Oleh: Muhammad Said Fadhori, S.Pd.I *)
Setiap kali Idul Fitri tiba, suasana berubah menjadi lebih hangat. Rumah-rumah terbuka, tangan saling berjabat, dan kata maaf mengalir dari hati ke hati. Namun, di balik tradisi itu, ada pesan agung dari Rasulullah ﷺ yang sering kali luput dari perenungan.
Dalam hadits riwayat , Rasulullah ﷺ bersabda:
مَن كان يُؤمِنُ باللهِ واليَومِ الآخِرِ فليُكرِمْ ضَيفَه، ومَن كان يُؤمِنُ باللهِ واليَومِ الآخِرِ فليَصِلْ رَحِمَه، ومَن كان يُؤمِنُ باللهِ واليَومِ الآخِرِ فليَقُلْ خَيرًا أو ليَصمُتْ.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari)
Hadits ini terasa sangat hidup ketika kita memaknainya dalam konteks silaturahmi Idul Fitri.
Baca Juga
Idul Fitri: Waktu Terindah Menyambung yang Terputus
Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga tentang kembali kepada fitrah—hati yang bersih dan hubungan yang diperbaiki. Inilah saat terbaik untuk menjalankan perintah Nabi: menyambung silaturahmi.
Banyak di antara kita yang mungkin selama ini menunda untuk meminta maaf, menghubungi keluarga, atau menyelesaikan kesalahpahaman. Idul Fitri hadir seperti pintu yang terbuka lebar, memberi kesempatan untuk memulai kembali.
Silaturahmi saat Idul Fitri menjadi lebih dari sekadar kunjungan; ia adalah proses penyembuhan hati. Ketika kita mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin,” sejatinya kita sedang merajut kembali benang-benang kasih sayang yang sempat kusut.
Memuliakan Tamu: Tradisi yang Bernilai Ibadah
Di hari raya, rumah-rumah dipenuhi tamu. Dari keluarga dekat hingga kerabat jauh, bahkan tetangga yang jarang bertemu. Di sinilah ajaran Nabi ﷺ tentang memuliakan tamu menemukan wujudnya yang nyata.
Tidak harus dengan hidangan mewah. Senyuman, sambutan hangat, dan perhatian tulus sudah cukup menjadi bentuk penghormatan. Kadang, yang paling diingat bukanlah makanan yang disajikan, tetapi bagaimana seseorang merasa dihargai saat berkunjung.
Idul Fitri mengajarkan bahwa setiap tamu membawa keberkahan, dan setiap kunjungan adalah peluang mempererat ukhuwah.
Menjaga Lisan di Hari yang Suci
Momentum Idul Fitri juga menjadi ujian bagi lisan kita. Saat berkumpul, obrolan bisa mengalir ke mana saja. Di sinilah pesan Nabi ﷺ: “berkata baik atau diam” menjadi sangat penting.
Jangan sampai suasana yang seharusnya penuh maaf justru ternoda oleh sindiran, gosip, atau ucapan yang menyakitkan dan menyinggung perasaan meskipun dengan bahasa candaan, misal kapan nikah? Kapan punya anak? dan lain sebagainya. Sebaliknya, gunakan momen ini untuk menyampaikan kata-kata yang menyejukkan: doa, pujian, dan ungkapan kasih sayang.
Karena satu kalimat yang baik bisa menghangatkan hati, tetapi satu kalimat yang salah bisa merusak segalanya.
Oleh karena itu, sudah selayaknya momen yang suci ini diisi dengan tutur kata yang santun, penuh empati, serta menjunjung tinggi adab dalam berinteraksi, sehingga makna silaturahmi dapat benar-benar dirasakan oleh semua pihak.
Menghidupkan Makna, Bukan Sekadar Tradisi
Sering kali, silaturahmi Idul Fitri dijalankan sebagai rutinitas tahunan tanpa makna yang mendalam. Padahal, jika kita kembali pada panduan Rasulullah ﷺ, setiap langkah kita—berkunjung, menyambut tamu, hingga menjaga ucapan—bernilai ibadah.
Mari kita ubah cara pandang. Jadikan Idul Fitri bukan hanya tentang berapa banyak rumah yang kita kunjungi, tetapi seberapa banyak hati yang kita sentuh.
Mungkin ada saudara yang sudah lama kita jauhi. Mungkin ada luka lama yang belum sembuh. Idul Fitri adalah waktu terbaik untuk memulai kembali.
Karena pada akhirnya, silaturahmi bukan hanya menghubungkan manusia dengan manusia, tetapi juga menguatkan hubungan kita dengan Allah.
Dan di hari yang suci itu, ketika tangan saling berjabat dan hati saling memaafkan, kita tidak hanya merayakan kemenangan—kita sedang menghidupkan ajaran Nabi dalam kehidupan nyata.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


