Karya: Zahrotul Azizah *)
Al-Hikmah adalah pondok pesantren terbesar yang berdiri megah di kawasan Jakarta Selatan. Cabangnya tersebar di berbagai daerah, menjadikannya tempat menimba ilmu yang penuh wibawa dan harapan. Di sanalah ribuan santri belajar, tumbuh, dan menggantungkan cita-cita.
Suatu hari, pondok itu kedatangan ustad baru. Namanya Rizal. Usianya baru genap dua puluh tahun. Wajahnya teduh, sikapnya santun, dan sorot matanya memancarkan kesungguhan. Ia baru saja menyelesaikan masa pengabdiannya di Pondok Pesantren Pondok Pesantren Al-Hasany sebelum akhirnya ditugaskan di Al-Hikmah.
Langkahnya sedikit bergetar ketika pertama kali menaiki anak tangga menuju kelas III D Madin. Ia ditemani seorang ustad senior. Di balik pintu kelas itu, riuh suara santri terdengar jelas.
Begitu pintu dibuka, seisi kelas mendadak bersorak.
“Ustad baru!”
“Masyaallah…”
Rizal hanya tersenyum tipis—senyum yang sederhana, namun cukup membuat suasana mendadak hangat.
Ia berdiri di depan kelas.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab para santri serempak.
Dengan suara tenang, ia memperkenalkan diri. Ia akan menggantikan wali kelas sebelumnya. Tatapan para santri tertuju padanya—ada yang penasaran, ada yang kagum, ada pula yang sekadar tersenyum malu.
“Pelajaran apa sekarang?” tanyanya lembut.
“Fathul Mu’in, Tad!” jawab mereka kompak.
Rizal mengangguk. “Baik, kita mulai.”
Belum lama pelajaran berlangsung, bel istirahat berbunyi keras.
“KRING… KRING… KRING…”
Rizal melangkah keluar kelas, menuruni tangga menuju kantor Madin. Di sana, ia berdiskusi dengan ustad lain mengenai pelaksanaan Kwartal 1 yang akan digelar pada 25 Juli 2026. Waktu terasa cepat berlalu.
Bel masuk berbunyi lagi. Ia kembali ke kelas.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Ada yang tidak hadir hari ini?”
Calista, wakil ketua kelas, mengangkat tangan. “Ada, Ustad. Quena Oktavia.”
“Yang mana Quena Oktavia?” tanya Rizal, sedikit mengangkat alisnya.
“Itu, Tad… yang duduk di sebelah sana,” jawab Calista sambil menunjuk seorang gadis yang tertunduk tenang di bangkunya.
Pandangan Rizal sempat terhenti sejenak. Entah mengapa, ada sesuatu yang berbeda pada gadis itu. Wajahnya sederhana, namun sorot matanya menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.
“Baiklah, kita mulai pelajaran,” ujar Rizal, mengalihkan perhatiannya.
“Cerita saja, Tad!” seru para santri.
Rizal tersenyum kecil. “Kalau terus ingin cerita, kapan kalian siap menghadapi Kwartal?”
Kelas mendadak hening. Calista menegaskan, “Sudah, pelajaran saja.”
Pelajaran pun berlanjut, meski beberapa santri masih berbisik-bisik pelan.
Baca Juga
Satu minggu berlalu. Hari pertama Kwartal 1 tiba. Suasana pondok terasa berbeda. Para santri mengenakan seragam rapi dengan kalung tanda kelas masing-masing. Udara pagi terasa lebih tegang dari biasanya.
Pengawas memasuki ruangan.
“Assalamu’alaikum. Saya Ustad Firmansyah. Panggil saja Firman. Saya yang akan mengawasi kalian.”
Soal-soal dibagikan. Ada yang percaya diri, ada pula yang mulai gelisah.
Dua puluh menit kemudian, kepala sekolah Madin berkeliling memantau. Suasana tetap terkendali.
Namun di sela-sela kesibukan itu, ponsel Ustad Rizal bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Assalamu’alaikum, Tad. Ada di ruangan berapa?
Wa’alaikumussalam. 06.
Di absen ada yang bernama Quena Oktavia?
Ada, Ustad. Kenapa?
Tidak apa-apa. Terima kasih.
Rizal menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Hatinya berdesir tanpa alasan yang jelas.
Satu minggu setelah Kwartal.
Hasil ujian dibagikan. Beberapa santri bersorak gembira, sebagian lagi tertunduk kecewa. Di antara mereka, Quena menerima kertasnya dengan wajah tenang.
“Nilaimu bagus,” ucap Rizal pelan saat melewati bangkunya.
Quena menatapnya sebentar. “Terima kasih, Ustad.”
Hanya dua kalimat singkat. Namun sejak hari itu, entah mengapa, ada perasaan yang tumbuh diam-diam di hati Rizal. Bukan sekadar bangga pada muridnya, bukan pula sekadar simpati. Ia sendiri belum mampu menamai rasa itu.
Hari-hari berlalu. Interaksi mereka tetap dalam batas guru dan murid. Namun setiap kali Quena bertanya tentang pelajaran, Rizal merasakan sesuatu yang berbeda—sebuah getaran halus yang mengusik ketenangan hatinya.
Ia berusaha menepisnya. Ia sadar, ia adalah seorang ustad. Ada batas yang tak boleh dilanggar.
Waktu terus berjalan. Tahun-tahun berganti. Quena lulus dari Madin dengan prestasi yang membanggakan. Ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.
Rizal menyaksikan dari kejauhan—sebagai guru yang pernah mendidiknya.
Hingga suatu hari, takdir kembali mempertemukan mereka. Bukan lagi sebagai ustad dan murid. Melainkan sebagai dua insan dewasa yang sama-sama telah matang dalam berpikir dan merasa.
Pertemuan itu sederhana, namun penuh makna. Percakapan mereka tidak lagi tentang pelajaran, melainkan tentang kehidupan, tentang cita-cita, dan tentang masa depan.
Rizal menyadari, perasaan yang dulu pernah ia tekan ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Ia telah berubah menjadi keyakinan.
Dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan, Rizal menyampaikan niatnya kepada keluarga Quena. Bukan sebagai ustadnya, melainkan sebagai laki-laki yang ingin bertanggung jawab atas perasaannya.
Dan pada akhirnya, akad itu pun terlaksana.
Di hadapan wali dan saksi, Rizal mengucap ijab kabul dengan suara mantap. Tangannya sedikit gemetar, namun hatinya tenang.
Quena kini bukan lagi muridnya. Ia adalah pendamping hidupnya.
Cinta yang dahulu tumbuh dalam diam, kini berlabuh dalam ikatan halal.
Di Pondok Al-Hikmah, kisah itu menjadi cerita yang tak terlupakan—tentang pertemuan, kesabaran, dan takdir yang bekerja dengan caranya sendiri.
___________________
*) Siswi Kelas 9 MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


