logo_mts192
0%
Loading ...

Mengetuk Langit di Penghujung Ramadan

Share the Post:
Mengetuk Langit di Penghujung Ramadan

Oleh: Zainuddin, S.Pd.I., M.Pd *)

Ramadan perlahan berjalan menuju ujungnya. Hari-hari terasa cepat berlalu. Jika di awal bulan kita masih penuh semangat, kini kita berada di fase penentuan. Di sinilah letak rahasia terbesar Ramadan—malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

( رواه البخاري) تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ

Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)

Hadis ini bukan sekadar informasi waktu. Ia adalah undangan untuk bersungguh-sungguh. Kata taharrā berarti mencari dengan penuh kesungguhan, dengan perhatian, dengan harap yang dalam. Bukan sekadar menunggu, tetapi memburu dengan doa dan air mata.

Lailatul Qadar bukan malam biasa. Ia adalah malam ketika takdir tahunan ditetapkan. Malam ketika langit terasa lebih dekat. Malam ketika doa-doa lebih mudah menembus batas dunia. Satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan—lebih dari delapan puluh tahun ibadah.

Baca Juga

Algoritma Ramadhan yang Tidak Bisa Dilogikakan

Bayangkan jika seseorang diberi kesempatan mengulang hidupnya selama puluhan tahun dalam satu malam. Betapa ruginya jika ia melewatkannya begitu saja.

Namun Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan tanggal pastinya. Mengapa? Agar kita tidak hanya beribadah pada satu malam, lalu lalai di malam lainnya. Agar kita menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir. Agar hati kita tetap terjaga, bukan hanya tubuh kita yang terjaga.

Sepuluh malam terakhir adalah musim kesungguhan. Nabi ﷺ sendiri mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Itu tanda bahwa di penghujung Ramadan, kualitas lebih utama daripada kuantitas awal.

Mencari Lailatul Qadar sejatinya adalah mencari kedekatan dengan Allah.

Ia bukan sekadar berburu pahala besar. Ia adalah momen pengakuan diri: bahwa kita lemah, bahwa kita penuh dosa, bahwa kita sangat membutuhkan ampunan-Nya. Di malam-malam ganjil itu, mungkin ada doa yang selama ini tertahan akhirnya terucap. Mungkin ada air mata yang selama ini sulit jatuh akhirnya mengalir. Mungkin ada hati yang selama ini keras akhirnya melunak.

Tidak ada yang tahu pasti malam ke berapa ia hadir. Tetapi orang yang bersungguh-sungguh akan merasakan ketenangan yang berbeda. Malam terasa hening, hati terasa lapang, dan ibadah terasa ringan.

Jangan biarkan sepuluh malam terakhir berlalu dengan kelalaian. Jika di awal Ramadan kita masih tersibukkan oleh dunia, maka di akhirnya semoga kita lebih fokus pada akhirat. Jika di awal kita masih banyak kurang, maka di akhir mari kita sempurnakan.

Siapa tahu, di antara sujud yang panjang dan doa yang lirih itu, kita sedang berdiri di malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar. Bukan sekadar sebagai peristiwa waktu, tetapi sebagai titik balik kehidupan. Dan semoga ketika Ramadan benar-benar pergi, ia meninggalkan cahaya yang tetap menyala di hati kita sepanjang tahun.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter