungan dengan Al-Qur’an. Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan upaya memperkuat benteng ruhani agar ketika Ramadan berlalu, perisai itu tetap kita bawa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab api neraka tidak hanya dipadamkan oleh banyaknya amal, tetapi juga dijauhi oleh kuatnya penjagaan diri.
Puasa mengajarkan bahwa keselamatan bukan datang dari kekuatan fisik, melainkan dari kemampuan menahan diri. Dunia mungkin memuji orang yang agresif dan cepat bereaksi, tetapi Allah mencintai hamba yang mampu mengendalikan dirinya.
Maka ketika kita berpuasa, jangan hanya merasa sedang lapar. Rasakanlah bahwa kita sedang membangun perlindungan untuk akhirat kita. Setiap rasa haus adalah pengingat akan dahaga yang lebih dahsyat di akhirat. Setiap lapar adalah pengingat bahwa keselamatan membutuhkan pengorbanan.
Semoga puasa kita bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi perisai yang menyelamatkan. Perisai yang menjaga kita dari api neraka, yang melembutkan hati, yang membersihkan jiwa, dan yang mengantarkan kita kepada ridha Allah.
Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hanya kenyang di dunia, tetapi keselamatan di akhirat.
*) Waka Sarpras MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


