logo_mts192
0%
Loading ...

Keluarga yang Hancur

Share the Post:
Keluarga yang Hancur

Karya :  Keyla Aura Krismadaini *)

Di sebuah desa kecil hiduplah seorang anak perempuan bernama Rina. Sejak kecil, hidup Rina tidak pernah benar-benar utuh. Ia terpisah dari kedua kakaknya dan kedua orang tuanya akibat perceraian. Perceraian itu terjadi karena ayah Rina berselingkuh saat ibunya sedang mengandung dirinya. Sejak saat itu, Rina diasuh oleh kakek dan neneknya.

Amarah sang ibu kepada ayah Rina begitu besar hingga tanpa sadar dilampiaskan kepada Rina—anak yang sama sekali tidak mengetahui apa pun. Dalam kemarahannya, sang ibu bahkan sempat berniat menggugurkan kandungannya dengan berbagai cara, salah satunya dengan memakan nanas muda. Namun Tuhan berkehendak lain. Rina tetap lahir ke dunia.

Saat Rina berusia empat bulan, ibunya menitipkannya kepada nenek dengan alasan akan pergi ke Malaysia untuk sementara waktu. Namun hari demi hari berlalu, tahun demi tahun berganti, hingga Rina menginjak usia 13 tahun, ibunya tak kunjung kembali.

Baca Juga

Depresi

Awalnya Rina berusaha bersabar. Ia percaya ibunya suatu saat akan datang menemuinya. Namun setelah lebih dari dua belas tahun menunggu tanpa kepastian, kesabarannya mulai habis. Dalam hatinya ia sering bertanya, “Apakah aku melakukan kesalahan? Mengapa Ibu meninggalkanku begitu lama?”

Rina merasa iri melihat teman-temannya yang masih bisa merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orang tua. Sementara dirinya hanya bisa mendengarkan cerita tentang keluarga bahagia yang tak pernah ia miliki.

Suatu hari, tante Rina menelepon kakak pertamanya, Anggun, yang tinggal di Banyuwangi.

“Assalamualaikum, Anggun?”
“Waalaikumsalam. Kenapa, Tan?”
“Lima hari lagi bisa ke sini tidak?”
“Ke Lumajang? Jauh, Tan.”
“Soalnya Tante mau menikah.”
“Baik, Tan. Aku usahakan izin dulu ke Mama.”
“Kalau sudah izin, kabari ya.”

Dua hari kemudian, ponsel tante Rina berbunyi. Rina yang melihatnya langsung berlari ke dapur.

“Tante! Tante! Ada pesan dari Kak Anggun!”
“Pelan-pelan, Rina. Jangan lari, nanti jatuh.”
“Kak Anggun boleh ke sini!”
“Alhamdulillah.”

Hari itu, ayah Rina pergi ke alun-alun Lumajang untuk menjemput Anggun, lalu menuju pesantren tempat Nabila, kakak kedua Rina, menimba ilmu. Anggun hanya diberi izin empat hari, sedangkan Nabila mendapat izin lima hari dari pesantrennya.

Setelah empat hari berlalu, Anggun meminta izin untuk pulang.

“Yah, sore ini antar aku ke alun-alun ya. Takut Mama marah kalau aku telat.”
“Besok saja, Nak. Sekalian antar Nabila ke pondok. Mama kamu pasti mengerti.”

Anggun ragu, namun akhirnya mengangguk.

Dua hari setelah Anggun kembali ke rumah ibunya, tante Rina menerima pesan.

“Tan, Mama tidak menyapaku karena aku telat pulang.”

Hati sang tante terasa perih. Ia pun membalas pesan itu.

“Kalau begitu, Anggun ke sini saja. Tinggal bersama Tante, Ayah, dan Nabila.”

Keesokan harinya, pukul dua dini hari, Anggun diam-diam keluar rumah. Di tengah jalan, dua pemuda menghampirinya.

“Kok sendirian, Kak? Mau ke mana?”
“Ke jalan raya depan,” jawab Anggun gugup.
“Mau dianterin?”

Meski ragu dan takut, Anggun akhirnya menerima tawaran itu. Sesampainya di jalan raya, ia mengucapkan terima kasih dan segera melanjutkan perjalanannya.

Saat tiba di rumah tante Rina, Anggun mengucapkan salam.

“Anggun sudah datang? Kok tidak ngabarin?”
“Tidak ada kuota, Tan.”
“Sudahlah. Tinggal di sini saja. Kamu lebih tenang di sini.”

Anggun hanya terdiam, menahan semua rasa sakit yang selama ini ia pendam.

Kini Anggun dan Nabila kembali berada di satu rumah. Hanya Rina yang masih terpisah dari kedua kakaknya—menjalani hidup dengan rindu yang tak pernah benar-benar usai.

Pesan Moral

Jangan pernah mengeluh tentang keadaan keluargamu.
Terkadang, keluargamu adalah keluarga yang diinginkan orang lain.

 *) Siswi Kelas 8 MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter