logo_mts192
0%
Loading ...

Saat Rasulullah memasuki Penghujung Ramadan

Share the Post:
Saat Rasulullah memasuki Penghujung Ramadan

Oleh : Husen, S.Pd.I *)

Ramadan tidak berakhir dengan pelan. Ia ditutup dengan kesungguhan. Di saat sebagian orang mulai lelah, Rasulullah ﷺ justru semakin menguatkan langkahnya.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila telah masuk sepuluh (malam terakhir Ramadan), Nabi ﷺ mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

Ada tiga gambaran yang begitu kuat dalam hadis ini.

Pertama, “mengencangkan kainnya.”
Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah isyarat kesungguhan total—menjauh dari kesibukan dunia, memusatkan hati hanya untuk Allah. Seakan-akan di sepuluh malam terakhir, tidak ada lagi ruang untuk kelalaian. Ini bukan waktu santai. Ini waktu penentuan.

Kedua, “menghidupkan malamnya.”
Bukan sekadar bangun, tetapi menghidupkan. Malam yang biasanya sunyi, menjadi penuh dengan doa. Waktu yang biasanya terlewat dalam tidur, berubah menjadi sujud panjang dan istighfar yang lirih. Rasulullah ﷺ tidak membiarkan malam-malam itu berlalu tanpa makna.

Baca Juga

Dua Kebahagiaan yang Dijanjikan

Ketiga, “membangunkan keluarganya.”
Inilah keindahan Islam. Ibadah bukan hanya urusan pribadi. Kesalehan tidak berhenti pada diri sendiri. Nabi ﷺ ingin keluarganya juga merasakan limpahan rahmat di malam-malam itu. Beliau tidak ingin berjalan menuju ampunan sendirian.

Bayangkan suasananya. Rumah yang sederhana, malam yang hening, seorang Nabi yang telah dijamin ampunan dosanya—namun tetap berdiri lama dalam shalat, tetap menangis dalam doa, tetap bersungguh-sungguh seperti seseorang yang sangat membutuhkan rahmat Tuhannya.

Lalu bagaimana dengan kita?

Kita yang masih penuh dosa. Kita yang masih banyak lalai. Kita yang belum tentu bertemu Ramadan berikutnya.

Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan terakhir di bulan yang mulia. Ia seperti garis akhir dalam sebuah perlombaan. Mereka yang ingin menang akan berlari lebih cepat, bukan melambat.

Ramadan bukan diukur dari bagaimana kita memulainya, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.

Jika di awal bulan kita masih banyak kurang, maka di akhir inilah waktu untuk memperbaiki. Jika di awal kita masih sibuk dengan urusan dunia, maka di akhir ini saatnya mengosongkan hati. Jika sebelumnya ibadah terasa biasa, maka kini saatnya meningkatkan kualitas.

Hadis ini bukan sekadar cerita tentang kebiasaan Nabi ﷺ. Ia adalah cermin bagi kita. Ia bertanya pelan, “Apakah engkau sungguh-sungguh menginginkan ampunan?”

Semoga ketika sepuluh malam terakhir datang, kita tidak termasuk orang yang justru melemah. Semoga kita mampu meneladani kesungguhan Rasulullah ﷺ—menguatkan tekad, menghidupkan malam, dan mengajak keluarga bersama dalam kebaikan.

Karena mungkin, di salah satu malam itu, ada Lailatul Qadar yang sedang menanti. Dan mungkin, di salah satu sujud yang panjang itu, ada takdir hidup kita yang sedang ditulis ulang dengan tinta rahmat.

*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter