logo_mts192
0%
Loading ...

Level-level Puasa | Part 3

Share the Post:

Oleh: Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)

3) صوم خواص الخواص (puasa khususnya khusus) yaitu puasa hati dari keinginan hina dan pemikiran duniawi, serta menahannya dari selain Allah Azza wa Jalla secara keseluruhan dan dalam puasa ini menjadi batal dengan memikirkan selain Allah Azza wa Jalla dan hari akhir, serta memikirkan dunia kecuali perkara dunia yang ditujukan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan dunia. Sampai-sampai para أرباب القلوب (ahli hati) berkata: Barangsiapa yang di siang harinya keinginannya bergerak untuk berupaya mengatur apa yang akan dia gunakan untuk berbuka, maka dicatat baginya satu kesalahan, karena hal itu merupakan bentuk kurangnya kepercayaan terhadap keutamaan Allah Azza wa Jalla, dan kurangnya keyakinan terhadap rezeki-Nya yang telah dijanjikan.

Adapun puasa hati ini dalam praktiknya mencakup penjagaan pikiran dari segala khayalan yang menyimpang, seperti rencana-rencana duniawi yang berlebihan atau gelora nafsu yang tak terkendali. Hati dipaksa untuk berdiam hanya pada zikir Allah Azza wa Jalla, tafakur ayat-ayat-Nya, dan persiapan menyambut pertemuan dengan-Nya di akhirat. Batalnya puasa ini bukan hanya oleh pikiran buruk, melainkan juga oleh kekhawatiran rezeki yang menunjukkan lemahnya tawakal; sebaliknya, hati yang puasa benar-benar menyerahkan segala urusan kepada Rabbnya, sebagaimana burung-burung di langit yang terbang tanpa bekal selain rahmat-Nya. Para sufi menyebutnya sebagai “fana’ fi Allah”, di mana hati lenyap dari selain-Nya, sehingga siang puasa menjadi ladang ibadah murni tanpa campur aduk dunia.

Baca Juga

Level-level Puasa | Part 2

Pada level puasa ini adalah derajat para nabi, orang-orang shiddiq, dan para Muqarrabin (orang-orang yang dekat kepada Allah). Dalam pembahasan ini tidak diperluas dengan kata-kata melainkan membuktikannya dengan perbuatan. Karena hal itu merupakan kepasrahan total dengan segenap tekad kepada Allah Azza wa Jalla dan berpaling dari selain Allah SWT, serta menerapkan makna firman-Nya dalam surat Al-An’am: 91:

قُلِ اللّٰهُۙ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ ۝٩

Artinya : Katakanlah, “Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya (Al-An’am: 91).

Dalam ayat ini adalah perintah untuk meng_Esakan segala amal kepada Allah semata, meninggalkan manusia dalam urusan mereka yang fana. Para nabi seperti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkannya dengan puasa yang tak terganggu kekhawatiran, bahkan di tengah kelaparan Uhud atau Thaif; demikian pula shiddiqin seperti Abu Bakar as-Siddiq yang hatinya tak pernah goyah oleh harta. Ini menafsirkan bahwa puasa hati bukan sekadar menahan lapar, tapi pemurnian jiwa dari syirik kecil berupa ketergantungan pada sebab-sebab, sehingga puasa menjadi mi’raj ruhani menuju kedekatan Ilahi.

Demikianlah puasa hati sebagai puncak kesempurnaan ibadah Ramadhan, yang hanya diraih oleh hati yang pasrah total kepada Allah Azza wa Jalla, meninggalkan duniawi demi akhirat yang hakiki. Bukanlah kata-kata indah yang membuktikannya, melainkan perbuatan nyata dalam menjaga hati dari segala selain-Nya, sehingga siang puasa menjadi saksi keimanan kita. Maka, wahai jiwa yang berpuasa, jadikanlah derajat nabi dan shiddiqin sebagai tujuan, dengan tawakal penuh dan zikir tak putus, semoga Allah taqabbal minna wa minkum, menerima puasa kita, dan menyempurnakan hati kita dalam cahaya-Nya yang mulia Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter