Oleh: Muhammad Zubri, SH *)
Hari Jumat selalu memiliki tempat istimewa di hati umat Islam. Ia bukan sekadar hari ketika aktivitas dunia berjalan seperti biasanya, melainkan hari yang mengingatkan kita untuk kembali mendekat kepada Allah, memperbanyak ibadah, dan menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada hari Jumat adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Amalan ini sederhana. Tidak membutuhkan banyak harta, tidak harus dilakukan di tempat tertentu, dan bisa dikerjakan di sela-sela kesibukan. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan keutamaan yang besar.
Rasulullah saw bersabda:
أَكْثِرُوا عَلَيَّ الصَّلَاةَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ يُصَلِّي عَلَيَّ أَحَدٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا عُرِضَتْ عَلَيَّ صَلَاتُهُ
“Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat. Sesungguhnya tidaklah seseorang bershalawat kepadaku pada hari Jumat, melainkan shalawatnya diperlihatkan kepadaku.” (HR. al-Hakim)
Cinta tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata yang panjang. Terkadang, cinta justru tampak melalui kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.
Begitu pula kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ. Kita mungkin hidup berabad-abad setelah beliau wafat. Kita tidak pernah duduk bersama beliau, tidak pernah mendengar langsung suara beliau, dan tidak pernah menyaksikan bagaimana beliau tersenyum kepada para sahabatnya. Namun, jarak waktu tidak seharusnya membuat kecintaan kita kepada beliau menjadi pudar.
Ketika lisan kita mengucapkan, Allāhumma shalli ‘alā Muhammad, kita sedang mengingat sosok yang telah mengajarkan jalan menuju keselamatan. Sosok yang dengan penuh kasih sayang membimbing umatnya, yang bersabar menghadapi penolakan, dan yang tetap mendoakan kebaikan bagi umatnya.
Shalawat bukan sekadar rangkaian kata yang diulang-ulang. Ia dapat menjadi pengingat agar hati kita semakin dekat kepada Rasulullah ﷺ dan kehidupan kita semakin mencerminkan akhlak beliau.
Hadis tersebut membawa kabar yang menggembirakan. Rasulullah ﷺ memberitahukan bahwa shalawat yang disampaikan pada hari Jumat diperlihatkan kepada beliau.
Bayangkan, ketika kita berada di tengah kesibukan, ketika tangan sedang bekerja dan pikiran dipenuhi urusan dunia, kita masih menyempatkan diri mengucapkan shalawat. Kita mungkin tidak mengetahui bagaimana amalan itu diterima, tetapi kita memiliki harapan yang besar kepada rahmat Allah.
Tentu, kita tidak perlu membayangkan bagaimana prosesnya secara terperinci. Cukuplah kita beriman kepada berita yang disampaikan Rasulullah ﷺ dan menyambutnya dengan memperbanyak shalawat.
Ada ketenangan ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya tidak hanya diisi oleh urusan dunia. Di sela-sela pekerjaan, perjalanan, dan aktivitas sehari-hari, ia tetap menyediakan ruang bagi zikir dan kecintaan kepada Nabi.
Sering kali kita merasa akan lebih rajin beribadah ketika pekerjaan sudah selesai, urusan keluarga sudah beres, atau keadaan sudah lebih tenang. Sayangnya, waktu luang yang kita tunggu terkadang tidak pernah benar-benar datang.
Padahal, memperbanyak shalawat dapat dilakukan dengan mudah. Kita bisa membacanya setelah salat, ketika berjalan menuju masjid, saat menunggu seseorang, atau di sela-sela pekerjaan yang memungkinkan.
Tidak harus selalu dengan suara keras. Shalawat dapat dilafalkan dengan tenang, penuh penghayatan, dan tanpa mengganggu orang lain.
Yang terpenting bukan sekadar menghitung berapa kali lisan mengucapkannya, melainkan juga menjaga keikhlasan dan menghadirkan kesadaran tentang siapa yang sedang kita sebut dalam shalawat tersebut.
Baca Juga
Jangan sampai hari Jumat berlalu begitu saja, sementara kita terlalu sibuk mengurus dunia hingga lupa memperbanyak shalawat kepada Nabi yang kita cintai.
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada ucapan. Shalawat semestinya menjadi pengingat untuk meneladani ajaran dan akhlak beliau.
Jika kita bershalawat kepada Nabi yang dikenal jujur, marilah kita berusaha menjaga kejujuran. Jika kita bershalawat kepada Nabi yang penuh kasih sayang, marilah kita belajar memperlakukan orang lain dengan lembut. Jika kita bershalawat kepada Nabi yang pemaaf, marilah kita berusaha mengurangi kebencian dan belajar memaafkan.
Kita memang tidak akan pernah menjadi manusia yang sempurna. Namun, setiap shalawat dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui niat: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih santun dalam berbicara, lebih tulus dalam membantu, dan lebih kuat dalam menjalankan kebaikan.
Dengan demikian, shalawat tidak hanya membasahi lisan, tetapi juga menggerakkan perilaku.
Hari Jumat memiliki banyak keutamaan. Di antara kesempatan istimewa yang dapat kita manfaatkan adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Kita tidak harus menunggu menjadi orang alim untuk bershalawat. Kita tidak harus memiliki suara yang merdu. Kita juga tidak harus berada di tempat yang istimewa. Siapa pun kita, selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, kita dapat menghidupkan hari Jumat dengan amalan yang ringan ini.
Mungkin selama ini kita lebih mudah mengingat urusan pekerjaan daripada mengingat Rasulullah ﷺ. Lebih cepat membuka pesan di telepon daripada meluangkan waktu untuk bershalawat. Lebih bersemangat mengejar urusan dunia daripada memperhatikan bekal akhirat.
Perbanyaklah membaca shalawat dengan hati yang tulus. Ajarkan kepada anak-anak kita. Hidupkan di tengah keluarga. Biasakan di lingkungan yang baik. Semoga shalawat menjadi bagian dari keseharian kita, bukan hanya amalan yang muncul ketika hari Jumat tiba.
Sebab, cinta kepada Rasulullah ﷺ layak dirawat, bukan sekadar diucapkan. Dan hari Jumat adalah salah satu kesempatan terbaik untuk merawatnya melalui shalawat.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي الْجَنَّةِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad. Anugerahkanlah kepada kami kecintaan kepadanya dan kemampuan untuk mengikuti sunahnya, serta kumpulkanlah kami bersamanya di surga.
*) Pembina Eskul Seni Religi MTs Miftahul Ulum 2


