logo_mts192
0%
Loading ...

Pemuda untuk Indonesia: Dari Ikrar 1928 Menuju Indonesia Emas 2045

Share the Post:

Oleh : Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah, suku, dan agama berkumpul di Batavia dan mengikrarkan satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia. Saat itu negeri ini belum merdeka, tetapi para pemuda sudah menyatukan hati. Kini, pada peringatan ke-98 Sumpah Pemuda, tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” mengingatkan kita bahwa ikrar itu bukan sekadar sejarah, melainkan tugas yang harus terus dilanjutkan.

Bagi santri dan siswa, Sumpah Pemuda adalah cermin. Para pemuda tahun 1928 bukanlah orang yang sudah mapan. Banyak dari mereka masih pelajar yang berani bermimpi melampaui batas daerah dan golongannya. Santri punya teladan serupa: Resolusi Jihad 1945 menunjukkan bahwa kecintaan kepada tanah air bisa tumbuh dari pesantren dan madrasah. Hubbul wathan minal iman — cinta tanah air bagian dari iman — bukan hanya semboyan. Cinta itu hadir ketika siswa rajin belajar, jujur saat ujian, menghormati guru dan teman yang berbeda latar belakang, serta menjaga nama baik pesantren, madrasah, dan bangsanya.

Baca Juga

Hari Santri 2026 : Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

Dari sinilah kita bicara tentang generasi emas. Generasi emas bukan generasi yang kebetulan lahir di waktu yang tepat. Ia terbentuk dari ilmu, akhlak, dan kerja keras. Indonesia sedang memiliki bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Bonus ini bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi beban jika pemudanya tidak dibekali ilmu, karakter, dan keterampilan. Karena itu, emas harus ditempa. Ia menjadi berharga setelah melalui proses yang panjang dan tidak selalu nyaman.

Hasil tempaan itu kita harapkan terwujud pada Indonesia Emas 2045, ketika bangsa ini genap seratus tahun merdeka. Siswa kelas tujuh hari ini akan berusia sekitar tiga puluh tahun pada saat itu. Merekalah yang akan menjadi guru, dokter, pengusaha, ulama, peneliti, dan pemimpin yang menentukan arah negeri ini. Indonesia Emas bukan hadiah yang datang dengan sendirinya. Ia dibangun dari kebiasaan kecil yang dimulai sekarang: disiplin, membaca, jujur, dan peduli.

Tantangan yang dihadapi pemuda hari ini berbeda dari tahun 1928. Dulu musuhnya adalah penjajahan; sekarang berupa hoaks yang memecah belah, kecanduan gawai, perundungan, judi online, pinjaman online, serta rendahnya minat baca. Persaingan global dan perubahan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, bergerak sangat cepat. Di tengah situasi itu, tiga nilai pada tema peringatan ini menjadi pegangan: Patriotik berarti bangga dan setia pada Indonesia, termasuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan memakai media sosial secara bijak. Gigih berarti tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan belajar dan keterbatasan. Berempati berarti peka terhadap sesama, karena persatuan hanya bertahan jika kita mau memahami dan membantu orang lain.

Semua itu tidak mungkin tumbuh tanpa peran pendidik. Guru dan ustadz adalah penerus semangat para penggagas Sumpah Pemuda, yang bekerja sunyi tanpa sorotan. Mereka tidak hanya memindahkan ilmu, tetapi juga menanamkan adab, meneladani lewat sikap, dan sabar menuntun anak yang belum paham. Di era ketika informasi bisa diperoleh dalam sekejap, peran pendidik justru makin penting, yaitu menjadi penuntun yang membantu murid memilah mana yang benar dan bermanfaat. Pendidik yang tulus dapat mengubah satu ruang kelas menjadi awal perubahan bagi satu bangsa.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan adalah modal terbesar bagi kita. Bagi santri dan siswa, tugas hari ini sederhana tetapi tidak ringan: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak, dan menyiapkan diri. Bagi pendidik, tugasnya adalah terus membimbing dengan ikhlas. Jika keduanya berjalan seiring, ikrar 1928 akan terus hidup, dan Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar cita-cita dalam angan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Pemuda untuk Indonesia, Indonesia untuk dunia.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter