logo_mts192
0%
Loading ...
Cermin Kedalaman
0
Dunia
0
Jalan Sunyi Menuju Ketakwaan
0
Reuni atau Kompetisi? Refleksi Atas Budaya Pamer di Hari Raya Idul Fitri
0
Ketupat: Anyaman Tradisi, Anyaman Hati
0
Syawal: Saat Cinta Itu Dilanjutkan, Bukan Ditinggalkan
0
Hari Raya: Antara Ibadah dan Keceriaan
0
Pesan Rasulullah saw tentang Silahturrahim
0
Agar Silaturrahim Bernilai Ibadah
0
Melanjutkan Cahaya Ramadan
0
Makna Hakiki dari Hari Raya Idul Fitri
0
Agar Hati Tetap Hidup di Hari Raya
0

Category: Puisi

Guruku

Karya: Aira Qurota A’yun *) Guruku…….Terimakasih engkauh telah mengajarikuIlmu ilmu yang bermanfaatSampai diriku tauNahwu, sejarah itu apa Guru….Engkaulah orang keduaYang

Sahabat Kecilku

Karya : Maghfiroh *) Sahabatku……Sudah lama kita tak bertemuAku rindu akan canda tawamuKu rindu akan senyummuAku merindukan dengan apa yang

Bunda

Karya : Khoyriyah Basich *) Maaf, maaf dan maafMaafkan anakmu iniAku tak bisa membuatmu bahagiaDan sering membuatmu gelisah Maaf bun…..Kata

Inginku

Karya : Huzaimatul Jannah Ramadhani *) Kian larut mata memandangtak seorangpun di depan matakuHati yang linglung entah mau apaMulut membisu

Permata Hati

Karya: Khumairotun Nisak*) Lantunan doa yang sangat menenangkanBalikkan dapat menghilangkan kegelisahanSemua rasa rindu ini, yang terus bertambah dan bergejolakseiring dengan

Setangkai Bunga Mawar

Karya: Putri Evita Muhajir *) Bunga mawar begitu indah dirimuBegitu harum bungamuBegitu indah warna bungamuDaunnya yang bewarna hijauYang menghias cantik

My Self

Karya: Nur Thalita Safa *) Ini aku!Ada saat dibutuhkanDianggap saat berkepunyaanDan dibuang saat ada yang menggantikan Ini aku!Bersama senyum penuh

Ibu

Karya: Kaisya Luna Fara Aisa *) Sungguhku berterima kasih kepadamuYang sudah membesarkanku dari aku kecil sampai besarSungguh banyak pengorbananmu kepada

Rindu Ayah

Karya: Putri Evita Muhajir *) Ayah ku….Kaulah pahlawankuKaulah pria pertama yang memelukkuHanya kaulah yang mengerti perasaanku Ayah ku…..Kau adalah mataharikuYang

Bunda Anakmu Rindu

Karya: Aira Qurota A’yun *) Ku pegang engkau erat-eratTatapanmu begitu indahWaktu telah menjadikan harapanNamun, bagiku tatapanmuMasih semanis cokelat Biar saja