Berkat Doa, Usaha dan Sahabatku

Oleh: Ramdani Abdillah *)

            Rian dan Alvin adalah santri yang berada di asrama G-11, keduanya duduk sebangku di kelasnya. Rian tergolong santri yang kesulitan mencerna ilmu, sering gagal fokus dalam belajar. Di tahun pertama sekolah di MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid Lumajang, Rian berada di peringkat 10 besar dari bawah.

            Suatu ketika Alvin dan Rian sedang mengikuti kajian di masjid. Saat itu, Rian sempat ragu, lafad “من البصرة” harus di baca apa, dia pun bertanya kepada Alvin.

            “Vin, ini bacanya bagaimana?” Tanya Rian sambil menunjuk kepada lafadz “من البصرة”

            “مِنَ الْبُصْرَةِ” Rian membacanya dengan terbata-bata.

            “Ya sudah, ingat! دَع ْمَا يَرِيْبُكَ اِلَى مَالَايَرِيْبُكَ Tinggalkan perkara yang membuatmu  ragu menuju perkara yang tidak membuatmu ragu” Alvin menjelaskan.

            Rian hanya menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan pembacaan kitab.

***

            Rian dan Alvin esok siangnya berada di dalam kelas. Setelah Ustadz Faisal menerangkan pelajaran, giliran para santri untuk menyimpulkannya. Sebelum para santri menyimpulkan isi materi pelajaran, Ustadz Faisal memberikan pengumuman.

            “Semuanya mohon perhatiannya! Diberitahukan kepada semua santri, bahwasanya ujian kwartal ke-3 akan dilaksanakan pada tanggal 13 Januari, 2022. Paham?” Isi pengumuman itu.

            “Paham ustadz” kompak semua santri menjawab.

            Tidak lama kemudian bel pun berbunyi, setelah membaca doa, Ustadz Faisal beranjak dari tempat duduknya berjalan keluar kelas diiringi para santri.

            Rian dan Alvin kembali ke asrama bersama, sambil memperbincangkan pengumuman di kelas tadi sepanjang perjalanan.

            Setelah beristirahat sejenak di asrama, keduanya mengisi waktu di serambi masjid sambil mengkaji kitab yang diujikan.

            “Ya sudah, tawassul gih!” Pinta Rian.

            Alvin pun tawassul dengan tenang dan khusyuk. Sedangkan Rian, menunggu kata-kata yang akan diucapakan oleh Alvin.

            “الْفَاتِحَةْ…..” Ucap Alvin.

Rian membaca Surat Al-Fatihah, kemudian mereka membuka kitabnya dan muthala’ah. Begitu menikmatinya mereka muthala’ah sampai terlewat jam sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB.

            “Vin, sudah malam, coba lihat jam itu!” Seloroh Rian sembari menunjuk ke arah jam.

            Alvin mendongak melihat jam yang ada di dinding.

            “Ya sudah, kita tutup kitabnya, lanjut tahajud sebentar, bagaimana?” Pinta Alvin sebelum beranjak dari masjid.

            Selepas Sholat Tahajud keduanya menuju asrama, sambil memperbincangkan isi kitab yang baru saja dipelajari.

            “Susah juga yah, memahami isi kitab!” Keluh Rian.

            “Ingatlah kata pepatah رِيَاضُ النُّفُوْسْ اَصْعَبٌ مِنْ رِيَاضِ الاَسَد

‘Melatih jiwa jauh lebih baik dari pada melatih seekor singa’” Alvin mengingatkan.

            Rian terdiam sejenak meresapi apa yang dikatakan sahabatnya.

“Benar juga ya” Rian membatin dalam hatinya.

            “Ngantuk sekali, duh! Cepetan, yuk!” Ajak Alvin.

            Keduanya melangkah cepat menuju asrama, hanya melepas baju bagian atas dan meletakkan songkok serta kitab pada tempatnya, mereka pun tidur dengan pulas.

***

            Hari berikutnya, Rian masih berada di asrama tertidur nyenyak, sedangkan Alvin mengisi muthala’ah pagi seusai shalat subuh. Rian termasuk santri populer terutama karena seringnya telat untuk bangun dan sholat berjamaa’ah dan Alvin berbanding terbalik dengan Rian. Selepas sholat subuh, Alvin ada jadwal menerangkan dan yang lain mengkritisinya, sekitar 2 jam mereka ber-muthala’ah, namun adanya bunyi bel pertanda berganti jadwal membuyarkan kegiatan pagi itu.

            Tampak Rian bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat dhuha, berdzikir lalu berdoa, yang dia harapkan hanyalah satu, ingin membanggakan kedua orang tuanya dengan kesuksesannya mendapatkan ilmu selama di pondok, sholat berjama’ah tepat waktu, dan fokus dalam pelajaran.

Alvin menyandarkan tubuhnya di tembok masjid sambil memandang haru sahabat karibnya yang sedang bermunajat. Terbesit keinginan untuk membantu Rian agar mau belajar lebih giat menjelang ujian. Namun karena kurang jam istirahat, Alvin tak terasa tertidur seketika itu juga.

“Vin, bangun!” Rian coba membangunkan Alvin.

“Iya. Berapa lama aku tetidur? Apa sudah waktunya masuk kelas?” Alvin spontan bertanya khawatir tidak dapat mengikuti pelajaran di kelas.

“Belum, masih lama. Kita makan dulu sekarang, biar kamu tidak mengantuk!” Ajak Rian.

            “Ujian kwartal kurang berapa hari lagi ya?” Tanya Rian agar sahabatnya ini segera terbangun.

            “6 hari” Alvin menjawab cukup lama karena belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya.

            “Waduh, bisa ajari aku kan, Vin?” Rian menghiba.

            “Ada syaratnya!” Gertak Alvin.

            “Syarat? Kamu menyuruhku melakukan apapun akan aku lakukan. Aku berjanji padamu!” Tegas Rian.

            “Mulai sholat dhuhur nanti kamu harus ikut sholat berjama’ah, karena kita akan belajar setelah sholat.” Alvin memberi syarat.

            “Baik bos. Sekali saja aku tidak berjamaa’ah, kamu jangan ajarkan satu pun ayat kepadaku!” Sahut Rian.

            Keduanya melanjutkan sarapan di kantin sebelum mengikuti pelajaran di kelas.

***

            Waktu kian berjalan, Rian terpaksa merubah kebiasaannya agar dapat sholat berjama’ah dan belajar mengejar ketertinggalan. Kebiasaan menunda pekerjaan dan terlambat memenuhi jadwa kelas pun sudah tidak dia lakukan. Rian mencontoh kedisiplinan Alvin dan menerapkan pada dirinya. Sisa waktu yang singkat menjelang ujian mampu merubah Rian menjadi pribadi yang bersemangat menjalani rutinitas menjadi santri. Sedangkan Alvin rela berkorban waktu untuk sahabatnya. Baginya berbagi ilmu dan menolong orang lain untuk mendapatkan ilmu adalah ladang pahala.

Kali ini tiba saatnya mengikuti ujian kwartal. Rian dan Alvin berusaha memaksimalkan hingga batas waktu ujian selesai. Ketika teman lainnya beranjak mengumpulkan lembar jawaban pun meraka tak bergeming. Setelah menempuh waktu ujian, keduanya mengumpulkan lembaran jawaban. Ustadz penjaga ruang ujian mengumumkan jika hasil ujian ini akan diumumkan di papan mading.

***

            Esok hari sekitar pukul 09.00 WIB, hasil ujian sudah terpampang di beberapa papan mading yang tersebar di sudut-sudut pondok. Para santri mengerubungi tiap-tiap papan berusaha mencari tahu nilainya masing-masing. Rian dan Alvin memilih istirahat di serambi masjid sekedar meluruskan punggung. Rian yang biasanya banyak bicara, kali ini banyak terdiam sejak berjama’ah subuh. Alvin menyadari hal itu, dia membiarkannya dengan tidak menanyakan alasannya.

            “Sedihnya seorang santri hanya sebentar saja, sedihnya seorang yang bodoh seumur hidup.” Alvin berceloteh.

            “Hah? Ngomong apa kamu barusan, Vin?” Tanya Rian.

            “Tidak ada, hanya teringat kalimat yang pernah diucapkan Kyai. Besok saja aku jelaskan.” Celoteh Alvin dengan tetap memejamkan matanya.

            “Ya sudah terserah kamu saja.” Rian terlihat tak mendengarkan ucapan Alvin karena fokus pandangannya ada pada papan pengumuman.

            Rian sangat gelisah, raut mukanya menampakkan kecemasan, dia memilih diam di serambi masjid dan menyuruh Alvin yang melihat nilainya. Alvin menerobos gerombolan yang perlahan mulai lengang, jarinya menunjuk nama-nama yang tertera, mengurutkan abjad mencari namanya dan nama sahabatnya Rian.

            Setelah mengetahui nilai hasil ujian, Alvin menemui Rian di serambi masjid.

            “Alhamdulillah, kita berdua dapat nilai yang baik, dan berhak untuk kenaikan.” Alvin menjelaskan.

            “Benarkah? Berapa nilaiku?” Tanya Rian penasaran.

            “Lihat saja sendiri! Aku langsung ke kelas saja, ya!” Alvin mendorong Rian agar berani menghadapi kecemasannya.

            “Aduh Vin, nanggung sekali kamu ini memberi info! Ya sudah berangkat dulu sana ke kelas!” Rian tampak makin gelisah.

            Setelah Alvin pergi meninggalkannya, dia menyadari bahwa sahabatnya itu tidak pernah membohonginya. Dia mau berteman dengan Alvin salahsatu sebabnya karena tidak pernah membohonginya dan seorang teman yang rela membantu orang lain. Fakta itu membuat Rian yakin bahwa apa yang disampaikan oleh Alvin benar adanya sesuai fakta. Seketika Rian bersemangat melangkahkan kaki menuju papan pengumuman.

            “Alhamdulillah Yaa Allah.” Teriak Rian sontak membuat kaget teman-teman di sekitarnya.

            Dengan wajah sumringah, ia berlari menuju kelas. Dicarinya sahabatnya di kelas sesuai jadwal pelajaran tetapi adanya kelas kosong. Kebingungan, kemudian dia melanjutkan mencarinya di asrama, kantin, dan tiap kamar mandi, tak didapati sahabat karibnya.

            Penuh kepasrahan akhirnya Rian kembali ke masjid. Pikirannya teringat doa yang ia panjatkan seminggu lalu. Rian kemudian istighfar, dia berjalan menuju tempat wudhu’.

            Sholat dhuha telah selesai dikerjakan. Dia menoleh ke tempat Alvin tertidur seminggu lalu; dan benar saja, sahabatnya tertidur bersandar di tembok. Rian pun tersenyum melihatnya, kemudian mendoakan kebaikan bagi Alvin. Menurutnya, tanpa doa dan usaha serta bantuan dari orang lain mustahil ia mendapat hasil yang baik dalam belajar.

*) Siswa MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *