Meraih Semangat Idul Adha dengan Berkurban

.
Oleh: Muhammad Ro’uf, S.Pd *)

Sejatinya Hari Raya Idul Adha memang identik dengan berkurban. Qurban di sini disimbolkan dengan hewan ternak sapi atau kerbau, kambing atau domba, boleh juga unta. Makna dari berkurban ini tak lain adalah kita mengikhlaskan segala sesuatu yang melekat pada diri kita.

Seperti halnya Nabi Ibrahim AS yang lama tak kunjung dikaruniai keturunan, hingga lebih dari setengah abad penantian kemudian Allah SWT mengkaruniakan seorang putra yg soleh sebagai penyejuk hati. Dalam sebuah riwayat, suatu waktu Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim AS untuk berhijrah bersama istrinya Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail AS saat masih bayi dari Negeri Syam menuju sebuah lembah padang pasir yg tandus, tanpa ada sumber penghidupan di sana tak ada sumber air, tak ada pepohonan bahkan satu binatang pun yang hidup di sana.

Hingga akhirnya Nabi Ibrahim AS diutus Allah untuk melanjutkan perjalanannya dan harus meninggalkan sang istri dengan putranya di lembah tandus tersebut. Beliau yang sangat mencintai istri dan putranya tersebut bergejolak hatinya, bagaimana mungkin harus meninggalkan keluarganya yang lemah di tengah padang pasir, istrinya masih berkewajiban menyusui Nabi Ismail AS, sedangkan tidak ada sumber makanan dan minuman di sana untuk menambah nutrisi untuk ibu menyusui, dan bagaimana bayi Ismail AS nantinua apakah bisa bertahan hidup di sengat terpaan panas siang hari dan dinginnya angin malam. Namun, Nabi Ibrahim AS dengan keimanannya harus melaksanakan perintah Allah SWT dengan melanjutkan perjalanan.

Nabi Ibrahim AS pun berdoa agar Allah SWT memberikan sumber penghidupan di tempat keluarganya ditinggalkan. Dengan rahmat Allah SWT ditumbuhkanlah pepohonan dan kedamaian serta kesejahteraan di lembah tersebut hingga kini.

Siti Hajar yang mengikhlaskan kepergian Nabi ibrahim AS meninggalkannya demi perintah Allah SWT. Suatu waktu Siti Hajar kehausan dan meminum sisa bekal air yang dibawanya hingga habis, Ismail AS pun juga kehausan butuh untuk menyusu. ASI Siti Hajar sudah tak keluar lagi dikarenakan tidak ada lagi asupan makanan dan minuman. Bayi Ismail AS menangis kelaparan. Siti Hajar yang panik meninggalkan Ismail AS mencari air. Ia berlari kesana-kemari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah. Tidak sekali dua kali, ibu Hajar melakukannya hingga tujuh kali demi mendapatkan air. Usaha itu sia-sia, beliau tak kunjung mendapatkan air. Dengan kelelahan ia kembali pada sang putra Ismail AS dengan tetap mengharapkan rahmat Allah SWT, Siti Hajar melihat air memancar dari hentakan kaki Ismail AS yang menangis. Sontak ia bahagia melihat pancaran air tersebut, karena dengan air itu ia bisa melanjutkan hidup dengan sang putra.

Peristiwa Siti Hajar mencari air dari Shafa ke Marwah ini diabadikan pada serangkaian ritual ibadah haji, agar mereka yang beriman senantiasa jangan berpangku tangan menerima keadaan dan rahmat Allah SWT senantiasa diberikan kepada mereka yang mau berusaha. Sekarang lembah tersebut menjadi subur dan sejahtera berkat doa yg dipanjatkan Nabi Ibrahim AS, kita mengenalnya sebagai Kota Mekkah yang menjadi tempat peribadatan haji. Begitu mustajabnya doa Nabi Ibrahim dan harapan hidup Siti Hajar di kala logika mengatakan kemustahilan. Ikhlas menerima ketetapan Allah SWT dan tidak berhenti ikhtiar adalah bentuk dari keimanan yang hendak disampaikan dalam kisah ini.

Ketika Ismail AS tumbuh semakin besar, Nabi Ibrahim kembali diuji kesabarannya dengan wahyu dari Allah SWT agar mengorbankan miliknya, yaitu menyembelih putra kesayangannya untuk dipersembahkan pada Allah SWT. Begitu sedihnya hati beliau ketika mendapat mimpi tersebut. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa mimpi perihal itu datang hingga berulang beberapa kali. Nabi Ibrahim AS dengan perasaan sedih mendiskusikan maksud mimpinya kepada Ismail AS. Nabi Ismail pun menyutujuinya dan bersedia memenuhi perintah Allah SWT, karena menyadari mimpi tersebut merupakan wahyu dan perintah dari Allah SAW. Tiba saatnya hari yg telah ditetapkan untuk melaksanakan perintah yaitu penyembelihan Ismail AS. Nabi Ibrahim dan Ismail pun berangkat berjalan kaki ke sudut padang pasir. Sepanjang perjalanan setan menggoda mereka sekuat hati. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS pun menyadari godaan setan tersebut, kemudian keduanya melempari iblis-iblis tersebut dengan batu kecil (kerikil) agar menyingkir dari mereka – peristiwa ini juga diabadikan dalam rangkaian ibadah haji, lempar jumroh.

Ketika tiba di tempat penyembelihan di siapkanlah segala sesuatunya, pisau telah diasah setajam mungkin untuk menghindari rasa sakit berkepanjangan yang akan dialami Nabi ismail AS. Merebahlah Nabi Ismail AS di pangkuan ayahanda Nabi Ibrahim AS dan dengan menyebut Asma Allah azza wa jalla nabi yang bergelar bapak para nabi itu memulai menggoreskan pisau di leher putranya dengan berlinang air mata. Seketika itu pula Allah SWT mengganti Ismail AS dengan seekor domba yg disembelih langsung oleh Nabi Ibrahim AS. Nabi Ismail AS pun memanggil dan menepuk pundak ayahnya dari arah belakang.

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahilhamd. Betapa besar rahmat dan karunia Allah SWT pada hamba-Nya yang telah mengikhlaskan harta, jiwa dan raganya untuk dipersembahkan kepada Allah Tuhan semesta Alam. Begitu besarnya pengorbanan Nabi Ibrahim AS, beliau mengikhlaskan putra semata wayangnya yang telah dinantikan puluhan tahun untuk dipersembahkan pada Allah SWT.

Pada hakikatnya kehidupan ini memang bukan serta merta milik kita secara mutlak. Kita hanyalah hamba-Nya dan segala yang melekat pada diri kita hanyalah titipan, yang suatu saat kelak akan diambil lagi oleh pemiliknya. Lalu apa yg membuat kita merasa berat melakukan pengorbanan?

Pengorbanan dengan penuh keikhlasan merupakan wujud nyata penghambaan kita pada Sang Maha Hidup. Sepanjang hidup di dunia ini tiada yang kekal abadi. Harta, atribut sosial, dan gelar yang melekat pada diri ini sejatinya hanyalah titipan. Dan segala sesuatu tak ada artinya kecuali keimanan. Berbagilah dengan sesama untuk meraih ridho Allah SWT. Ikhlas dalam setiap perbuatan hingga derajat tertinggi hanya mengharapkan ridho ilahi. Tunjukkan ketauhidan kita dengan persembahan ibadah terbaik. Sesungguhnya Allah SWT akan ganti semuanya itu dengan rahmat-Nya yang tak terbatas. Semoga di Idul Adha 1443 H tahun ini kita senantiasa dapat memberikan yang terbaik tanpa menunggu dan menunda-nunda sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

Barakallahu fiikum…

*) Guru Bahasa Inggris MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *