Oleh: Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)
Di era digital, nafsu tak lagi hanya datang dari dunia nyata, ia bermetamorfosis menjadi bentuk virtual yang licin dan mematikan. Smartphone di tangan kita seperti pedang bermata dua, memudahkan akses ilmu, tapi juga membuka pintu lebar bagi godaan instan. Menahan nafsu virtual scroll yang tak berujung, konten haram, perdebatan online hingga caci maki menjadi jihad kontemporer terutama bagi pemuda Muslim. Tulisan ini akan mengajak merenungkan hakikat nafsu virtual yang merupakan tantangan di zaman serba digital agar jiwa tetap suci saat berpuasa.
Nafsu virtual adalah dorongan psikologis yang dipicu teknologi, mirip nafsu amarah atau syahwat tapi disalurkan lewat layar. Psikolog Justin Rosenstein, pencipta tombol ‘like’ Facebook, menyesali ciptaannya karena menciptakan dopamine loop siklus kenikmatan sementara yang bikin ketagihan. Dalam Islam, nafsu ini selaras dengan nafsu ammarah yang mendorong pada sebuah kejahatan. Seperti yang dijelaskan dalam (QS Yusuf: 53)
اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ
Artinya: sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.
Baca Juga
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR. Bukhari).
Segumpal daging itu kini terhubung dengan algoritma yang tahu kelemahan kita, satu klik, muncul video yang mengandung syahwat, satu scroll banjir iklan makanan, gosip atau berita-berita yang memancing emosi dan hasrat untuk ikut berkomentar pedas bahkan buruk dengan jari-jari kita.
قال صلى الله عليه وسلم : النَّظْرَةُ سَهُم مَسمُومٌ مِنْ سِهام إبليس لعنه الله ، مَنْ تَرَكَهَا خوفًا مِنَ اللهِ آتاه الله عز وجل إِيمَانًا يَجِدُ لَهُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pandangan adalah panah beracun dari panah setan, semoga Allah melaknatnya. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Yang Maha Kuasa akan menganugerahinya iman, yang manisnya akan ia temukan di dalam hatinya.”
وروى جابر عن أنس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: خَمْسٌ يُفَطِرْنَ الصَّائِم، الكذب والغيبة، والنَّمِيمَة، واليَمِينُ الكاذبة والنظر بشهوة
Artinya: “Jabir meriwayatkan dari Anas, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Lima hal yang membatalkan puasa: berbohong, bergosip, memfitnah, bersumpah palsu, dan memandang dengan nafsu.”
وقد قال صلى الله عليه وسلم : كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطش
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar dan haus.”
Sebagian ulama menafsirkan orang yang termasuk dalam hadits ini adalah:
هو الذي لا يحفظ جوارحه عن الآثام
Artinya: orang yang tidak menjaga anggota tubuhnya dari dosa.
Dari beberapa keterangan di atas sangatlah relevan dengan era saat ini yang semuanya serba digital. Dan di era digital ini anggota tubuh yang sangat rentan untuk berbuat dosa adalah mata dan jari-jari tangan. Era digital memperbesar skala tantangan. Data We Are Social (2026) mencatat bahwa warga Indonesia rata-rata menghabiskan 8 jam/hari online dan 50% di media sosial.
Baca Juga
Nafsu virtual muncul dalam bentuk: 1). isual haram seperti pornografi mikro di TikTok, Instagram Reels atau Facebook dan lainnya yang tentunya hal itu dapat merusak puasa mata; 2). Verbal toksik seperti komentar pedas di Twitter/X dan Facebook yang memicu ghibah digital; 3). onsumerisme via e-commerce, di mana jari-jari berbelanja impulsif yang dapat memicu boros harta.
Penelitian Journal of Islamic Studies (2025) menemukan 62% remaja Muslim alami penurunan iman gara-gara kecanduan ini. Di bulan puasa, ironinya, badan menahan lapar dan dahaga, tapi mata tak henti scroll dengan konten-konten yang memicu nafsu yang dapat menggugurkan pahala puasa itu sendiri.
Menahan nafsu virtual memang sulit dihindari tapi bukan berarti tidak bisa, namun yakinlah bahwa dosa itu tetap tercatat oleh malaikat. Algoritma seperti di YouTube personalisasi konten adiktif, menciptakan echo chamber nafsu. Survei lokal di UIN KHAS Jember (2026) mengungkap 70% mahasiswa terganggu notifikasi saat shalat sehingga menghilangkan kekhusyukan. Ini merupakan suatu ujian taqwa versi baru dan bukan lagi melawan lapar, tapi melawan FOMO dan validasi like.
Di era ini memang sangat penting menguasai dunia digital, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana sekiranya dunia digital ini tidak menguasai bahkan mengendalikan diri kita hingga merusak ibadah dan ketakwaan kita terhadap Allah SWT. Teknologi sebenarnya bukanlah musuh, akan tetapi ia merupakan sebuah alat dan alat itu tergantung pada siapa dan bagaimana ia menggunakan dan memanfaatkannya.
Puasa di era digital ini menahan nafsu virtual adalah merupakan sebuah kemenangan besar. Jadikan era digital sebagai ladang pahala, bukan sebagai kuburan iman. Seperti halnya puasa fisik melatih perut menahan lapar dan dahaga, puasa virtual adalah melatih jiwa. Maka dari itu, sadarlah dan lepaskan genggaman dari layar gadget dan genggamlah iman dan takwa karena kemenangan sejati bukanlah ribuan like dan komentar, tapi ridha dari Allah Yang Maha Besar.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


