logo_mts192
0%
Loading ...

Nabi Ar-Rahmah: Rasulullah saw Sang Pembawa Kasih Sayang

Share the Post:

Oleh : Husen, S.Pd.I *)

Ada manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman. Ada yang ketika berbicara, orang merasa dihargai. Ketika berhadapan dengannya, orang merasa diterima. Bahkan ketika disakiti, ia tidak terburu-buru membalas dengan kebencian.

Begitulah salah satu keindahan pribadi Nabi Muhammad ﷺ.

Beliau adalah Rasulullah yang diutus bukan hanya untuk menyampaikan risalah, tetapi juga menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Allah Swt. berfirman:

«وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَـٰلَمِينَ»

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini begitu singkat, tetapi maknanya sangat luas.

Allah tidak mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ hanya menjadi rahmat bagi orang-orang yang mengenalnya.

Beliau adalah rahmat bagi seluruh alam. Rahmat bagi manusia. Rahmat bagi orang yang beriman. Rahmat bagi mereka yang belum mengenal beliau. Bahkan rahmat bagi kehidupan dan alam semesta.

Ketika kita membaca sirah Nabi Muhammad ﷺ, kita akan menemukan bahwa rahmat bukan sekadar sifat yang beliau katakan.

Baca Juga

Ketika Cinta Menjadi Jalan untuk Bersama Nabi Muhammad Saw

Rahmat adalah sesuatu yang beliau jalani setiap hari. Beliau menyayangi anak-anak.Beliau menghormati orang tua.Beliau memperhatikan orang miskin. Beliau menguatkan anak yatim. Beliau menjenguk orang sakit. Beliau memaafkan orang yang berbuat salah. Beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Bahkan dalam banyak keadaan, ketika beliau memiliki kesempatan untuk membalas keburukan, beliau justru memilih jalan yang lebih lembut. Inilah rahmah.

Rahmah bukan berarti lemah. Rahmah bukan berarti membiarkan kesalahan. Rahmah adalah kemampuan untuk menghadirkan kebaikan bahkan ketika kita memiliki alasan untuk marah.

Allah juga menggambarkan Rasulullah ﷺ dengan sifat yang sangat menyentuh:

«لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ»

Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)

Perhatikan kalimat:

«عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ»

Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami.”

Begitu dalam perhatian Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Penderitaan umat bukan sesuatu yang beliau anggap jauh. Kesulitan umat adalah sesuatu yang beliau rasakan. Beliau memikirkan umatnya. Beliau mendoakan umatnya. Beliau mengkhawatirkan keselamatan umatnya.

Bahkan menjelang akhir kehidupan beliau, salah satu yang selalu menjadi perhatian adalah umat. Betapa lembutnya hati seorang Rasul.

Hari ini kita hidup di zaman yang serba cepat. Orang mudah berbicara, tetapi juga mudah menyakiti.

Media sosial membuat seseorang dapat menulis sesuatu hanya dalam beberapa detik, tetapi dampaknya bisa dirasakan orang lain selama bertahun-tahun.

Kita mudah memberikan komentar. Mudah menghakimi. Mudah mencela. Mudah menyebarkan kesalahan orang lain.

Di tengah keadaan seperti ini, akhlak Rasulullah ﷺ terasa semakin relevan.

Kita membutuhkan rahmah. Kita membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum menyakiti. Kita membutuhkan hati yang mampu melihat bahwa setiap orang sedang membawa perjuangannya masing-masing.

Mungkin seseorang sedang marah karena sedang terluka. Mungkin seseorang melakukan kesalahan karena belum memahami. Mungkin seseorang terlihat lemah karena sedang menghadapi masalah yang tidak kita ketahui.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menghakimi.

Kadang kita berbicara tentang kasih sayang kepada umat, masyarakat, bahkan seluruh alam.

Tetapi rahmah yang paling dekat justru sering kita lupakan: orang-orang yang tinggal bersama kita.

Sudahkah rumah kita menjadi tempat yang penuh kasih sayang? Sudahkah anak-anak kita merasa aman ketika berbicara dengan kita? Sudahkah pasangan kita merasa dihargai Sudahkah orang tua kita merasakan kelembutan dari kita Sudahkah teman-teman kita merasa nyaman berada di dekat kita?

Sebab tidak mungkin kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ tetapi orang-orang terdekat kita justru merasa takut kepada kita.

Rasulullah ﷺ adalah teladan rahmah.

Maka cinta kepada beliau seharusnya membuat kita menjadi manusia yang lebih lembut.

Bukan semakin mudah membenci. Bukan semakin mudah merendahkan.Bukan semakin mudah memutus hubungan.


Rahmah juga berarti belajar melihat manusia dengan hati yang luas. Kita tidak harus selalu setuju dengan semua orang. Kita tidak harus membenarkan semua kesalahan.Tetapi kita tetap bisa menjaga adab.

Kita tetap bisa berbicara dengan baik. Kita tetap bisa mengingatkan tanpa menghina. Kita tetap bisa berbeda tanpa saling membenci.

Inilah salah satu pelajaran penting dari Rasulullah ﷺ: kebenaran tidak harus disampaikan dengan kebencian

Ada kesabaran dalam menghadapi manusia. Ada kebijaksanaan dalam memilih cara. Karena tujuan dakwah bukan sekadar membuat orang kalah dalam perdebatan, tetapi membawa manusia lebih dekat kepada Allah.

Rahmah kepada Alam. Allah menyebut Rasulullah ﷺ sebagai rahmat لِّلْعَـٰلَمِينَ — bagi seluruh alam.

Ini mengingatkan kita bahwa kasih sayang Islam tidak berhenti pada hubungan antarmanusia.

Alam juga harus diperlakukan dengan baik. Hewan tidak boleh disakiti tanpa alasan. Lingkungan tidak boleh dirusak sesuka hati. Air, tanah, tumbuhan, dan kehidupan di sekitar kita adalah amanah.

Menjadi umat Muhammad ﷺ berarti belajar menjadi manusia yang membawa manfaat, bukan kerusakan. Karena rahmah Rasulullah ﷺ begitu luas.

Rabiul Awwal: Saatnya Menghidupkan Rahmah

Ketika Rabiul Awwal datang, kita kembali mengingat kelahiran manusia yang membawa rahmat bagi alam semesta. Kita memperbanyak shalawat. Kita membaca Maulid. Kita mengenang perjalanan hidup Rasulullah ﷺ.

Kita berbicara tentang cinta kepada beliau. Tetapi jangan berhenti pada perayaan.

Mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah setelah mengenang Rasulullah ﷺ, kita menjadi lebih penyayang? Apakah kita menjadi lebih mudah memaafkan? Apakah kita menjadi lebih lembut kepada keluarga? Apakah kita lebih peduli kepada orang yang membutuhkan? Apakah kita lebih menjaga lingkungan?

Jika jawabannya iya, berarti kita sedang berusaha membawa cahaya rahmah Rasulullah ﷺ ke dalam kehidupan kita.

Mungkin kita tidak mampu melakukan sesuatu yang besar. Tidak semua orang bisa membangun pesantren. Tidak semua orang bisa berdakwah di hadapan ribuan manusia. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan besar.

Tetapi setiap orang bisa menjadi pembawa rahmat. Senyum kepada orang lain adalah rahmah. Memaafkan adalah rahmah. Membantu orang yang kesulitan adalah rahmah. Menjaga lisan adalah rahmah. Tidak mempermalukan orang lain adalah rahmah. Mendidik anak dengan kasih sayang adalah rahmah. Menghormati orang tua adalah rahmah. Memberi makan hewan adalah rahmah. Menjaga lingkungan adalah rahmah. Bahkan menahan diri dari menyakiti orang lain pun merupakan bentuk rahmah.

Kita mungkin tidak bisa menjadi seperti Rasulullah ﷺ. Tetapi kita bisa belajar menjadi umat yang mencerminkan rahmah beliau.

Pada akhirnya, mengenal Rasulullah ﷺ seharusnya membuat hati kita berubah. Semakin mengenal beliau, semakin kita mencintai beliau. Semakin mencintai beliau, semakin ingin kita meneladani beliau. Dan semakin kita meneladani beliau, semoga semakin banyak orang yang merasakan kebaikan dari kehadiran kita.

Inilah salah satu bentuk cinta yang paling indah kepada Rasulullah ﷺ: Bukan hanya banyak menyebut namanya, tetapi menghadirkan akhlaknya.

Semoga Rabiul Awwal tahun ini tidak hanya membuat masjid kita ramai dengan shalawat, tetapi juga membuat hati kita dipenuhi rahmah.

Semoga rumah kita menjadi lebih hangat. Keluarga kita menjadi lebih dekat. Lisan kita menjadi lebih lembut.Tangan kita lebih ringan membantu. Hati kita lebih mudah memaafkan. Dan kehadiran kita membawa manfaat bagi sesama.

Sebab Rasulullah ﷺ telah datang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Maka sudah selayaknya umatnya belajar menjadi pembawa rahmat di mana pun berada.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ya Allah, tanamkan dalam hati kami cinta kepada Rasul-Mu. Hiasi diri kami dengan akhlaknya, lembutkan hati kami dengan rahmahnya, dan jadikanlah kami bagian dari umat yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan kebaikan bagi sesama.

“) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter