Oleh : Husen, S.Pd.I *)
Ketika kita berbicara tentang pejuang bangsa, pikiran kita mungkin langsung tertuju kepada mereka yang mengangkat senjata, turun ke medan perang, atau mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan.
Namun, perjuangan tidak selalu berlangsung di medan perang.
Ada perjuangan yang berlangsung setiap pagi di pematang sawah. Ada kepahlawanan yang tidak mengenakan seragam. Ada pengorbanan yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Mereka adalah para petani.
Dengan cangkul, benih, air, dan tanah, petani ikut menjaga keberlangsungan kehidupan bangsa. Mereka menanam bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk jutaan manusia yang membutuhkan pangan setiap hari.
Karena itu, petani sesungguhnya adalah pejuang bangsa.
KH Hasyim Asy’ari telah memberikan penghormatan yang luar biasa kepada kaum tani. Dalam salah satu tulisannya, beliau menyebut:
“Bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean.”
Beliau juga menegaskan bahwa petani adalah penolong negeri, pembantu negeri yang dapat dipercaya, bahkan “sendi tempat negeri didasarkan.”
Kalimat tersebut bukan sekadar penghargaan kepada petani. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa kekuatan sebuah negeri tidak hanya dibangun dari gedung-gedung pemerintahan, industri, teknologi, dan ekonomi. Ada satu kekuatan yang sangat mendasar: pangan.
Dan di balik pangan, ada petani.
Petani berjuang dalam sunyi. Ketika kebanyakan orang masih menikmati tidur, mereka mungkin sudah berada di sawah. Ketika matahari mulai meninggi, mereka tetap bekerja. Mereka menghadapi panas, hujan, lumpur, hama, ketidakpastian cuaca, mahalnya biaya produksi, dan berbagai persoalan lainnya.
Mereka menanam benih dengan harapan.
Mereka merawat tanaman dengan kesabaran.
Mereka menunggu panen dengan doa.
Tidak semua perjuangan mereka berakhir dengan keuntungan. Kadang panen gagal. Kadang harga hasil pertanian jatuh. Kadang biaya produksi lebih besar daripada hasil yang diterima. Tetapi kehidupan harus terus berjalan. Musim berikutnya mereka kembali turun ke sawah.
Bukankah itu sebuah bentuk kepahlawanan?
Seorang pejuang berjuang agar bangsa tetap merdeka. Seorang petani berjuang agar bangsa tetap makan.
Keduanya memiliki medan perjuangan yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki tujuan yang mulia: menjaga kehidupan bangsa.
Karena itu, jangan pernah memandang pekerjaan petani sebagai pekerjaan sederhana. Di balik tangan yang kasar terdapat jasa yang besar. Di balik pakaian yang penuh lumpur terdapat kehormatan. Di balik hasil panen yang sampai ke meja makan kita terdapat doa dan keringat yang tidak sedikit.
Hari Tani seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali rasa hormat kepada mereka.
Menghargai petani bukan hanya dengan memberikan ucapan selamat. Menghargai petani berarti menghargai pangan. Tidak membuang-buang makanan adalah salah satu bentuk penghormatan kepada petani. Membeli hasil pertanian dengan harga yang wajar juga merupakan bentuk penghargaan. Memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan dunia pertanian adalah bagian dari ikhtiar menjaga masa depan bangsa.
Baca Juga
Sebab bangsa yang tidak mampu menjaga petaninya, pada akhirnya sedang mempertaruhkan ketahanan pangannya sendiri.
Dawuh KH Hasyim Asy’ari tentang petani terasa semakin penting untuk direnungkan di tengah tantangan zaman. Ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia menyangkut kedaulatan sebuah bangsa.
Petani adalah orang-orang yang berada di garis depan dalam perjuangan tersebut.
Mereka mungkin tidak berdiri di podium. Mereka mungkin tidak mendapatkan penghargaan setiap hari. Nama mereka mungkin tidak tercatat dalam sejarah besar bangsa.
Tetapi setiap kali nasi tersaji di atas meja, sesungguhnya ada bagian dari perjuangan mereka yang hadir bersama kita.
Maka hari ini, mari kita menundukkan kepala sejenak untuk menghormati para petani.
Petani adalah pejuang bangsa.
Mereka berjuang dengan tanah sebagai medan pengabdian, cangkul sebagai alat perjuangan, benih sebagai harapan, dan panen sebagai persembahan bagi kehidupan.
Sebagaimana dawuh KH Hasyim Asy’ari, petani adalah “sendi tempat negeri didasarkan.”
Jika sendi itu kuat, bangsa akan berdiri kokoh. Jika petani sejahtera, ketahanan pangan akan semakin kuat.
Dan jika kita menghargai petani, sesungguhnya kita sedang menghargai salah satu kekuatan utama bangsa.
Untuk setiap petani yang pagi-pagi telah melangkah menuju sawah:
Terima kasih atas perjuanganmu. Engkau mungkin tidak membawa senjata, tetapi engkau membawa kehidupan.
Engkau mungkin tidak berada di medan perang, tetapi engkau sedang berjuang untuk bangsa.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Untuk para petani Indonesia, teruslah berjuang.
Tanah yang engkau garap adalah bagian dari tanah air. Benih yang engkau tanam adalah harapan bangsa. Dan hasil panen yang engkau persembahkan adalah salah satu bentuk nyata dari mengisi kemerdekaan.
Petani adalah pejuang bangsa. Sawah adalah salah satu medan perjuangannya. Dan ketahanan pangan adalah bagian dari kemerdekaan yang harus kita jaga bersama.
*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


