Kisah Cinta Permulaan Peradaban Islam

Oleh: Muhammad Kawakib Nurul Jinan *)

Ulama mendefinisikan arti cinta sebagai sebuah ketergantungan sang pecinta kepada sang kekasihnya. Cinta adalah fitrah bagi setiap makhluk. Pun manusia, akan berjuang keras untuk dapat mencintai sekalipun ia tak dicintai. Sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalâm hingga kelak hari kiamat datang, pembahasan maupun kisah tentang cinta tidak akan selesai. Setiap generasi dengan beragam latarbelakang memiliki kisah romantis nan pelik tentangnya.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn menjelaskan satu bab khusus tentang cinta (mahabbah), mulai dari dalil-dalil cinta; hakikat; sebab; dan siapa yang berhak mendapatkan cinta. Menurut Imam Al-Ghazali, setiap hal yang ketika menemukannya merasa nyaman dan tenang maka ia akan dicinta (mahbûb), pun setiap sesuatu ketika menemukannya merasa tersakiti dan bingung maka ia akan dibenci (mabghûd). Dan setiap sesuatu yang sama sekali tidak berdampak bahagia dan luka, tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang dicinta maupun dibenci. Karenanya, definisi yang ditawarkan Al-Ghazali adalah “Cinta adalah ungkapan dari ketertarikan watak terhadap sesuatu yang dianggap lezat (nikmat).”

Seolah ia hendak mengatakan ‘cinta itu universal’. Tidak selalu tentang materi, akan tetapi nilai cinta sesuai dengan posisi dan porsinya masing-masing. Imam Al-Ghazali memposisikan cinta sebagai sesuatu yang memaksa dan menghendaki. Tidak heran jika para pencari cinta membahasakannya sebagai sesuatu yang datang tanpa diundang. Al-Ghazali menyatakan “Sungguh kecintaan hati orang yang berbuat baik merupakan sesuatu yang bersifat pasti, tidak bisa ditolak. Itu merupakan watak dan naluri yang tidak bisa diubah.”

Sirah Rasulullah SAW bersama Sayyidah Khadijah RA membuktikannya, contoh dan keteladanan bagi umat guna meraih cinta yang indah nan hakiki, yaitu cinta kasih karena Allah SWT. Kecintaan yang berdasar atas syariat dan ketauhidan bukan semata syahwat. Hakikat cinta yang terjalin antara Rasulullah SAW dan Sayyidah Khadijah RA sejatinya tonggak cinta kasih Agama Islam, yaitu hubungan antar individu dengan cita-cita memperjuangkan ketauhidan.

Sayyidah Khadijah RA merupakan istri pertama Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai. Kecintaan yang sangat murni, tulus, dan suci kepadanya, hingga kepergiannya pun membuat hari-hari Rasulullah SAW teramat pilu yang oleh kaum muslimin dikenal dengan sebutan Amu al-Huzn (tahun kesedihan) bagi diri nabi agung ini.

Kisah cinta bak dongeng yang terjalin antara Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah RA, penuh makna dalam menjalani cinta. Cinta yang saling bertaut dan berbalas serta saling mengisi juga menguatkan. Ikhwal permulaan kisah cinta ini dimulai, Sayyidah Khadijah RA disebutkan yang memulai terlebih dahulu mengungkapkan rasa cintanya. Ketika ia dibuat takjub mendapati keindahan akhlak dan kejujuran serta kecerdasan sang nabi yang kala itu belum dinobatkan sebagai Nabiyullah.

Rasulullah SAW pun demikian, sangat mencintai sosok istrinya dengan kesungguhan dan sebenar-benarnya cinta. Bahkan cinta itu masih memenuhi ingatan dan disimpannya dalam relung hati beliau, meskipun setelah kekasihnya yang tegar itu menghadap Sang Pemilik Waktu.

Sebagai umat yang diberkahi kasih sayang Rasulullah Muhammad SAW, untuk melembutkan sekaligus menguatkan cinta, dapat kita selami samudera cinta itu dengan menyimak sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA,

كان النبي إذا ذكر خديجة أثنى عليها بأحسن الثناء، فغرت يوما فقلت: ما أكثر ما تذكرها حمراء الشدقين، قل أبدلك الله خيرا منها. قال: ما أبدلني الله خيرا منها، وقد آمنت بي إذ كفر بي الناس، وصدقتني أذ كذبني الناس، وآستني بمالها إذ حرمني الناس، ورزقني الله ولدها إذ حرمني أولاد النساء

“Setiap kali disebut nama ‘Khadijah’ di hadapannya (Rasulullah SAW), ia selalu memujinya dan meluapkan ingatan indah bersamanya. (Suatu ketika) Aku pun (Aisyah RA) merasa cemburu dan marah atas hal tersebut, hingga aku berkata, “(Wahai Rasulullah) untuk apa engkau selalu mengingat perempuan Quraisy tua (Khadijah RA)? Sungguh engkau telah mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik (bermaksud dirinya sendiri).”

Setelah mendengar ucapan tersebut, sontak Rasulullah SAW pun meluapkan rasa cinta dan kenangan getir bercampur romantisme yang tetap disemainya. Kisah cintanya yang beliau rajut bersama sosok Ibunda Kaum Muslimin ini beliau utarakan:

“Sungguh tidak! wahai Aisyah. (Tak ada yang mampu menggantikan sosok Khadijah di hatiku).”

“Ia lah orang pertama mengimani syariat yang aku bawa, ketika orang-orang masih dalam jurang kekufuran.”

“Ia lah orang pertama mematuhi dan mempercayaiku, ketika orang-orang masih mendustakanku.”

“Ia lah sosok yang rela menghabiskan harta dan menginfakkannya demi perjuanganku, ketika orang-orang mengisolasi keluarga dan pengikutku.”

“Ia lah sosok ibu dari semua anak-anakku, ketika (Allah SWT) tak mengaruniakan hal tersebut kepada selainnya.”

Hingga kemudian Sayyidah Aisyah RA pun sadar bahwa keutamaan Sayyidah Khadijah RA di mata Rasulullah SAW sangatlah mulia. Cinta yang bersinar bagaikan gemintang terang di cakrawala karena ketauhidan mengesakan Allah SWT.

Sosok istri yang setia menemani ketika kaumnya mencampakkannya, dengan tegar mencukupi keperluan sang suami. Sosok pendamping yang menguatkan dan pengertian ketika Rasulullah SAW mengalami kecemasan, terlebih kaumnya mendustakan. Sosok ibu yang ikhlas mengurus kebutuhan keluarga nabi, bahkan mendermakan seluruh aset kekayaan untuk kepentingan umat.

Keridhoan Sayyidah Khadijah RA mencintai Rasulullah dan turut berjuang menegakkan panji Islam inilah yang memasung cinta di palung hati Baginda Nabi, meskipun raga terpisah oleh kematian.

جاءت خولة بنت حكيم، فقالت: يا رسول الله كأني أراك قد دخلتك خلة لفقد خديجة، قال: “أجل كانت أم العيال وربة البيت”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Kitab Ath-Thobaqat, suatu ketika Khoulah bin Al-Hakim bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Nabi, sungguh aku melihat raut muka (kesedihan serta kerinduan) yang terpancar dari wajahmu (atas kepergian Sayyidah Khadijah RA). Rasulullah menjawab: “Sungguh benar. Dialah sosok ibu yang sayang terhadap keluarga, dan perawat rumah”.

وعنده أيضا من مرسل عبيد بن عمير قال: وجد صلى الله عليه وسلم على خديجة حتى خشي عليه حتى زوج عائشة

Diriwayatkan dari sahabat Ubaid bin Umair masih dalam Kitab Ath-Thobaqat, ia bertutur: “Sungguh Rasulullah merasa sangat kehilangan setelah ditinggal wafat oleh istrinya, hingga (rasa tersebut sedikit terkikis) ketika Ia menyunting Sayyidah Aisyah RA”

Dua insan memadu cinta tidak dipungkiri sangatlah indah, melewati pahit-getir dan landai-terjalnya kehidupan bersama, dihimpun bahtera rumah tangga dihalalkan dalam ikatan pernikahan. Sungguhlah kesetiaan dan berpegang teguh atas komitmen telah Rasulullah SAW dan Sayyidah Khadijah RA terapkan dalam rumah tangganya, sebagai contoh dan ibrah bagi umatnya.

Wallahu A’lam

*) Bendahara MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *