Karya: Faiqotul Jannah, Kelas VIII E
22 Oktober 2026 adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para santri. Hari Santri menjadi tanda perjuangan dan pengorbanan jiwa demi tanah air Nusantara. Hari itu menjadi bukti bahwa para santri berbakti kepada guru dan negara. Dengan menyebut nama Allah, mereka berjuang mati-matian di medan perang. Mereka adalah orang-orang yang tidak takut mati, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, dan orang-orang yang ingin terbebas dari belenggu penjajahan yang mencekam.
Perjuangan mereka dilakukan dengan ikhlas, tanpa paksaan. Mereka adalah orang-orang pemberani yang siap mengorbankan jiwa demi kemerdekaan. Mereka tidak gentar mendengar suara tembakan para penjajah yang mengerikan. Dengan keyakinan dan ketaatan kepada Allah Swt., mereka terus berjuang demi agama dan tanah air.
Namun, lihatlah kita sekarang! Kita adalah santri zaman now. Kita hidup bebas, tanpa teror penjajah yang mengerikan, tanpa aturan penjajahan yang mengekang, dan tanpa harus memikirkan tempat tinggal di tengah peperangan. Kita bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan tenang. Kita bisa belajar, mengaji, dan menuntut ilmu tanpa harus mempertaruhkan nyawa di medan perang.
Tetapi, ada sesuatu yang seolah mulai hilang dari diri kita: makna dari status kita sebagai seorang santri.
Seorang santri dikenal oleh masyarakat Indonesia karena ketaatannya dalam beribadah dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu agama. Santri juga dikenal karena akhlak dan kesopanannya. Namun, apakah pujian itu masih pantas kita dapatkan jika perilaku kita justru bertentangan dengan nilai-nilai kesantrian?
Saat ini, kita sebagai santri terkadang sudah melenceng dari arti kata santri yang sebenarnya. Coba kita pikirkan, apakah kita masih pantas mendapatkan pujian itu?
Mari kita lihat kehidupan sebagian santri zaman sekarang. Ada yang suka mengumbar aurat, mengunggah foto atau video dengan pakaian ketat dan tidak mengenakan hijab. Bahkan, ada pula yang mengunggah foto atau video bersama lawan jenis yang bukan mahramnya tanpa menjaga batasan pergaulan. Apakah itu yang dimaksud dengan taat kepada Allah? Apakah itu arti menjadi seorang santri yang sebenarnya?
Tentu bukan!
Menurut saya, kita sebagai santri sudah mulai melenceng dari julukan yang kita banggakan. Kita dikenal sebagai orang-orang yang taat beragama, tetapi terkadang justru melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama secara terang-terangan di media sosial. Tidakkah kita malu dengan status santri yang kita sandang?
Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai melupakan nilai-nilai kesantrian. Kita seharusnya merasa malu jika mendapat pujian dan sanjungan sebagai santri, tetapi perilaku kita justru mencoreng nama baik santri. Jangan sampai status yang seharusnya menjadi kebanggaan malah kita cemarkan sendiri.
Baca Juga
Jadi, sebagai seorang santri, kita harus menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, guru, dan pesantren. Meskipun tidak mudah, kita harus terus berusaha memperbaiki diri. Ingatlah, orang tua kita telah berjuang mati-matian untuk menafkahi dan menyekolahkan kita di pesantren. Mereka rela bekerja keras agar kita bisa mendapatkan ilmu dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Tidakkah kita merasa kasihan kepada mereka jika perjuangan itu justru kita balas dengan perilaku yang tidak mencerminkan seorang santri?
Mari kita jalani kehidupan sebagai santri dengan penuh tanggung jawab. Jagalah adab, perbaiki akhlak, gunakan media sosial dengan bijak, dan jangan pernah berhenti belajar. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri sebagai santri.
Ingatlah, menjadi santri bukan hanya tentang pakaian atau sebutan, melainkan tentang ilmu, akhlak, dan perilaku yang mencerminkan ajaran agama. Teruslah berusaha menjadi santri yang lebih baik dan serahkan segala urusan kepada Allah Swt., karena Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita semua.


