Oleh; Amang Phillips Dayeng Pasewang, S.Sos *)
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh jutaan umat Islam di seluruh belahan dunia, baik anak-anak, dewasa, maupun orang tua. Di dalam bulan ini terkandung banyak keberkahan, rahmat, serta ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
Melengkapi untaian kemuliaan dan keagungan bulan Ramadhan, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting untuk dibahas, yaitu besarnya manfaat menjalankan ibadah puasa bagi kesehatan tubuh kita. Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa pada bulan Ramadhan ini kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjalankan ibadah puasa yang dimulai dari terbitnya fajar (waktu Shubuh) hingga terbenamnya matahari (waktu Maghrib) selama satu bulan penuh.
Manfaat puasa bagi tubuh tentunya sangat multi kompleks. Salah satu yang menjadi fokus pembahasan adalah detoksifikasi alami tubuh yang biasa disebut dengan “Autofagi”. Mekanisme pembersihan ini diyakini aktif dalam tubuh manusia pada saat berpuasa. Namun, banyak dari kita yang belum memahami apa sebenarnya Autofagi itu dan apa manfaatnya. Oleh karena itu, mari kita selami lebih dalam mengenai Autofagi.
Baca Juga
Belajar Matematika dari Ramadhan: Menghitung Makna di Balik Angka
Autofagi adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Yunani kuno yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Auto dan Phagos. Auto berarti diri sendiri, sedangkan phagos atau phagein berarti makan. Jadi secara harfiah, Autofagi berarti memakan diri sendiri. Secara definitif, Autofagi dapat diartikan sebagai proses biologis alami yang terjadi di dalam tubuh untuk “membersihkan diri”, yaitu dengan merombak, memecah, dan mendaur ulang komponen sel yang rusak atau tidak berfungsi.
Istilah Autofagi pertama kali dipopulerkan oleh Christian De Duve, seorang ahli biokimia peraih Nobel ilmiah yang berkebangsaan Belgia, sekitar tahun 1963. Bermula dari penelitiannya yang mendalam mengenai organel sel, beliau menemukan bahwa sel dapat “menelan” komponen dari sel lain yang rusak, tua, atau tidak berfungsi untuk dijadikan bahan baku (asam amino / asam lemak) maupun sebagai sumber energi bagi proses peremajaan sel baru (regenerasi sel).
Hal yang menarik dari uraian di atas adalah pertanyaan: kapan sel-sel dalam tubuh dapat melakukan proses memakan komponen sel yang lain, atau dengan kata lain kapan Autofagi terjadi?
Jawabannya adalah bahwa Autofagi dapat terjadi salah satunya karena dipicu oleh faktor “kelaparan”. Pada saat berpuasa, kita secara sadar melakukan proses “melaparkan diri”. Selama sekitar 12 jam atau lebih, tubuh tidak menerima asupan nutrisi apa pun. Dalam kondisi ini, sel-sel dalam tubuh terpaksa mencari jalan lain agar tubuh tidak kekurangan energi, yaitu dengan mengaktifkan proses Autofagi. Dengan demikian, tubuh memperoleh cadangan energi tambahan dari proses tersebut.
Bertolak dari pembahasan di atas, jelas bahwa Autofagi memiliki banyak kegunaan selain yang telah dipaparkan sebelumnya. Autofagi juga berfungsi untuk menghancurkan sel-sel yang berpotensi menjadi sel kanker, memperbaiki kinerja organ-organ tubuh seperti jantung dan hati, serta membantu mencegah penuaan dini. Hal ini terjadi karena ketika berpuasa, hormon stres yang diproduksi oleh tubuh dapat menurun secara drastis.
Demikianlah pembahasan singkat mengenai Autofagi, salah satu hikmah tersembunyi yang dapat dirasakan oleh orang yang menjalankan ibadah puasa. Semoga pada bulan Ramadhan ini kita semua dapat mengasah diri sebaik mungkin sehingga menjadi pribadi-pribadi yang sehat dan unggul secara rohani, serta menjadi insan yang lebih bertaqwa kepada Allah SWT dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.


