Oleh : Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)
4). Menahan seluruh anggota tubuh dari dosa, seperti tangan dan kaki dari perbuatan buruk, menahan perut dari perkara syubhat saat berbuka. Maka tidak ada gunanya berpuasa jika hanya menahan diri dari makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Perumpamaan orang yang berpuasa seperti ini adalah seperti seseorang yang membangun istana tetapi merobohkan atau menghancurkan sebuah kota. Makanan halal itu bahayanya pada jumlahnya, bukan pada jenisnya, sedangkan puasa bertujuan menguranginya. Barangsiapa yang menghindari obat karena takut bahayanya, namun beralih memakan racun, maka dia adalah orang bodoh. Makanan haram adalah racun mematikan bagi agama, sedangkan makanan halal adalah obat yang bermanfaat jika sedikit dan membahayakan jika berlebihan. Tujuan puasa adalah menguranginya. Rasulullah SAW bersabda:
كمْ مِنْ صَائِمِ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الجوع والعطش
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa mereka adalah orang yang berbuka dengan makanan haram, atau orang yang menahan diri dari makanan halal lalu berbuka dengan memakan daging manusia (ghibah), atau orang yang tidak menjaga anggota tubuhnya dari dosa.
5) Tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan halal saat berbuka hingga perut terasa penuh. Tidak ada wadah yang lebih dibenci oleh Allah SWT daripada perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana mungkin puasa bisa digunakan untuk mengalahkan musuh Allah dan menghancurkan syahwat jika orang yang berpuasa justru mengganti apa yang terlewatkan di siang hari saat berbuka?.
Dan mungkin bahkan lebih banyak lagi varian dari berbagai macam makanan hingga menjadi suatu kebiasaan menimbun semua makanan untuk bulan Ramadlan, lalu memakan makanan yang tidak biasa dimakan pada bulan-bulan lainnya. Padahal telah diketahui bahwa tujuan puasa adalah mengosongkan perut dan menghancurkan hawa nafsu agar jiwa kuat dalam ketakwaan. Jika perut dibiarkan dari pagi hingga isya hingga bergejolak nafsunya, dan hasratnya semakin kuat dan kemudian ia dipuaskan dengan kenikmatan sehingga kenikmatannya bertambah dan kekuatannya berlipat ganda, dan hasrat yang mungkin terpendam jika dibiarkan tanpa kendalipun terbangun seperti biasanya.
Baca Juga
Hikmah dan rahasia puasa adalah melemahkan kekuatan yang menjadi perantara setan dalam kembali berbuat keburukan. Dan hal itu tidak akan pernah tercapai kecuali dengan mengurangi makan, yaitu makan dengan porsi yang biasa dimakan setiap malam jika tidak berpuasa. Namun, jika ia menggabungkan porsi dari makan pagi ke makan malam, maka ia tidak akan mendapatkan manfaat dari puasanya. Bahkan di antara adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari hingga merasakan lapar dan haus serta merasakan kelemahan kekuatan, sehingga hatinya menjadi bersih. Ia juga harus mempertahankan tingkat kelemahan tertentu setiap malam agar ibadah tahajud dan wiridnya menjadi ringan baginya, sehingga setan tidak berkeliaran di hatinya dan ia dapat menatap pada kerajaan langit.
Lailatul Qadar adalah malam di mana sebagian dari kerajaan langit tersingkap, dan itulah yang dimaksud dengan firman Allah SWT:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَة القَدْرِ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”.
Barang siapa yang menjadikan antara hati dan dadanya penuh dengan makanan, maka ia terhalang dari Allah. Dan barangsiapa yang mengosongkan perutnya, hal itu tidak cukup untuk mengangkat penghalang selama ia tidak mengosongkan pikirannya dari selain Allah Azza wa Jalla, dan itulah perkara seluruhnya dan permulaan dari semua itu adalah mengurangi makanan.
6) Setelah berbuka puasa hendaklah hatinya merasa bimbang dan gelisah antara takut dan berharap, karena ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk orang-orang yang didekatkan, atau ditolak sehingga ia termasuk orang-orang yang dibenci. Hendaklah ia bersikap demikian di akhir setiap ibadah yang diselesaikannya.
Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri bahwa ia melewati suatu kaum yang sedang tertawa, lalu ia berkata: “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadan sebagai arena perlombaan bagi makhluk-Nya untuk berlomba-lomba menaati-Nya. Maka sebagian kaum berlomba lalu mereka beruntung, dan sebagian kaum tertinggal lalu mereka merugi. Sungguh mengherankan orang yang tertawa dan bermain-main pada hari di mana orang-orang yang beruntung menang dan orang-orang yang batil merugi. Demi Allah, sekiranya tabir disingkap, niscaya orang yang berbuat baik sibuk dengan kebaikannya dan orang yang berbuat jahat sibuk dengan kejahatannya.” Maksudnya adalah kebahagiaan orang yang diterima amalnya menyibukkan dengan amalnya dan menjauhi dari bermain-main, dan kesedihan orang yang ditolak amalnya menutup pintu tawa baginya.
Diriwayatkan dari al-Ahnaf bin Qais bahwa dikatakan kepadanya: “Engkau adalah orang tua yang sudah lanjut usia, dan puasa melemahkanmu.” Ia berkata: “Sesungguhnya aku mempersiapkannya untuk perjalanan yang panjang. Bersabar dalam menaati Allah lebih ringan daripada bersabar menanggung azab-Nya.” Inilah makna batin dalam puasa. Jika engkau bertanya: “Barangsiapa yang hanya membatasi diri menahan syahwat perut dan kemaluan serta meninggalkan makna-makna batin ini, maka para fuqaha (ahli fikih) mengatakan “puasanya sah”. Maka apa maknanya?”.
Maka ketahuilah bahwa fuqaha dhahir menetapkan syarat-syarat zahir dengan dalil-dalil yang sama dengan dalil-dalil yang kami sebutkan dalam syarat-syarat batin ini, terutama ghibah (menggunjing) dan sejenisnya. Akan tetapi, fuqaha dhahir tidak membebani kewajiban kecuali apa yang mudah bagi orang-orang yang lalai yang sibuk dengan urusan duniawi. Adapun ulama akhirat, mereka memaknai sah dengan diterimanya amal, dan diterimanya amal berarti mencapai tujuan. Mereka memahami bahwa tujuan puasa adalah meneladani salah satu sifat Allah Azza wa Jalla yaitu as-Shamadiyyah (tidak membutuhkan sesuatu, justru segala sesuatu butuh kepada-Nya), serta meneladani malaikat dalam menahan diri dari syahwat sesuai kemampuan, karena mereka (malaikat) disucikan dari syahwat.
Baca Juga
Sedangkan manusia derajatnya di atas derajat binatang karena kemampuannya dengan cahaya akal bertugas mengendalikan nafsu, dan manusia berada di bawah derajat malaikat karena nafsu menguasai mereka dan mereka diuji untuk melawannya. Maka, semakin seseorang tenggelam dalam nafsu, ia akan jatuh ke tempat terendah dan menyamai perilaku binatang. Sebaliknya, semakin seseorang menundukkan nafsu, ia akan naik ke tempat tertinggi dan menyamai derajat malaikat, di mana malaikat adalah makhluk yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Orang yang meneladani malaikat dan menyerupai akhlak mereka akan dekat dengan Allah Azza wa Jalla sebagaimana kedekatan para malaikat, karena orang yang menyerupai yang dekat itu juga dekat, dan kedekatan di sini bukanlah berdasarkan tempat, melainkan berdasarkan sifat-sifat.
Jika inilah rahasia puasa menurut para pemilik akal dan pemilik hati, maka apa gunanya menunda waktu makan atau menggabungkan dua waktu makan (sahur dan buka) di malam hari, sementara masih tenggelam dalam hawa nafsu lainnya sepanjang siang?. Jika hal seperti itu ada gunanya, maka apa makna sabda Nabi SAW: “Berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”? Oleh karena itu, Abu Darda berkata: “Alangkah indahnya tidur dan berbuka orang-orang yang cerdik, bagaimana mungkin mereka tidak mencela puasa dan begadangnya orang-orang bodoh? Sedikit (ibadah) dari orang yang memiliki keyakinan dan ketakwaan lebih utama dan lebih berat timbangannya daripada ibadah setinggi gunung dari orang-orang yang tertipu.”
Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: “Berapa banyak orang yang berpuasa namun (hakikatnya) berbuka, dan berapa banyak orang yang berbuka namun (hakikatnya) berpuasa.” Orang yang berbuka namun berpuasa adalah orang yang menjaga anggota tubuhnya dari dosa meskipun ia makan dan minum. Sedangkan orang yang berpuasa namun berbuka adalah orang yang menahan lapar dan dahaga namun membebaskan anggota tubuhnya (untuk berbuat dosa).
Barangsiapa memahami makna dan rahasia puasa, ia akan mengetahui bahwa orang yang menahan diri dari makan dan berhubungan intim namun berbuka dengan berbuat dosa, ibarat orang yang mengusap anggota wudhunya tiga kali, ia telah mencocoki jumlahnya secara lahiriah, namun ia meninggalkan hal yang penting yaitu mencuci anggota wudhu dalam keadaan berhadats, maka shalatnya ditolak karena kebodohannya. Perumpamaan orang yang berbuka dengan makan namun berpuasa dengan anggota tubuhnya dari perbuatan yang dibenci adalah seperti orang yang mencuci anggota wudhunya satu kali, maka shalatnya diterima insya Allah karena ia telah memenuhi pokoknya meskipun meninggalkan keutamaan. Dan perumpamaan orang yang mengumpulkan keduanya adalah seperti orang yang mencuci setiap anggota wudhu tiga kali, maka ia telah mengumpulkan pokok dan keutamaan, dan itulah kesempurnaan.
Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ الصَوْمَ أَمَانَةً فَلْيَحْفَظُ أَحَدُكُمْ أمانته
Artinya: “Sesungguhnya puasa itu amanah, maka hendaklah salah seorang dari kalian menjaga amanahnya.”
Dan ketika beliau membaca firman Allah Azza wa Jalla:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أمانة أَهْلِهَا : النساء ٥٨
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”.(QS. An-Nisa’: 58), beliau meletakkan tangannya pada pendengaran dan penglihatannya seraya bersabda: السمع والبصر أمانة “Pendengaran adalah amanah dan penglihatan adalah amanah.” Seandainya bukan karena itu termasuk amanah puasa, niscaya Rasulullah SAW tidak akan bersabda “Maka katakanlah: Sesungguhnya aku sedang berpuasa” yakni: Sesungguhnya aku telah menitipkan lisanku untuk menjaganya, maka bagaimana aku melepasnya untuk menjawabmu?.
Maka oleh karena itu, telah jelas bahwa setiap ibadah memiliki lahir dan batin, kulit dan inti, dan kulitnya memiliki tingkatan, dan setiap tingkatan memiliki lapisan-lapisan. Maka kepadamu pilihan sekarang untuk cukup dengan kulit daripada inti, atau bergabung dengan kelompok pemilik inti (orang-orang yang berakal).
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


