Oleh : Muhammad Afif Umri, S.H. *)
Dalam suasana Ramadan, masjid lebih ramai, tilawah lebih sering terdengar, dan meja berbuka lebih hangat oleh kebersamaan. Dari luar, semuanya tampak indah. Namun Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan sebuah kenyataan yang membuat kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i)
Hadis ini seperti teguran lembut, tetapi dalam. Ia tidak menyalahkan puasanya. Ia tidak membatalkan ibadahnya. Namun ia mempertanyakan hasilnya. Apakah puasa itu benar-benar berbuah, atau hanya menyisakan rasa haus di tenggorokan dan perih di perut?
Kita semua mampu menahan makan dan minum. Bahkan anak kecil pun bisa belajar melakukannya. Tetapi puasa bukan sekadar soal fisik. Jika yang berubah hanya jadwal makan, sementara hati tetap keras, lisan tetap tajam, dan perilaku tetap lalai, maka mungkin benar—yang tersisa hanya lapar dan dahaga.
Ramadan bukan sekadar menahan yang halal. Ia adalah latihan meninggalkan yang haram. Ia bukan hanya mengosongkan perut, tetapi juga membersihkan hati.
Baca Juga
Betapa mudahnya berpuasa, tetapi betapa sulitnya menjaga akhlak. Kita mungkin berhasil tidak makan seharian, tetapi gagal menahan amarah. Kita mungkin tidak minum seteguk air pun, tetapi masih meminum aib saudara sendiri lewat ghibah. Kita menahan lapar, tetapi tidak menahan ego.
Di sinilah letak renungannya.
Puasa sejati adalah ketika seluruh diri ikut berpuasa. Mata berpuasa dari pandangan yang tak layak. Telinga berpuasa dari kabar yang tak bermanfaat. Lisan berpuasa dari kata-kata yang melukai. Hati berpuasa dari iri dan dengki.
Jika tidak, maka puasa hanya menjadi rutinitas tahunan—datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak perubahan.
Hadis ini bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi untuk membangunkan kesadaran. Ramadan adalah kesempatan emas. Sayang sekali jika ia berlalu tanpa makna. Sayang sekali jika kita melewati sebulan penuh perjuangan, tetapi tidak pulang dengan hati yang lebih bersih.
Setiap kali rasa lapar datang, tanyakan pada diri: “Apa yang sedang aku latih hari ini?” Setiap kali rasa haus terasa, bisikkan dalam hati: “Apakah jiwaku ikut berpuasa?”
Karena yang Allah nilai bukan sekadar kosongnya perut, tetapi tunduknya hati.
Semoga kita tidak termasuk orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Semoga puasa kita melahirkan kesabaran, kelembutan, dan ketakwaan. Dan semoga ketika Ramadan pergi, ia meninggalkan bekas dalam jiwa—bukan sekadar kenangan rasa haus, tetapi perubahan yang nyata dalam hidup kita.
*) Staf TU MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


