Memasuki sesi kedua hari ketiga Diklat Teknis Substantif Kepala Madrasah Angkatan VII Tahun 2026, para peserta mendapatkan penguatan materi “Re-Branding Madrasah” yang disampaikan oleh Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Dr. H. Muchammad Toha, S.Ag., M.Si., di Aby Hotel Lumajang, Rabu (5/8/2026).
Materi ini menjadi salah satu sesi strategis yang menekankan pentingnya membangun citra positif madrasah melalui kepemimpinan yang visioner, budaya mutu, dan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Menurut Dr. Muchammad Toha, re-branding bukan sekadar mengubah logo, slogan, atau tampilan fisik lembaga, tetapi merupakan proses membangun identitas, karakter, dan kepercayaan masyarakat terhadap madrasah.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa madrasah harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang mengintegrasikan keunggulan akademik dan nilai-nilai keislaman.
Baca Juga
Hari Ketiga Diklat Kepala Madrasah: Literasi Digital Jadi Kunci Transformasi Pendidikan Madrasah
“Re-branding madrasah adalah membangun persepsi positif masyarakat melalui kualitas layanan, prestasi, inovasi, dan karakter. Masyarakat tidak hanya melihat gedungnya, tetapi melihat mutu pendidikan yang dihasilkan oleh madrasah,” tegas Dr. Muchammad Toha.

Ia menjelaskan bahwa kepala madrasah memiliki peran sentral sebagai brand leader yang menentukan arah pengembangan lembaga. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang diambil harus mampu menghadirkan perubahan yang nyata dan memberi nilai tambah bagi peserta didik maupun masyarakat.
“Kepala madrasah harus menjadi agen perubahan. Jangan hanya mengelola rutinitas, tetapi ciptakan inovasi yang membuat madrasah memiliki ciri khas dan keunggulan sehingga dipercaya serta menjadi pilihan utama masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Muchammad Toha menekankan bahwa keberhasilan re-branding harus diawali dengan penguatan budaya kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelayanan prima, serta publikasi berbagai prestasi dan inovasi madrasah secara berkelanjutan.
Menurutnya, di era digital saat ini, setiap madrasah juga dituntut mampu membangun komunikasi publik yang efektif melalui berbagai media informasi agar berbagai program unggulan dan capaian madrasah dapat diketahui masyarakat secara luas.
Suasana pembelajaran berlangsung dinamis. Para kepala madrasah aktif berdiskusi mengenai strategi membangun citra positif lembaga, penguatan budaya mutu, hingga praktik-praktik baik yang telah diterapkan di madrasah masing-masing.
Salah satu peserta, Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul, Husen, S.Pd.I., menilai materi tersebut sangat relevan dengan upaya pengembangan madrasah yang terus dilakukan.
“Re-branding bukan sekadar membangun popularitas, tetapi membangun kepercayaan masyarakat melalui kualitas layanan pendidikan. Materi ini semakin memotivasi kami untuk terus menghadirkan inovasi, memperkuat budaya mutu, dan meningkatkan pelayanan sehingga MTs Miftahul Ulum 2 semakin dipercaya serta menjadi madrasah pilihan masyarakat,” ungkap Husen.
Ia menambahkan bahwa selama beberapa tahun terakhir MTs Miftahul Ulum 2 terus berupaya membangun identitas sebagai madrasah yang unggul melalui peningkatan prestasi peserta didik, pengembangan kompetensi guru, inovasi pembelajaran, penguatan literasi digital, serta publikasi berbagai kegiatan dan capaian madrasah melalui media digital.
Melalui materi Re-Branding Madrasah ini, para peserta diharapkan mampu menjadi pemimpin transformasi yang tidak hanya fokus pada tata kelola internal, tetapi juga mampu membangun citra positif, memperkuat kepercayaan publik, dan menghadirkan madrasah yang unggul, inovatif, serta berdaya saing di tingkat lokal, nasional, maupun global.


