logo_mts192
0%
Loading ...

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur : Refleksi di Usia 81 Tahun Kemerdekaan

Share the Post:

Oleh : Dr. Zainuddin, M.Pd *)

Setiap bulan Agustus, warna merah putih kembali memenuhi jalan-jalan. Bendera berkibar di depan rumah, gapura dihias semeriah mungkin, anak-anak berlatih untuk mengikuti lomba, sementara lagu-lagu perjuangan kembali terdengar di berbagai tempat. Ada kegembiraan yang sederhana, tetapi juga ada kebanggaan yang sulit dijelaskan. Kita sedang merayakan Indonesia.

Tahun ini, Indonesia memasuki usia ke-81 tahun. Usia yang tidak lagi muda bagi sebuah bangsa. Delapan puluh satu tahun perjalanan berarti delapan puluh satu tahun pula kita belajar menjadi bangsa yang merdeka. Kita telah melewati masa perjuangan, pergantian zaman, perubahan pemerintahan, krisis ekonomi, perkembangan teknologi, hingga perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” tentu bukan sekadar rangkaian kata yang indah untuk dipasang di spanduk-spanduk peringatan kemerdekaan. Tema ini seharusnya menjadi cermin. Sebab, setiap kali kita menyebut Indonesia berdaulat, adil, dan makmur, mungkin kita juga perlu bertanya pelan-pelan kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita benar-benar menuju ke sana?

Kemerdekaan memang telah diproklamasikan sejak lama. Tetapi menjaga kemerdekaan ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar memperingatinya.

Berdaulat: Tidak Sekadar Berdiri dengan Kaki Sendiri

Bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang mampu menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak mudah dipengaruhi, tidak gampang kehilangan jati diri, dan tidak selalu bergantung kepada pihak lain.

Namun, kedaulatan hari ini tidak hanya berbicara tentang wilayah negara yang dijaga oleh tentara atau batas-batas geografis yang dipertahankan. Kedaulatan juga menyangkut ekonomi, pangan, teknologi, pendidikan, bahkan cara kita berpikir.

Kita hidup di zaman ketika informasi datang tanpa henti. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita beli, apa yang kita sukai, bahkan bagaimana kita memandang diri sendiri, sering kali dipengaruhi oleh sesuatu yang datang dari luar.

Di tengah dunia yang semakin terbuka, Indonesia tentu tidak harus menutup diri. Kita harus belajar dari siapa pun dan bekerja sama dengan siapa pun. Tetapi belajar tidak berarti kehilangan identitas. Terbuka tidak berarti menyerahkan seluruh arah perjalanan.

Menjadi bangsa yang berdaulat berarti berani berkata, “Kami tahu siapa kami, kami tahu ke mana kami akan pergi, dan kami tidak ingin meninggalkan siapa pun dalam perjalanan itu.”

Di sinilah pendidikan menjadi sangat penting. Sebab, bangsa yang ingin berdaulat harus memiliki generasi yang mampu berpikir, bukan sekadar mengikuti. Generasi yang mampu menciptakan, bukan hanya menggunakan. Generasi yang memiliki ilmu, tetapi juga memiliki karakter.

Dan tugas membentuk generasi seperti itu, salah satunya berada di pundak para guru.

Ketika Kita Berbicara tentang Kemakmuran, Jangan Lupakan Guru

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang kadang terasa mengusik: bagaimana mungkin kita bermimpi tentang Indonesia Emas jika orang-orang yang setiap hari mendidik generasi emas masih harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Kita sering berbicara tentang pendidikan sebagai investasi masa depan. Kita membangun gedung, membuat berbagai program, menyusun kurikulum, mengadakan pelatihan, dan mendorong transformasi digital. Semua itu penting.

Tetapi pendidikan pada akhirnya tetap bertemu dengan manusia.

Ada guru yang datang ke sekolah sejak pagi, menyiapkan pembelajaran, menghadapi berbagai karakter peserta didik, memeriksa tugas, membuat administrasi, mengikuti rapat, mendampingi kegiatan sekolah, bahkan masih harus membawa pekerjaan pulang ke rumah.

Guru diminta kreatif. Guru diminta inovatif. Guru diminta adaptif terhadap teknologi. Guru diminta terus meningkatkan kompetensi. Guru diminta menjadi teladan.

Semua tuntutan itu memang tidak salah. Menjadi guru memang bukan pekerjaan biasa. Tetapi di tengah tuntutan yang semakin besar, ada persoalan yang tidak boleh terus-menerus kita abaikan: apakah kesejahteraan guru sudah benar-benar mendapat perhatian yang sepadan?

Persoalan ini terasa semakin dekat ketika kita berbicara tentang guru swasta.

Masih ada guru-guru swasta yang mengabdi bertahun-tahun dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Ada yang harus mencari pekerjaan tambahan setelah mengajar. Ada yang tetap datang dengan penuh tanggung jawab, meskipun di dalam hati mungkin sedang memikirkan biaya kebutuhan keluarga, pendidikan anak, cicilan, atau kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga

Petani: Pejuang Bangsa yang Terlupakan

Ironisnya, di depan kelas mereka tetap diminta tersenyum. Tetap mengajarkan semangat. Tetap menanamkan optimisme. Tetap berkata kepada murid-muridnya bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Ada sesuatu yang begitu mulia sekaligus menyentuh dari kenyataan ini. Banyak guru tetap bertahan bukan karena profesi ini menjanjikan kemewahan, tetapi karena mereka percaya bahwa mengajar adalah pengabdian.

Namun, kita juga harus jujur: pengabdian tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan kesejahteraan terabaikan. Guru boleh tulus, tetapi mereka juga manusia. Guru boleh ikhlas, tetapi mereka tetap memiliki kebutuhan. Guru boleh mengabdi, tetapi mereka juga berhak hidup dengan layak.

Jangan sampai kata pengabdian justru menjadi kalimat yang diam-diam membuat kita merasa cukup untuk memberikan penghormatan dalam kata-kata, tetapi lupa menghadirkan keadilan dalam kenyataan.

Pendidikan yang Adil Harus Dimulai dari Keadilan bagi Pendidik

Kita ingin pendidikan yang merata. Kita ingin semua anak Indonesia mendapatkan kesempatan belajar yang baik. Kita ingin tidak ada lagi kesenjangan yang terlalu jauh antara sekolah di kota dan sekolah di daerah.

Itu adalah cita-cita yang sangat mulia.

Namun, pendidikan yang adil seharusnya tidak hanya berbicara tentang peserta didik. Pendidikan yang adil juga harus memikirkan orang-orang yang menjalankan proses pendidikan itu setiap hari.

Seorang guru yang hidup dalam ketidakpastian tentu memiliki beban yang tidak ringan. Ketika kebutuhan hidup terus meningkat, sementara penghargaan terhadap pekerjaannya belum sebanding, maka ada persoalan yang seharusnya menjadi perhatian bersama.

Terutama bagi guru swasta Tidak sedikit lembaga pendidikan swasta yang juga bertahan dengan berbagai keterbatasan. Di satu sisi, lembaga harus terus meningkatkan mutu pendidikan. Di sisi lain, kemampuan finansial sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Akibatnya, guru berada di posisi yang serba sulit. Mereka dituntut profesional, tetapi kadang belum mendapatkan dukungan yang cukup untuk hidup secara profesional. Mereka diminta meningkatkan kualitas, tetapi masih harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan dasar. Mereka diminta mencetak generasi unggul, sementara kesejahteraan mereka sendiri masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang. Padahal, tidak ada bangsa yang benar-benar kuat jika para pendidiknya dibiarkan berjuang sendirian.

Memuliakan guru tidak cukup dengan mengunggah ucapan setiap Hari Guru. Menghormati guru tidak cukup dengan berdiri memberi tepuk tangan dalam sebuah seremoni. Penghargaan yang paling nyata adalah menghadirkan sistem yang membuat guru merasa aman, dihargai, dan memiliki masa depan.

Merdeka, Tetapi Sudahkah Merasa Merdeka?

Mungkin inilah salah satu pertanyaan yang layak kita renungkan di usia Indonesia yang ke-81 tahun.

Kita telah merdeka sebagai bangsa. Bendera kita berkibar. Lagu kebangsaan kita dinyanyikan. Kita memiliki pemerintahan sendiri dan menentukan perjalanan negara sendiri.

Tetapi kemerdekaan yang sesungguhnya seharusnya juga bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Merdeka dari ketakutan akan masa depan. Merdeka dari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Merdeka untuk memperoleh pendidikan yang baik. Merdeka untuk mendapatkan kesempatan yang adil. Merdeka untuk bekerja dan mendapatkan penghargaan yang layak.

Merdeka bukan berarti semua orang harus memiliki kehidupan yang sama. Tetapi kemerdekaan seharusnya membuka kesempatan agar setiap orang memiliki peluang untuk hidup secara bermartabat.

Karena itu, kata adil dalam tema HUT RI ke-81 terasa sangat penting. Keadilan bukan berarti semua orang mendapatkan jumlah yang sama. Keadilan berarti setiap orang mendapatkan haknya secara layak dan proporsional.

Guru, terutama guru swasta yang telah lama mengabdi, tentu tidak meminta diperlakukan istimewa. Mereka hanya ingin kerja keras dan pengabdiannya dipandang sebagai sesuatu yang berharga.

Mereka ingin hidup tanpa harus terus-menerus merasa cemas. Mereka ingin masa depan yang lebih pasti. Dan mungkin yang paling sederhana: mereka ingin merasa bahwa negara benar-benar hadir bersama mereka.

Makmur Bukan Sekadar Angka

Kemakmuran sering kali kita bayangkan dalam bentuk pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, gedung-gedung yang semakin tinggi, jalan yang semakin bagus, dan berbagai angka statistik yang menunjukkan kemajuan.

Semua itu tentu penting.

Tetapi kemakmuran sebuah bangsa seharusnya juga dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat biasa. Apakah seorang guru dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dengan layak? Apakah anak-anak dari keluarga sederhana tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik? Apakah masyarakat kecil dapat merasakan manfaat dari pembangunan? Apakah orang yang bekerja keras dapat berharap bahwa hidupnya akan menjadi lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat kata makmur menjadi lebih dari sekadar slogan.

Indonesia yang makmur adalah Indonesia yang kemajuannya tidak hanya terlihat dari pusat-pusat kota, tetapi juga terasa di sekolah-sekolah, di desa-desa, di rumah-rumah sederhana, dan dalam kehidupan mereka yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan.

Kemakmuran harus memiliki wajah manusia. Ia harus hadir dalam rasa tenang seorang ayah yang mampu membiayai keluarganya. Dalam senyum seorang ibu yang tidak lagi cemas memikirkan kebutuhan besok. Dalam harapan seorang guru yang merasa profesinya memiliki masa depan.

Jangan Biarkan Guru Hanya Menjadi Pahlawan dalam Ucapan

Kita semua tentu hafal ungkapan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kalimat itu indah dan penuh penghormatan.

Tetapi setelah puluhan tahun, mungkin sudah saatnya kita juga bertanya: apakah kita terlalu nyaman menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, sehingga lupa memberikan tanda penghargaan yang nyata?

Guru tidak membutuhkan kemewahan. Mereka tidak meminta untuk dimuliakan setiap hari. Tetapi kesejahteraan yang layak bukanlah kemewahan. Itu adalah bagian dari keadilan.

Indonesia membutuhkan guru yang terus belajar. Indonesia membutuhkan guru yang kreatif dan inovatif. Indonesia membutuhkan guru yang mampu menghadapi perubahan zaman.

Tetapi Indonesia juga membutuhkan keberanian untuk memastikan bahwa guru tidak terus-menerus diminta memberikan segalanya, sementara mereka sendiri harus berjuang keras untuk bertahan.

Jika pendidikan adalah jalan menuju Indonesia Emas, maka guru adalah salah satu orang yang setiap hari membuka jalan itu. Jangan sampai kita terlalu sibuk berbicara tentang masa depan anak-anak, tetapi lupa memikirkan masa depan orang-orang yang mendidik mereka.

Merayakan Kemerdekaan dengan Kejujuran

Usia 81 tahun seharusnya membuat kita tidak hanya pandai merayakan, tetapi juga berani melakukan refleksi.

Kita boleh bangga dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai Indonesia. Kita memang memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Bangsa ini terus bergerak, terus berkembang, dan terus belajar menghadapi berbagai tantangan. Tetapi rasa bangga tidak harus membuat kita menutup mata.

Justru karena mencintai Indonesia, kita harus berani melihat bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.

Cinta kepada bangsa bukan hanya berdiri tegap saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Cinta kepada bangsa juga berarti berani bertanya ketika ada ketidakadilan. Berani mengingatkan ketika ada yang terlewatkan. Berani memperjuangkan mereka yang suaranya jarang terdengar.

Termasuk suara para guru swasta yang selama ini tetap mengajar dalam berbagai keterbatasan. Mungkin tidak semua persoalan dapat selesai dalam satu tahun. Tidak semua kebijakan bisa langsung menjawab seluruh kebutuhan. Kita memahami bahwa membangun negara sebesar Indonesia bukan pekerjaan yang mudah.

Namun, langkah menuju keadilan harus terus berjalan. Dan langkah itu harus benar-benar dirasakan.

Indonesia yang Kita Impikan

Pada akhirnya, HUT RI ke-81 bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Ini juga tentang membayangkan masa depan.

Indonesia yang berdaulat bukan hanya negara yang kuat menjaga wilayahnya, tetapi juga bangsa yang kuat menjaga pikiran, budaya, ekonomi, dan masa depan generasinya.

Indonesia yang adil bukan hanya negara yang memiliki aturan, tetapi negara yang membuat masyarakat merasakan keadilan dalam kehidupan nyata.

Indonesia yang makmur bukan hanya negara dengan angka pertumbuhan yang tinggi, tetapi negara yang membuat rakyat kecil bisa hidup dengan lebih tenang dan bermartabat.

Dan Indonesia yang benar-benar maju adalah Indonesia yang tidak melupakan para guru. Sebab, di balik seorang dokter, ada guru. Di balik seorang pemimpin, ada guru. Di balik seorang ilmuwan, ada guru. Bahkan di balik kemajuan sebuah bangsa, selalu ada ruang kelas sederhana dan seorang guru yang pernah berdiri di depannya.

Maka, ketika merah putih kembali berkibar pada peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, mungkin kita tidak hanya perlu mengucapkan, Merdeka!”

Kita juga perlu bertanya:

Sudahkah kemerdekaan ini terasa cukup adil? Sudahkah kemakmuran benar-benar menjangkau mereka yang bekerja dalam senyap? Sudahkah guru, terutama guru swasta, mendapatkan penghargaan yang layak atas pengabdian mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu nyaman. Tetapi terkadang, sebuah bangsa justru tumbuh karena berani jujur terhadap dirinya sendiri.

Delapan puluh satu tahun bukan perjalanan yang pendek. Kita telah berjalan jauh. Namun, perjalanan masih panjang.

Semoga Indonesia tidak hanya semakin tua, tetapi juga semakin dewasa. Semakin kuat, tanpa menjadi lupa diri. Semakin maju, tanpa meninggalkan yang tertinggal. Semakin makmur, tanpa membiarkan sebagian rakyat terus berjuang sendirian.

Dan semoga suatu hari nanti, ketika kita kembali mengucapkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” kalimat itu bukan hanya menjadi tema perayaan. Tetapi benar-benar menjadi kenyataan yang dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka bukan hanya tentang mengenang perjuangan. Merdeka adalah tentang melanjutkan perjuangan agar keadilan dan kemakmuran benar-benar dapat dirasakan oleh semua.

Indonesia Berdaulat. Indonesia Adil. Indonesia Makmur. Merdeka!

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter