logo_mts192
0%
Loading ...

Ketupat: Anyaman Tradisi, Anyaman Hati

Share the Post:

Oleh : Amang Phillips Dayeng Pasewang, S.Sos *)

Di tanah Jawa, Syawal tidak hanya hadir dengan gema takbir dan pelukan hangat, tetapi juga dengan sebuah simbol sederhana—ketupat. Ia bukan sekadar makanan, melainkan bahasa sunyi yang diwariskan para leluhur, penuh makna, penuh pesan, dan penuh cinta.

Ketupat, dalam filosofi Jawa, sering disebut “laku papat”. Empat langkah hidup yang mengajarkan manusia tentang perjalanan menuju Allah.

Pertama, lebaran—tanda usainya Ramadhan. Bukan sekadar berakhirnya puasa, tetapi momentum kembali kepada fitrah. Seperti bayi yang baru lahir, hati diharapkan bersih dari dosa.

Kedua, luberan—melimpah. Sebuah ajakan untuk berbagi. Sebab kebahagiaan sejati bukanlah pada apa yang kita simpan, tetapi pada apa yang kita berikan. Ketupat dihidangkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk tetangga, kerabat, bahkan siapa saja yang datang.

Baca Juga

Syawal: Saat Cinta Itu Dilanjutkan, Bukan Ditinggalkan

Ketiga, leburan—melebur dosa. Inilah inti dari Syawal: saling memaafkan. Ego yang keras dilunakkan, kesalahan yang menumpuk dilebur dalam keikhlasan. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi luka yang dipelihara.

Keempat, laburan—kesucian. Setelah hati dibersihkan, ia harus dijaga. Seperti dinding yang dilabur kapur putih, hati pun perlu dirawat agar tetap bersih, tetap bercahaya.

Lihatlah bentuk ketupat itu sendiri.

Anyamannya rumit, saling silang, seperti kehidupan manusia yang penuh lika-liku. Namun di dalamnya ada beras—lambang nafsu duniawi. Ia dibungkus, dikendalikan, tidak dibiarkan liar. Sebuah pesan halus bahwa manusia harus mampu mengendalikan dirinya.

Bentuknya segi empat mengingatkan bahwa ke mana pun manusia pergi, ia akan kembali kepada satu titik: Allah. Sementara makna lain mengajarkan tentang empat jenis nafsu dalam diri—ammarah, lawwamah, sufiyah, dan muthmainnah—yang semuanya harus diarahkan menuju ketenangan jiwa.

Ketupat juga tidak pernah berdiri sendiri. Ia hadir bersama santan—yang dalam bahasa Jawa disebut “santen”, diartikan sebagai “pangapunten” (permohonan maaf). Betapa indah, bahkan dalam hidangan pun terselip doa dan harapan agar manusia saling memaafkan.

Kerupuk yang menemani, melambangkan kesalahan masa lalu yang renyah—rapuh—dan bisa hancur jika kita mau saling membuka hati.

Tradisi ini bukan sekadar budaya. Ia adalah dakwah yang halus, sebagaimana para Walisongo dahulu menyampaikan Islam dengan kelembutan. Tidak menghapus tradisi, tetapi mengisinya dengan makna tauhid dan akhlak.

Lebaran Ketupat, yang biasanya dirayakan setelah enam hari puasa Syawal, seakan menjadi penutup yang manis. Ia bukan akhir, tetapi penguat—bahwa ibadah tidak berhenti di Ramadhan, dan kebersihan hati harus terus dijaga.

Di tengah dunia yang semakin modern, tradisi seperti ini mengingatkan kita untuk kembali. Kembali pada kesederhanaan, kembali pada kebersamaan, dan yang terpenting—kembali pada Allah.

Maka ketika kita menyantap ketupat, jangan hanya merasakan nikmatnya di lidah. Resapilah maknanya di hati.

Karena di balik anyaman janur yang sederhana, tersimpan pesan mendalam: tentang perjalanan hidup, tentang pengendalian diri, dan tentang pentingnya kembali kepada Yang Maha Suci.

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya—
bahwa sesuatu yang tampak biasa, ternyata mampu membawa kita lebih dekat kepada Allah.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter