Oleh : Fathur Rozy, SH *)
Merdeka dari apa?
Bukan sekadar dari belenggu penjajah
bukan hanya dari suara meriam yang menggelegar
bukan cuma dari tanda tangan di atas kertas
yang mengukuhkan nama bangsa di peta dunia
Merdeka dari apa?
Merdeka dari kebodohan yang membelenggu pikiran
agar tiada lagi mata yang buta akan kebenaran
agar tiada lagi mulut yang terkunci rapat
ketika keadilan diinjak-injak di bumi sendiri
Merdeka dari apa?
Merdeka dari kemiskinan yang merampas harapan
agar setiap anak bisa duduk di bangku belajar
agar setiap ayah bisa menatap masa depan dengan tenang
agar setiap ibu bisa tersenyum menatap meja makan yang penuh
Merdeka dari apa?
Merdeka dari kebencian yang memisahkan kita
dari prasangka yang memagari hati
dari ego yang menganggap diri paling benar
sementara saudara sendiri tertinggal di belakang
Merdeka dari apa?
Merdeka dari ketakutan untuk berkata jujur
dari kepasrahan pada keadaan yang salah
dari kebiasaan menyerah sebelum berjuang
dari rasa tidak berdaya yang mengendap di dada
Merdeka bukanlah akhir dari perjuangan
ia adalah pintu gerbang yang baru terbuka
dan pertanyaannya tetap berdiri tegak:
Merdeka dari apa?
Agar kita bisa merdeka untuk apa?
Untuk membangun negeri yang adil dan makmur
untuk mewariskan cahaya bagi generasi yang akan datang
untuk berdiri tegak di antara bangsa-bangsa lain
bukan dengan kekuatan senjata
melainkan dengan kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang
Itulah merdeka yang sesungguhnya —
bukan bebas dari segala sesuatu
melainkan bebas untuk melakukan segala hal yang baik.
*) Staf TU MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


