Karya: Shinta Fairuzzuhro, Kelas IX E
Sinar rembulan tercipta
menerangi gelap gulita.
Masa indah mustahil tercipta
tanpa adanya usaha.
Usaha pun tak akan sempurna
tanpa untaian doa.
Doa bukan tentang banyaknya
kata yang kau ucapkan,
tetapi tentang seberapa kuat
kau berserah dan meminta.
Aku adalah insan
yang tak terlepas dari patah hati.
Namun, semua itu pasti terlewati
seiring hari yang terus berganti.
Ini bukan tentang seberapa cepat
kau melewati hari,
melainkan seberapa pintar
kau mencari obat luka di hati.
Aku adalah santri
yang akan menghadapi kerasnya dunia
yang telah menanti.
Aku santri,
yang mereka juluki budak kiai.
Tanpa mereka sadari,
santri hanyalah insan
yang sedang memperbaiki diri.
Perkataan yang salah
tentu tak patut singgah di dalam hati.
Memang, ketakutan pernah singgah
dan begitu pandai melemahkan diri.
Namun, Allah tak akan membiarkanku
tersesat dalam kegelapan duniawi.
Ilmu yang kubekali
semata-mata untuk dunia dan akhiratku.
Menyerah bukanlah pilihan
yang terlintas di kepalaku.
Sebab, gagal bukanlah kata terakhir
yang menentukan masa depanku.
Aku santri,
yang mereka pandang seperti manusia beku.
Namun, statusku sebagai santri
tak tertandingi oleh mereka
yang enggan mencari ilmu.
*) Siswi MTs Miftahul Ulum 2


