logo_mts192
0%
Loading ...

Ramadhan: Bulan Ampunan atau Sekadar Rutinitas?

Share the Post:
Ramadhan: Bulan Ampunan atau Sekadar Rutinitas?

Oleh: Husen, S.Pd.I *)

Sebagai orang Islam, jauh sebelum Ramadhan tiba atau lebih tepatnya ketika memasuki bulan Rajab, kita biasanya berdoa supaya mendapatkan berkah pada bulan tersebut, lalu pada bulan Sya’ban dan terakhir meminta kepada Allah Swt agar bisa sampai pada bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh panutan umat Islam, Nabi Muhammad Saw.

Dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan dan kebaikan yang dilakukan pada bulan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya. Sehingga Ramadhan adalah sebuah momen bagi umat Islam untuk melaksanakan kebaikan dan memohon ampunan.

Dalam bulan Ramadhan kita diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa. Ibadah puasa sendiri juga memiliki nilai istimewa di sisi Allah Swt. Sehingga dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman:

قال الله فيما حكاه عنه نبيه: كل حسنة بعشر أمثالها الى سبعمائة ضعف الا الصيام فانه لي وانا أجزي به

Setiap kebaikan akan dibalas 10 kali lipat hingga 700 kali lipat kecuali puasa, puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalas kebaikannya.

Artinya, puasa adalah ibadah spesial sampai Allah Swt memberikan balasannya dalam bentuk surprise. Dalam hadits qudsi yang lain Allah Swt membangga-banggakan orang yang berpuasa di hadapan para malaikat. Allah Swt berfirman:

أنظروا يا ملائكتي الى عبدي ترك شهوته ولذته وطعامه وشرابه من أجلي

“Wahai para malaikat, lihatlah hamba-Ku itu, ia meninggalkan syahwatnya, kelezatan, makanan dan minuman hanya karena Aku.”

Keterangan hadits ini bukan berarti menafikan lillah pada ibadah-ibadah yang lain, akan tetapi maksudnya puasa memiliki nilai lebih di sisi Allah Swt. Kata al-Ghazali, hal ini bisa terjadi karena dua alasan:

Puasa itu adalah perkara meninggalkan sesuatu, yang mana ini adalah sesuatu yang abstrak, tidak terlihat. Bisa saja seseorang yang mengaku puasa itu, bila dirinya hanya riya’/pamrih untuk makan saat sedang sendirian, tetapi orang yang sedang berpuasa tetap menahan diri dari hal yang membatalkan walaupun ia sendirian. Berbeda dengan shalat dan ibadah lainnya yang saat melakukannya rentan dimasuki riya’ dan pamrih.

Baca Juga

Ramadhan di Era Digital

Puasa adalah cara menaklukkan setan. Karena pintu masuk setan menggoda manusia melalui syahwatnya. Sedangkan syahwat hanya akan menguat bila ia dalam keadaan kenyang. Dengan demikian, melalui puasa (lapar) secara tidak langsung telah berusaha menutup pintu setan untuk menggoda manusia.

Dari penjelasan al-Ghazali ini, tidak heran bila Allah Swt menyiapkan balasan yang surprise bagi orang yang puasa dan membangga-banggakannya di hadapan para malaikat, karena ikhlas dan berpaling dari setan ialah sesuatu yang amat bernilai dalam Islam.

Sebagian ulama salaf juga ada yang begitu mengistimewakan dan lebih memperbanyak ibadah puasa daripada ibadah yang lain. Saat ditanya mengenai alasannya, beliau menjawab:

“Karena aku lebih senang Allah Swt melihatku dalam keadaan sedang berselisih dengan nafsuku yang mengajak makan dan minum daripada Allah Swt melihatku dalam keadaan kenyang lalu aku berselisih dengan nafsuku yang mengajak maksiat.”

Sehingga pada bulan Ramadhan ini ada dua hal agung yang berkumpul. Pertama ialah waktunya yang merupakan waktu istimewa. Kedua, amaliyah yang diwajibkan pada waktu itu juga adalah amaliyah yang istimewa. Pantas saja bila malaikat Jibril pernah berkata kepada Rasulullah Saw:

رغم أنف امرئ أدرك رمضان فلم يغفر له

Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi belum diampuni dosa-dosanya.

Kalau di bulan Ramadhan saja belum diampuni dosa-dosanya, lalu kapan ia akan diampuni dosanya?

Dan tanda diterimanya amaliyah dan diampuninya dosa-dosa saat bulan Ramadhan ialah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa setelahnya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk senantiasa mengamalkan apa pun yang dapat mendatangkan kecintaan dan ridha Allah Swt. Aamiin.

*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter